Yusuf masuk penjara bukan karena mencuri atau membunuh, tetapi karena desakan istri pembesar yang memeliharanya dan karena doanya sendiri kepada Allah agar dijauhkan dari godaan para perempuan.
Yusuf dalam Penjara
Di penjara, Yusuf ditempatkan bersama para tahanan lain, kebanyakan penjahat, perampok, dan pembunuh. Namun, dari pergaulan dengan mereka, iman Yusuf justru semakin kuat, hatinya makin sabar, dan pengetahuannya tentang manusia makin luas. Ia pun semakin merasakan kebesaran Allah.
Selama di penjara, Yusuf banyak membantu sesama tahanan: merawat yang sakit, menasihati yang berdosa, dan mengajarkan ilmu serta hikmah yang suci. Suatu hari, turunlah wahyu pertama dari Allah yang menyatakan bahwa Yusuf telah diangkat menjadi nabi dan rasul-Nya.
Sejak itu, Yusuf mulai berdakwah di dalam penjara. Ia mengajak para tahanan untuk menyembah Allah dan menjauhi perbuatan jahat serta kemusyrikan. Ia menjelaskan bahwa dirinya diutus Allah untuk menuntun mereka ke jalan yang benar.
Suatu hari, masuklah dua orang pemuda ke dalam penjara—yang satu bekas tukang kebun raja, dan yang satu lagi bendahara raja. Setelah beberapa waktu di penjara, pada suatu malam keduanya mengalami mimpi yang aneh. Mereka gelisah karena tidak tahu arti mimpi itu dan ingin mengetahui maknanya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 157.
Kedua pemuda itu hanya berharap Nabi Yusuf yang menafsirkan mimpi mereka, karena mereka sangat mempercayainya. Selain itu, Yusuf adalah nabi dan rasul Allah, tentu dia memiliki pengetahuan tentang hal-hal gaib, termasuk arti mimpi.
Keesokan paginya, kedua pemuda itu datang menemui Nabi Yusuf.
Pemuda pertama, yang dulu tukang kebun raja, berkata, "Aku bermimpi berada di kebun kurma yang buahnya lebat dan hijau. Di tanganku ada gelas milik raja, dan dengan gelas itu aku memeras buah kurma untuk dijadikan air anggur."
Pemuda kedua, yaitu bendahara raja, berkata, "Aku bermimpi membawa keranjang di atas kepala yang penuh dengan roti dan makanan. Tiba-tiba burung-burung elang datang dan memakan semua roti dan makanan itu, lalu terbang pergi jauh."
Sebelum menafsirkan mimpi mereka, Nabi Yusuf terlebih dahulu berdakwah. Ia berkata, "Aku ini nabi dan rasul Allah. Aku akan menafsirkan mimpi kalian berdasarkan wahyu dari Allah, bukan seperti tukang tenung yang hanya menebak-nebak dengan bantuan setan. Wahyu Allah selalu benar dan pasti."
Kemudian Yusuf menjelaskan, "Arti mimpi pemuda pertama adalah ia akan segera dibebaskan dan kembali bekerja sebagai tukang kebun raja. Sedangkan arti mimpi pemuda kedua, ia akan dihukum salib, dan tubuhnya nanti akan dimakan burung-burung."
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 158.
Kepada pemuda yang akan dibebaskan, Nabi Yusuf berpesan agar ia menyampaikan kepada raja bahwa di penjara ada banyak orang tidak bersalah yang dihukum karena tuduhan palsu. Yusuf berharap raja mau memperhatikan hal itu.
Semua yang ditafsirkan Yusuf terbukti benar. Namun, setelah itu, Yusuf masih harus bertahun-tahun tinggal di penjara.
Yusuf Keluar dari Penjara
Suatu malam, raja bermimpi hal yang aneh hingga membuatnya gelisah. Ia ingin tahu arti dari mimpi itu, lalu memanggil semua ahli nujum dan para pembesarnya. Raja berkata, "Aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan oleh tujuh sapi kurus. Aku juga melihat tujuh tangkai gandum yang subur dan tujuh tangkai lainnya yang kering."
Namun, tak seorang pun bisa menafsirkan mimpi itu. Mereka hanya berkata bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur atau hasil dari pikiran sebelum tertidur.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 159.
Walaupun begitu, raja tetap gelisah. Ia merasa mimpinya itu sangat berbeda dari mimpi-mimpi biasanya. Belum pernah ia bermimpi seperti itu, dan ia juga belum pernah mendengar orang lain mengalaminya. Karena itu, ia sangat ingin tahu arti mimpi tersebut.
Ketika mantan tukang kebun raja mendengar kabar itu, ia langsung teringat kepada Yusuf di penjara — orang yang dulu menafsirkan mimpinya dengan tepat. Ia segera menghadap raja dan berkata, "Tuanku, di dalam penjara ada seorang pemuda yang bijak dan mampu menafsirkan mimpi dengan benar. Izinkan saya pergi menemuinya. Saya yakin akan kembali membawa jawaban untuk mimpi Tuanku."
Raja pun senang mendengar hal itu dan langsung menyuruhnya pergi menemui Yusuf. Sesampainya di penjara, tukang kebun itu berkata kepada Yusuf, "Wahai Yusuf, saudaraku yang mulia, aku datang meminta penjelasan tentang mimpi raja: tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, dan tujuh tangkai gandum subur serta tujuh tangkai yang kering. Tolong tafsirkan, agar semua orang tahu kelebihanmu dan negeriku dapat bersyukur atas kebaikanmu."
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 160.
Yusuf pun menjawab, "Negeri ini akan mengalami tujuh tahun penuh kemakmuran. Tanaman akan tumbuh subur, hewan ternak berkembang, dan semua orang hidup senang. Namun setelah itu, akan datang tujuh tahun masa sulit. Tanaman tidak tumbuh, ternak tidak berkembang, cuaca panas dan kering, air berkurang, dan manusia menderita kelaparan. Setelah masa sulit itu berlalu, akan datang lagi masa kemakmuran dan ketenangan, di mana tanaman dan ternak kembali subur, dan negeri bisa diperbaiki kembali. Karena itu, selama tujuh tahun yang makmur, simpanlah gandum sebanyak mungkin, biarkan tetap di tangkainya agar awet. Makanlah secukupnya saja, supaya persediaan bisa dipakai untuk menghadapi tujuh tahun masa sulit nanti."
Setelah mendengar penjelasan ini, raja kagum karena Yusuf memiliki pemikiran yang jauh ke depan. Raja pun memerintahkan agar Yusuf dibawa menghadap kepadanya, berharap Yusuf bisa memberikan nasihat lain yang berguna untuk negara.
Utusan raja kembali ke penjara dan berkata kepada Yusuf, "Raja memanggilmu. Ia ingin mendengar nasihatmu dan ingin mengangkatmu ke kedudukan yang tinggi."
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 161.
Dengan tenang, Yusuf memenuhi panggilan raja. Ia keluar dari penjara gelap tempat ia tinggal bertahun-tahun, tanpa melihat sinar matahari atau bulan, makan makanan penjara yang sederhana, dan tidur di atas tikar di lantai pasir.
Namun sebelum keluar, Yusuf meminta agar raja memanggil semua perempuan yang dulu memotong tangan mereka sendiri. Yusuf ingin menjelaskan bahwa ia tidak bersalah. Justru merekalah yang salah.
Raja pun memanggil para perempuan itu dan berkata, "Apa pendapat kalian tentang Yusuf? Aku akan membebaskannya."
Para perempuan itu menjawab bahwa Yusuf adalah pemuda yang suci dan tidak bersalah. Lalu istri pembesar yang dulu menggoda Yusuf pun mengaku, "Yusuf terlalu lama dipenjara tanpa kesalahan. Aku yang bersalah karena tidak bisa menahan nafsu. Yusuf selalu menjaga kehormatanku dan kehormatan suamiku. Aku yang membuat dia dipenjara, aku yang menyusahkan hidupnya. Aku yang menggodanya, dan dia menolak."
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 162.
Nabi Yusuf Diangkat Menjadi Menteri Mesir
Setelah para perempuan dan istri pembesar itu mengakui kebenaran, nama Nabi Yusuf benar-benar bersih dari semua tuduhan. Bahkan bukan hanya bersih—namanya semakin harum di mata masyarakat. Semua orang yang pernah bersama Yusuf di penjara juga menceritakan kebaikan akhlaknya.
Mendengar semua itu, raja semakin kagum. Ia ingin Yusuf bekerja bersamanya dan menjadikannya orang kepercayaan. Raja berkata: "Aku telah melihat sendiri budi pekertimu, kecerdasanmu, dan pengetahuanmu. Mulai hari ini, aku mengangkatmu sebagai penasehat utama dan orang yang kupercaya. Engkau memiliki wewenang untuk memperbaiki urusan negara dan memajukannya sesuai pertimbanganmu. Semua aku serahkan kepadamu."
Nabi Yusuf pun menerima tanggung jawab itu. Karena ia sudah tahu melalui takwil mimpinya bahwa akan datang masa kemakmuran disusul masa kelaparan panjang, ia meminta jabatan yang mengurus persediaan makanan, ekonomi, dan keuangan negara. Yusuf yakin, dengan kekuasaan itu ia bisa menyelamatkan rakyat Mesir dari bencana kelaparan yang akan datang.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 163.
Permintaan Nabi Yusuf dikabulkan sepenuhnya oleh raja. Yusuf menjadi menteri dengan kekuasaan penuh. Begitulah Allah mengangkat derajat Yusuf setelah bertahun-tahun ia hidup di penjara. Semua aturan yang dibuatnya dijalankan rakyat dengan patuh. Ia menjadi tokoh yang dicintai rakyat dan dihormati negara-negara tetangga, meskipun sebelumnya ia pernah dipenjara, dibuang ke sumur, dan dijual sebagai budak.
Selama tujuh tahun menjabat, Nabi Yusuf menjalankan rencana ekonomi yang sangat baik. Mesir semakin makmur, rakyatnya bersatu dan disiplin. Pada masa itu, Yusuf memerintahkan untuk menyimpan gandum sebanyak-banyaknya sebagai persiapan menghadapi tujuh tahun masa paceklik yang akan datang.
Ketika masa tujuh tahun kekeringan tiba, tanah menjadi kering, tidak ada air, dan tanaman serta hewan banyak yang mati. Banyak negeri mengalami kelaparan. Namun berkat persediaan yang telah disiapkan Yusuf selama tujuh tahun sebelumnya, tidak ada rakyat Mesir yang mati kelaparan.
Kesusahan itu juga menimpa negeri-negeri di sekitar Mesir, termasuk Kan'an, tempat tinggal Nabi Ya'qub dan anak-anaknya. Di saat banyak negeri menderita, Mesir tetap stabil dan makmur. Semua orang tahu bahwa itu karena Mesir dipimpin oleh seorang menteri yang sangat pintar, adil, dan berakhlak mulia—Nabi Yusuf.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 164.
Karena itu, bangsa-bangsa di sekitar Mesir, meskipun berbeda suku dan warna kulit, datang meminta bantuan ke Mesir untuk menyelamatkan rakyat mereka dari kelaparan.
Suatu hari, Nabi Ya’qub yang sudah tua dan matanya buta berkata kepada anak-anaknya, “Hai anak-anakku, kesusahan ini juga akan menimpa kita. Pergilah ke Mesir. Di sana ada seorang pemimpin yang sangat adil dan bijaksana. Namanya terkenal ke mana-mana karena ia mampu menjaga Mesir tetap makmur di saat negeri lain kelaparan. Mintalah bantuan kepadanya. Tetapi jangan bawa Bunyamin. Biarlah dia tinggal bersamaku di rumah. Dialah yang menjadi penghiburku ketika kalian tidak ada. Semoga Allah menjaga kalian dalam perjalanan dan memberi petunjuk kepada jalan yang benar.”
Kemudian, suatu hari, penjaga ruang kerja Yusuf mengetuk pintu dan berkata, “Tuan, di luar ada sepuluh orang laki-laki. Dari penampilan dan wajah mereka, tampak mereka datang dari negeri jauh. Mereka terlihat bingung seperti orang baru di sini. Mereka meminta izin untuk bertemu dengan Tuan dan menyampaikan keperluan mereka.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 165.
Daftar Isi:
- Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 1
- Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 2
- Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 3
Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur'an:
- Yusuf ayat 3-104
- Al-Mukmin ayat 34
*Thumbnail postingan ini bersumber dari: id.wikipedia.org, yang kemudian diedit oleh Reza.
