Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 3: "Kehidupan dan Tantangan di Bumi"

Reza
0

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Dalam ajaran Islam, Adam bukan hanya manusia pertama, tapi juga seorang nabi dan rasul. Karena itu, umat Islam wajib beriman bahwa para nabi dan rasul bersih dari dosa. Sebagian orang salah paham dengan mengatakan bahwa kesalahan Adam diwariskan sebagai "dosa asal" kepada semua keturunannya. Padahal, setiap manusia lahir dalam keadaan suci tanpa dosa, meski orang tuanya berdosa. Tidak adil jika dosa orang tua ditanggung anak. Dosa seseorang baru ada setelah ia balig dan berakal, karena perbuatannya sendiri.

Menganggap Nabi Adam berdosa besar hanya untuk menarik pengikut agama tertentu adalah tuduhan yang keliru dan perbuatan tercela.

Kisah Adam dalam Al-Qur’an adalah pelajaran bagi manusia bahwa meski kita makhluk yang mulia, kita tetap punya kelemahan, salah satunya sifat pelupa. Ketika lupa, iblis bisa menyesatkan kita. Karena itu, kita harus selalu waspada agar tidak tergoda oleh iblis.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 29.

Mulai Hidup Berketurunan

Adam dan Hawa sangat terkejut ketika turun ke bumi. Perbedaannya dengan surga sangat besar, bagaikan siang dan malam.

Mereka melihat bumi dipenuhi hutan lebat dengan pohon besar dan berbagai binatang buas, seperti singa, harimau, beruang, dan ular. Karena takut, mereka mencari tempat bersembunyi dan akhirnya menemukan sebuah gua luas di dataran tinggi untuk menetap.

Namun, rasa lapar dan haus memaksa mereka keluar mencari air dan buah. Tidak semua air bisa diminum dan tidak semua buah bisa dimakan—ada yang pahit atau beracun, ada pula yang manis dan enak. Hidup di bumi ternyata penuh perjuangan, membutuhkan tenaga, pikiran, dan kerja keras.

Setiap kali lapar dan haus, mereka harus berulang kali mencari makanan sambil waspada terhadap binatang buas. Kehidupan di bumi pun mereka sadari selalu berganti-ganti: ada senang dan susah, dingin dan panas, sehat dan sakit, kenyang dan lapar.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 30.

Adam dan Hawa mengalami banyak penderitaan di bumi, seperti haus, lapar, dan ancaman binatang buas. Hal itu membuat mereka berpikir bagaimana cara bertahan hidup.

Adam lalu berinisiatif menanam pohon buah di sekitar gua agar tidak perlu masuk ke hutan yang berbahaya. Ia menebas semak dengan kayu dan memindahkan pohon berbuah enak ke sekitar tempat tinggal. Untuk itu, Adam harus bekerja keras, menguras tenaga dan pikiran. Hawa pun ikut membantu dengan sekuat tenaga.

Setelah bertahun-tahun, mereka akhirnya bisa bercocok tanam dan mulai beternak kambing serta ayam.

Turunan Pertama

Kemudian, dalam kehidupan rumah tangga mereka, Hawa hamil dan melahirkan anak kembar: seorang laki-laki bernama Qabil dan seorang perempuan bernama Iqlima.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 31.

Adam dan Hawa sangat bahagia saat anak kembar pertama mereka lahir. Kini jumlah keluarga mereka bertambah dari dua menjadi empat orang.

Hawa sibuk mengasuh kedua anaknya, sehingga tidak bisa lagi membantu Adam bercocok tanam atau menggembala. Adam pun bekerja sendirian. Setiap sore, ia pulang ke gua dengan membawa makanan untuk dimakan bersama keluarga. Kebahagiaan mereka membuat lelah dan rasa takut pada binatang buas sedikit terlupakan.

Setahun kemudian, Hawa kembali hamil dan melahirkan sepasang anak kembar lagi: Habil dan Labuda. Keluarga mereka semakin ramai, dan Adam serta Hawa semakin bersemangat bekerja untuk mencari nafkah.

Tahun demi tahun, anak-anak mereka terus bertambah. Adam harus bekerja lebih keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga yang semakin besar.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 32.

Seiring waktu, Adam dan Hawa semakin tua, sementara anak-anak mereka tumbuh menjadi dewasa. Qabil dan Habil kini sudah menjadi pemuda. Mereka mulai merasa wajib membantu orang tua dengan bekerja, bertani, menggembala, mencari makanan, serta melindungi adik-adik dari bahaya binatang buas.

Tampak pula perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan. Anak laki-laki lebih suka bekerja di luar rumah: bertani, berburu, dan beternak. Sedangkan anak perempuan lebih banyak membantu di rumah: memasak, mengurus adik, dan mengatur kebutuhan rumah tangga.

Meski Qabil dan Habil sama-sama laki-laki, tumbuh di keluarga dan lingkungan yang sama, sifat dan kondisi mereka berbeda karena kehendak Allah. Qabil, meski anak sulung, tubuhnya lebih kecil, lemah, dan sifatnya kasar. Sementara Habil, meski lebih muda, tubuhnya kuat, besar, dan tabiatnya lembut serta penuh kasih.

Adam pun mulai membagi tugas. Qabil diberi pekerjaan bertani: mencangkul tanah dan menebas hutan belukar, karena pekerjaan itu tidak menuntut kelembutan perasaan.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 33.

Habil yang berhati lembut diberi tugas oleh Adam untuk memelihara ternak, seperti kambing dan sapi. Binatang itu butuh kasih sayang karena bisa merasakan lapar, haus, sakit, dan senang.

Setiap pagi, Adam, Qabil, dan Habil keluar dari gua untuk bekerja. Qabil pergi ke ladang dan hutan untuk mencangkul, menanam, atau memanen. Habil menuju padang rumput menggembala ternak. Sementara Adam kadang berburu atau mencari ikan dan air untuk kebutuhan keluarga.

Menjelang sore, mereka kembali ke gua. Qabil membawa hasil ladang, Habil membawa susu, dan Adam membawa hasil buruan. Hawa lalu memasak semuanya, dan mereka makan bersama.

Setelah makan, Adam mengingatkan anak-anaknya untuk selalu bersyukur kepada Allah atas rezeki yang diberikan.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 34.

Adam berkata kepada anak-anaknya, “Lihatlah, kita ada karena Allah menciptakan kita. Allah juga menciptakan bumi yang luas ini untuk tempat tinggal kita. Siang diberi cahaya matahari, malam diberi bulan dan bintang. Allah menumbuhkan tumbuhan dan memperbanyak binatang agar menjadi rezeki kita. Karena itu, marilah kita menyembah-Nya dan bersyukur atas semua nikmat-Nya.”

Untuk menguji iman dan rasa syukur Qabil dan Habil, Adam menyuruh mereka membawa sebagian hasil kerja masing-masing ke puncak gunung. Hasil itu diletakkan di sana sebagai kurban agar bisa dimakan makhluk Allah yang membutuhkan, seperti binatang yang lapar atau haus. Adam menyebutnya sebagai ibadah, kurban, dan zakat.

Habil menerima perintah itu dengan tulus, karena hatinya lembut dan ia sadar betapa besar nikmat Allah. Sementara Qabil menentang dalam hati. Ia merasa kurban itu sia-sia, bahkan bodoh. Ia berkata dalam hatinya, “Betapa susahnya mencari rezeki. Mengapa harus diberikan begitu saja untuk dimakan binatang yang tidak ada gunanya?”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 35.

Iblis yang sudah dibuang ke bumi mulai menjalankan tipu dayanya untuk menyesatkan manusia. Habil tidak terpengaruh, tetapi Qabil mudah dipengaruhi iblis karena hatinya lemah dan cinta pada harta.

Saat berkurban, Habil memilih kambing terbaiknya, menyembelihnya, lalu meletakkannya di puncak gunung sebagai tanda syukur kepada Allah. Qabil, meski terpaksa, juga berkurban, tetapi ia hanya membawa buah-buahan jelek dan setengah busuk.

Keduanya meletakkan kurban di puncak gunung dengan harapan diterima Allah. Esok harinya, Adam bersama Qabil dan Habil pergi melihat hasilnya. Kurban Habil sudah hilang, tanda Allah menerimanya. Sedangkan kurban Qabil masih ada dan makin busuk, tanda Allah menolaknya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 36.

Daftar Isi:

  1. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 1: "Awal Kejadian"
  2. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 2: "Ujian dan Kejatuhan"
  3. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 3: "Kehidupan dan Tantangan di Bumi"
  4. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 4: "Kasus Pembunuhan Pertama Manusia, Terbunuhnya Habil"

Kisah Nabi Adam dalam Al-Qur'an:

  1. Al-Baqarah ayat 29-30
  2. Al-A'raf ayat 11-13
  3. Thaha ayat 116-117
  4. Al-Isra' ayat 61-65
  5. Al-Hijr ayat 28-43
  6. Shad ayat 71-75
  7. Fushilat ayat 9-12
  8. Al-Maidah ayat 31-35

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Sumber Thumbnail: id.wikipedia.org.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)