Iblis bisa diibaratkan seperti kegelapan, sedangkan iman dan petunjuk Allah bagaikan cahaya. Jika sebuah tempat tanpa cahaya, pasti gelap. Tapi saat cahaya masuk, kegelapan pun hilang. Begitu pula manusia: jika kosong dari iman dan petunjuk Allah, ia akan dikuasai iblis. Namun, jika imannya kuat dan selalu berpegang pada petunjuk Allah, maka iblis tidak akan mampu menyesatkannya.
Allah mengajarkan kepada Adam pengetahuan dasar untuk hidup di bumi, termasuk nama-nama segala sesuatu. Hal ini untuk menunjukkan kepada malaikat bahwa manusia layak menjadi khalifah dan pantas dihormati.
Allah kemudian mengumpulkan Adam dan para malaikat, lalu berfirman, “Sebutkan nama dari benda-benda di bumi ini jika kalian mengetahuinya.”
Para malaikat menjawab dengan rendah hati, “Maha Suci Engkau, ya Allah. Kami tidak tahu kecuali apa yang Engkau ajarkan. Hanya Engkaulah yang Maha Mengetahui.”
Allah lalu memerintahkan Adam, “Hai Adam, sebutkan nama benda-benda itu.” Dengan sigap, Adam pun menyebutkan nama-nama benda di hadapan para malaikat.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 20.
Allah berfirman kepada para malaikat, “Bukankah Aku sudah katakan bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, serta segala yang kalian nyatakan maupun sembunyikan?”
Adam kemudian ditempatkan di surga. Semua makanan, minuman, dan apa pun yang ia inginkan tersedia. Namun, Adam tetap merasa sepi, karena ia hidup sendirian. Sebagus apa pun tempatnya dan seenak apa pun makanannya, manusia tetap membutuhkan teman untuk berbagi rasa, suka maupun duka. Itulah yang belum dimiliki Adam, meski ia sudah berada di surga.
Allah mengetahui kesepian Adam. Karena itu, Allah menciptakan pasangan untuknya, seorang perempuan, agar menjadi teman hidup sekaligus istrinya. Tujuan yang lebih besar adalah agar manusia bisa berkembang biak, memenuhi bumi, dan memulai sejarah peradaban.
Saat Adam tertidur, Allah menciptakan Hawa. Ketika Adam terbangun, ia melihat seseorang berdiri di sampingnya—sosok yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Adam pun mempersilakannya duduk dan bertanya, “Siapakah engkau? Siapa namamu?”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 21.
Hawa menjawab, “Aku adalah perempuan, dan aku belum tahu namaku.”
Adam sangat gembira melihatnya. Ia lalu berkata, “Engkau akan kupanggil Hawa, artinya orang yang aku rindukan.”
Para malaikat pun bertanya, “Siapa nama temanmu itu, Adam?”
“Namanya Hawa,” jawab Adam.
Sejak hadirnya Hawa, kesepian Adam hilang. Mereka hidup bahagia di surga, aman dan tenteram, makan dan minum sepuasnya karena segalanya tersedia lengkap.
Kemudian Allah berfirman, “Wahai Adam, tinggallah engkau bersama istrimu di surga ini. Nikmatilah semua makanan dan minuman yang ada, tetapi jangan sekali-kali memakan buah dari pohon khuldi. Jika kalian melanggarnya, kalian akan merugikan diri sendiri.”
Selain pohon khuldi, ada banyak buah lain di surga yang boleh mereka makan. Larangan itu adalah ujian dari Allah, untuk melihat apakah Adam dan Hawa sanggup menahan hawa nafsu dan taat kepada-Nya. Sebab, hanya dengan ketaatan itulah manusia bisa terus tinggal di surga dengan penuh kenikmatan.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 22.
Allah memperingatkan Adam dan Hawa agar menjauhi iblis, karena iblis adalah musuh mereka berdua dan seluruh keturunannya. Iblis akan selalu berusaha menyesatkan agar manusia terusir dari surga dan hidup sengsara.
Allah berfirman, “Wahai Adam, iblis adalah musuhmu dan musuh istrimu. Dia akan menggoda kalian supaya keluar dari surga ini. Padahal di surga kalian hidup bahagia, tanpa lapar dan susah.”
Adam dan Hawa pun hidup senang di surga. Sementara itu, iblis yang sudah diusir tidak pernah berhenti berusaha masuk kembali demi menipu mereka. Suatu ketika, ia berhasil menemui Adam dan Hawa lalu berkata, “Hai Adam, aku ingin memberi nasihat. Ada sebuah pohon dengan buah yang sangat lezat. Jika engkau memakannya, engkau akan kekal di surga dan memilikinya sebagai kerajaan abadi.”
Adam bertanya, “Buah apa yang kau maksud?”
Iblis lalu menunjuk pohon khuldi—pohon yang telah dilarang Allah. Menyadari tipu daya iblis, Adam segera berpaling dan menjauh darinya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 23.
Iblis tidak putus asa. Ia kembali menemui Adam dan Hawa lalu berkata, “Larangan Allah memakan buah khuldi itu hanya berlaku bagi malaikat. Sedangkan kalian bukan malaikat, jadi sebenarnya kalian boleh memakannya.”
Namun, Adam dan Hawa mengabaikan rayuan itu dan menjauh darinya.
Seperti janjinya kepada Allah, iblis bertekad menyesatkan Adam dan keturunannya sampai akhir zaman. Jika gagal sekali, ia akan mencoba lagi berkali-kali, karena ia tahu kelemahan manusia adalah mudah lupa dan lengah.
Akhirnya, iblis menemukan kesempatan saat Adam dan Hawa sedang lalai, ditambah merasa lapar dan haus. Ia datang membawa buah terlarang itu dan bersumpah, “Demi Allah, aku tidak menipumu. Aku hanya ingin memberi nasihat agar kalian bisa tinggal di surga selamanya. Makanlah buah ini!”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 24.
Mendengar iblis bersumpah dengan nama Allah, Adam dan Hawa mulai percaya. Mereka berpikir, “Iblis tidak mungkin berani berdusta dengan menyebut nama Allah.” Saat ragu itu muncul, iblis menyodorkan buah khuldi. Melihat buahnya yang ranum dan harum, Adam dan Hawa tergoda, lalu lupa pada larangan Allah dan memakannya.
Begitu buah itu masuk ke perut mereka, pakaian penutup aurat hilang. Adam dan Hawa saling memandang penuh malu, lalu segera menutupi diri dengan daun-daun surga.
Allah pun berfirman, “Hai Adam, apakah engkau lari dari-Ku?”
Adam menjawab, “Bukan lari, ya Allah. Aku hanya malu dan takut kepada-Mu.”
Allah berfirman lagi, “Bukankah Aku sudah melarang kalian memakan buah itu? Dan Aku telah memperingatkan bahwa iblis adalah musuh nyata kalian? Mengapa masih juga kalian melanggarnya?”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 25.
Dengan menunduk penuh penyesalan, Adam dan Hawa berdoa, “Ya Allah, kami telah berbuat zalim pada diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan mengasihani kami, pasti kami akan merugi selamanya.”
Allah berfirman, “Aku telah memberi perintah, tapi kalian melanggarnya.”
Adam dan Hawa memohon, “Ampuni kami, ya Allah.”
Allah berkata, “Aku sudah memberi kalian surga dengan segala kenikmatannya, hanya melarang satu pohon. Apakah buah khuldi itu lebih berharga daripada surga ini?”
Adam menjawab, “Aku tidak menyangka iblis berani berdusta dengan menyebut nama-Mu.”
Allah pun berfirman, “Demi kemuliaan-Ku, kalian harus meninggalkan surga ini dan turun ke bumi. Di sana kalian tetap bisa hidup, tapi dengan kerja keras, keringat, dan bahkan air mata.”
Dengan tangis dan rasa takut, Adam terus memohon ampun.
Lalu Allah menetapkan keputusan: “Kalian semua—Adam, Hawa, dan iblis—harus turun ke bumi. Di sana kalian akan saling bermusuhan, menipu, dan mendengki. Aku beri waktu hidup yang terbatas, dengan suka dan duka yang juga terbatas. Setelah ajal menjemput, kalian akan kembali kepada-Ku untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan kalian di bumi.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 26.
Adam dan Hawa menangis tersedu-sedu, air mata mereka jatuh tanpa henti. Mereka sangat menyesal karena telah tergoda iblis dan melanggar perintah Allah.
Allah lalu berfirman, “Di bumi nanti, kalian akan selalu digoda iblis dan pengikutnya. Hidup kalian akan penuh perjuangan. Tapi jangan takut, Aku akan menurunkan petunjuk (agama) kepada kalian dan anak cucu kalian. Siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan sengsara.”
Tak lama kemudian, Adam dan Hawa diturunkan ke bumi. Allah memberikan wahyu pertama sebagai tanda bahwa Dia telah menerima taubat mereka. Allah Maha Pengampun, selalu memberi ampunan kepada hamba yang sadar akan kesalahannya dan mau bertaubat.
Namun, kisah Adam sering disalahpahami. Banyak orang mengira Adam diusir dari surga karena dosa besar, lalu semua keturunannya ikut menanggung dosa itu sampai hari kiamat.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 27.
Untuk meluruskan kesalahpahaman itu, Allah mengutus Nabi Muhammad Saw. dengan membawa wahyu Al-Qur’an. Dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa pelanggaran Adam bukan karena kesengajaan. Karena itu, Allah tetap mengampuninya.
Adam, dengan kesadaran dan kesuciannya, sangat menyesal. Ia memohon ampun dan bertaubat. Justru sikap inilah yang menunjukkan kemuliaannya. Tidak benar jika seorang nabi dianggap berdosa, karena Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah telah mengampuni Adam.
Dikeluarkannya Adam dan Hawa dari surga juga bukan karena dosa. Sejak awal, Allah sudah menetapkan Adam sebagai khalifah di bumi. Jadi, manusia memang diciptakan untuk tinggal dan membangun kehidupan di bumi.
Surga yang ditempati Adam dan Hawa hanyalah tempat sementara, seperti ruang tunggu sebelum mereka turun ke bumi. Maka, anggapan bahwa manusia hidup di bumi karena dosa Adam dan Hawa adalah kesalahan besar. Umat Islam harus menjauhi pemahaman yang keliru itu.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 28.
Daftar Isi:
- Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 1: "Awal Kejadian"
- Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 2: "Ujian dan Kejatuhan"
- Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 3: "Kehidupan dan Tantangan di Bumi"
- Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 4: "Kasus Pembunuhan Pertama Manusia, Terbunuhnya Habil"
Kisah Nabi Adam dalam Al-Qur'an:
- Al-Baqarah ayat 29-30
- Al-A'raf ayat 11-13
- Thaha ayat 116-117
- Al-Isra' ayat 61-65
- Al-Hijr ayat 28-43
- Shad ayat 71-75
- Fushilat ayat 9-12
- Al-Maidah ayat 31-35
Sumber Thumbnail: id.wikipedia.org.
