Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 4: "Kasus Pembunuhan Pertama Manusia, Terbunuhnya Habil"

Reza
0

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Habil sangat gembira kurbannya diterima Allah, lalu ia bersyukur. Sebaliknya, Qabil marah dan iri karena kurbannya ditolak. Ia menuduh ayahnya, "Kurban Habil diterima karena Bapak mendoakannya, sedangkan kurban saya ditolak karena Bapak tidak mendoakan saya."

Adam menjawab, "Habil berkurban dengan barang yang baik, maka Allah menerimanya. Sedangkan engkau memberi buah yang jelek dan busuk. Itu tanda hatimu tidak baik, dan Allah tidak suka pada yang buruk."

Qabil semakin marah dan iri kepada Habil, padahal adiknya tidak bersalah. Inilah tipu daya iblis: membuat manusia yang lemah iman membenci saudaranya sendiri tanpa alasan.

Qabil pun pulang dengan hati penuh amarah. Ia kesal bukan pada dirinya sendiri yang salah, tetapi pada Habil yang justru tidak bersalah.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 37.

Begitulah halusnya godaan iblis yang bisa merusak hubungan antar manusia di bumi.

Ketika anak-anak Adam sudah dewasa, anak laki-laki mulai ingin punya istri dan anak perempuan ingin punya suami. Untuk mengatur hal itu, Allah menetapkan aturan yang sederhana. Qabil harus menikah dengan Labuda (adik Habil), dan Habil harus menikah dengan Iqlima (adik Qabil). Mereka tidak boleh menikah dengan adik kembarnya sendiri.

Wahyu ini disampaikan Allah kepada Adam, lalu Adam memberi tahu keluarganya. Semua menerima aturan itu dengan taat, kecuali Qabil.

Iblis pun memanfaatkan nafsu Qabil. Ia membisikkan bahwa Iqlima, adik Qabil sendiri, lebih cantik daripada Labuda, sehingga Qabil ingin menikahinya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 38.

Iblis berkata kepada Qabil, “Jangan mau mengikuti keputusan ayahmu yang tidak adil itu. Adikmu sendiri lebih cantik daripada adik Habil. Kenapa kamu disuruh menikahi adik Habil yang kurang cantik, sedangkan adikmu yang cantik malah diberikan kepada Habil?”

Karena bujukan iblis, Qabil menjadi dikuasai nafsu dan menolak keputusan tersebut. Kecantikan seorang perempuan berhasil dijadikan iblis sebagai pemicu pertengkaran antara dua saudara kandung. Peristiwa seperti ini bukan hanya terjadi pada anak-anak Adam dan Hawa dahulu, tetapi juga masih terjadi di zaman sekarang.

Adam dan Hawa sebagai orang tua merasa bingung. Mereka ingin memenuhi keinginan anak-anaknya, tetapi juga tidak boleh melanggar syariat Allah agar kehidupan tetap aman dan tenteram di bumi.

Jika syariat Allah dipatuhi, pertikaian antara Qabil dan Habil akan terus berlanjut. Namun, jika keinginan Qabil dituruti, itu berarti melanggar syariat Allah.

Inilah kesempatan emas bagi iblis. Pertengkaran antar manusia adalah lahan subur bagi iblis untuk menyesatkan mereka, dan tentu saja iblis tidak akan menyia-nyiakannya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 39.

Iblis membisikkan pada Qabil, “Ada cara mudah untuk mendapatkan Iqlima. Bunuh saja adikmu, Habil.”

Awalnya Qabil ragu membunuh saudaranya sendiri. Namun, hari-hari berikutnya ia terus murung, termenung, makan tak enak, tidur tak nyenyak. Pikiran yang hanya terfokus pada satu hal itu menjadi celah bagi iblis untuk memperkuat godaannya.

Saat Qabil larut dalam lamunan, iblis kembali membisikkan dengan lebih keras, “Bunuh saja! Jangan ragu!”

Melihat keadaan Qabil yang gelisah, Adam, Hawa, Habil, dan keluarga merasa khawatir. Mereka berusaha menasihatinya. Adam berkata, “Jangan ikuti bujukan iblis. Taatilah syariat Allah yang telah disetujui oleh kami, orang tuamu.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 40.

Habil dengan sabar menasihati kakaknya, “Saudaraku, carilah jalan yang benar dan selamat. Ini semua adalah syariat dan takdir dari Allah. Ibu, Bapak, dan aku hanya menjalankan perintah-Nya. Kita diciptakan untuk mengabdi kepada Allah. Kalau engkau menyimpang, itu adalah dosa besar — lebih baik engkau minta ampun seperti aku selalu memohon ampun kepada Allah.”

Nasihat baik Habil tidak mempan pada Qabil yang dipenuhi nafsu. Qabil justru menjadi marah dan mendekati Habil, mengancam, “Jangan banyak bicara! Aku akan membunuhmu!”

Habil tetap tenang dan bertanya, “Kenapa kau ingin membunuhku?”

Qabil menjawab, “Karena Bapak dan Allah lebih menyukaimu.”

Habil menegaskan, “Membunuhku tidak akan mengubah apa-apa. Malah Bapak dan Allah akan makin murka padamu.”

Qabil tak peduli dan tetap mengancam, “Tak apa — kau akan kubunuh supaya aku senang!”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 41.

Meski tubuhnya lebih kuat, Habil tetap sabar dan berkata, “Sekalipun kau hendak membunuhku, aku tidak akan melawan. Aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

Habil lalu pulang ke gua, diikuti Qabil yang masih dipenuhi amarah. Malam itu Qabil gelisah, tidak bisa tidur, dadanya terasa sesak. Iblis pun terus membisikkan, “Bunuh Habil! Bunuh Habil!”

Keesokan paginya, Habil pergi menggembalakan ternaknya dengan tenang. Qabil diam-diam mengikutinya, dikuasai nafsu untuk membunuh. Saat alam semesta bertasbih pada Allah, Qabil memukul kepala Habil dari belakang dengan kayu keras.

Darah pun mengalir untuk pertama kalinya di bumi. Habil jatuh tersungkur, kesakitan dan tergeletak tak berdaya. Saat itulah terbukti kekhawatiran malaikat bahwa manusia akan saling menumpahkan darah di bumi.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 42.

Pembunuhan pertama telah dilakukan, dan kelak akan terulang berkali-kali, bahkan sampai pada pembunuhan massal dengan senjata yang lebih kejam, menewaskan orang bersalah maupun tidak bersalah, termasuk perempuan dan anak-anak.

Melihat darah Habil mengalir dan jeritannya terdengar, iblis tersenyum puas. Tipu dayanya berhasil, lalu ia pergi meninggalkan Qabil.

Setelah itu, Qabil mulai sadar. Rasa menyesal perlahan tumbuh. Ia teringat bahwa Habil adalah saudara baik yang tak bersalah. Ia merasa perbuatannya kejam, penuh dosa, dan tak memberi keuntungan apa pun. Hatinya justru semakin gelisah, kosong, dan jauh dari ketenteraman.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 43.

Qabil melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Habil menggelepar menahan sakaratul maut. Suaranya makin pelan, lalu hilang. Tubuhnya bergerak tak terkendali, napasnya tersengal, hingga akhirnya berhenti. Habil pun mengembuskan napas terakhir.

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji‘uun. Semua makhluk pasti mati, karena hidup di dunia hanya sementara. Akhiratlah tempat kekal, di sanalah semua amal manusia akan dihisab, baik maupun buruk, kecil maupun besar. Yang baik akan dibalas kebaikan, yang jahat akan dibalas dengan keburukan.

Orang yang teraniaya di dunia jangan terlalu sedih, karena Allah pasti akan membalikkan keadilan kepadanya. Dan orang yang berbuat aniaya jangan merasa senang, sebab ia pasti akan merasakan akibat dari perbuatannya.

Angin sepoi berembus, daun-daun berdesir, seakan ikut berduka. Seolah alam pun mengiringi kepergian Habil kembali ke rahmat Allah.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 44.

Qabil mendengar desiran daun seakan mengejeknya: “Qabil, engkau pembunuh! Kejam! Bodoh!” Burung-burung dan binatang pun seolah ikut menuduhnya.

Qabil ketakutan, tubuhnya lemah, lalu tersungkur di samping jasad Habil sambil memanggil, “Habil… Habil…” Namun tentu saja tak ada jawaban, karena Habil sudah tiada.

Qabil hanya bisa duduk terpaku di samping saudaranya. Ia bingung, tak tahu harus berbuat apa. Jika dibiarkan, jenazah Habil bisa dimakan binatang buas.

Akhirnya, Qabil memikul tubuh adiknya. Ia berjalan tanpa arah, tak tahu hendak dibawa ke mana atau harus berbuat apa. Ketika lelah, ia berhenti. Kesedihan membuatnya berharap Habil hidup kembali. Rasa sesal kian menyesakkan, hingga ia marah pada dirinya sendiri.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 45.

Setelah sedikit pulih dari lelahnya, Qabil kembali memikul jasad Habil. Ia berjalan tanpa arah, berhenti lalu berjalan lagi, berulang-ulang di bawah terik matahari.

Tiba-tiba ia melihat dua burung gagak berkelahi. Salah satunya mati karena patukan keras. Burung gagak yang hidup lalu menggali tanah dengan paruh dan kakinya, membuat lubang, kemudian mengubur gagak yang mati di dalamnya.

Qabil tertegun dan berkata pada dirinya, “Aku ternyata lebih bodoh daripada gagak itu.” Ia pun meniru perbuatan burung itu: menggali lubang, lalu menguburkan jasad Habil.

Sementara itu, karena Habil dan Qabil tak kunjung pulang, Adam dan Hawa mulai cemas. Adam pergi mencari keduanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat darah di tanah. Dadanya bergetar, dan ia berteriak keras kepada Qabil: “Qabil! Apa yang telah kau lakukan terhadap saudaramu?!”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 46.

Tubuh Qabil gemetar mendengar teriakan keras ayahnya. Ia merasa seolah seluruh alam ikut berteriak padanya, “Qabil! Apa yang telah kau lakukan pada adikmu?!”

Ketakutan menguasai Qabil. Ia berlari menembus gunung, jurang, dan hutan dengan jiwa gelisah dan tubuh gemetar. Semua yang ia lihat—gunung, pohon, bahkan binatang—seakan mengejarnya sambil berteriak, “Pembunuh! Pembunuh!”

Sejak saat itu, Qabil tak pernah merasakan tenang. Dunia baginya hanya tempat pelarian penuh ketakutan. Ia sendiri yang membuat hidupnya diselimuti rasa bersalah, sampai mengira segala sesuatu adalah musuhnya. Begitu berat penderitaannya di dunia, belum lagi azab di akhirat kelak.

Adam dan Hawa sangat berduka. Mereka kehilangan dua anak sekaligus: Habil yang meninggal dan Qabil yang pergi entah ke mana. Untuk Habil, mereka berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia, limpahkan rahmat-Mu di alam barzakh, dan berikan tempat di surga.”

Sedangkan untuk Qabil, mereka tetap berharap ia akan kembali dengan sadar dan insaf, lalu hidup berguna bagi orang tua dan saudara-saudaranya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 47.

Adam menasihati anak-anaknya bahwa manusia hidup di bumi ini tidak sendirian. Selain manusia, ada setan dan iblis yang menjadi musuh kita dan anak cucu kita selamanya.

Adam dan Hawa menceritakan pengalaman mereka di surga, bagaimana iblis menggoda dengan cara yang sangat halus. Padahal saat itu mereka bisa melihat iblis dan mendengar suaranya, tetapi tetap tergoda. Apalagi sekarang di bumi, manusia tidak bisa melihat iblis, sedangkan iblis bisa melihat manusia. Karena itu, godaan iblis di bumi jauh lebih berbahaya.

Iblis adalah musuh yang bisa melihat kita, tapi kita tidak bisa melihatnya. Perjuangan melawan iblis seperti perkelahian antara orang bermata terbuka melawan orang bermata tertutup: yang melihat pasti lebih mudah menang, dan yang tidak melihat pasti mudah kalah.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 48.

Namun manusia tidak perlu takut. Allah Maha Pengasih dan Maha Adil. Allah memberi kita cara untuk melindungi diri, yaitu dengan membaca doa: “A’udzu billaahi minasy syaithaanir rajiim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Allah juga memberi kita iman, yaitu keyakinan penuh kepada-Nya. Dengan iman yang kuat, iblis tidak akan bisa menggoda, bahkan akan lari ketakutan.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 49.

Daftar Isi:

  1. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 1: "Awal Kejadian"
  2. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 2: "Ujian dan Kejatuhan"
  3. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 3: "Kehidupan dan Tantangan di Bumi"
  4. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 4: "Kasus Pembunuhan Pertama Manusia, Terbunuhnya Habil"

Kisah Nabi Adam dalam Al-Qur'an:

  1. Al-Baqarah ayat 29-30
  2. Al-A'raf ayat 11-13
  3. Thaha ayat 116-117
  4. Al-Isra' ayat 61-65
  5. Al-Hijr ayat 28-43
  6. Shad ayat 71-75
  7. Fushilat ayat 9-12
  8. Al-Maidah ayat 31-35

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Sumber Thumbnail: id.wikipedia.org.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)