Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 1: "Awal Perjalanan Iman"

Reza
0

Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim

Negeri Babilon dikenal subur dan rakyatnya makmur. Dalam sejarah dunia, rakyatnya bahkan dianggap sebagai pelopor kemajuan peradaban. Namun, keadaan berbeda pada masa Nabi Ibrahim. Meski hidup makmur, rakyatnya bodoh dan hidup dalam kegelapan.

Negeri yang subur itu diperintah oleh Raja Namrud, seorang penguasa yang bertindak sesuka hatinya. Segala keputusan ada di tangannya, dan apa pun yang ia katakan menjadi hukum bagi rakyat. Siapa pun yang berani menentang perintahnya akan dihukum mati. Akibatnya, tak ada seorang pun yang berani berpikir sendiri. Rakyat hanya bisa tunduk dan patuh, hingga mereka semakin tenggelam dalam kebodohan dan kesesatan.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 77.

Raja Namrud juga yang memerintahkan pembuatan patung-patung dari batu. Ia sangat suka memuja patung-patung terbaik itu, dan memerintahkan rakyatnya ikut menyembahnya. “Inilah tuhan,” katanya. Rakyat pun hanya bisa tunduk dan patuh.

Lama-kelamaan, rakyat semakin bodoh, dan keadaan negeri makin kacau. Suatu malam, Raja Namrud bermimpi aneh: ia melihat seorang anak kecil masuk ke kamarnya, mengambil mahkotanya, lalu menghancurkannya. Saat bangun, ia termenung memikirkan arti mimpinya itu.

Seperti banyak orang yang rusak imannya, Raja Namrud sangat percaya pada mimpi. Ia bahkan menggantungkan nasibnya pada mimpi dan ramalan. Karena kebodohannya, ia tidak menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran. Sebaliknya, ia percaya penuh pada para peramal dan dukun, dan selalu bertanya kepada mereka tentang nasib serta arti mimpinya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 78.

Raja Namrud segera memanggil para peramalnya untuk menanyakan arti mimpinya. Mereka berkata bahwa akan lahir seorang anak laki-laki yang kelak akan tumbuh menjadi orang besar dan berpengaruh, hingga kekuasaan Namrud akan hilang dan mahkotanya akan runtuh.

Mendengar itu, Raja Namrud menjadi sangat takut. Ia lalu memerintahkan agar semua bayi laki-laki yang lahir dibunuh, supaya tak ada yang bisa menggulingkan kekuasaannya.

Saat itu, ibu Nabi Ibrahim sedang mengandung. Karena khawatir bayinya akan dibunuh, ia melarikan diri dan bersembunyi di sebuah gua di luar kota. Di sanalah ia melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Ibrahim.

Ibrahim dibesarkan diam-diam di gua itu. Ibunya menyusuinya dan merawatnya hingga ia tumbuh agak besar. Suatu hari, ketika ibunya pergi ke kota mencari makanan, Ibrahim melihat keluar dari celah batu yang menutup pintu gua. Ia tertegun melihat dunia luar yang begitu luas — tanah, gunung, lembah, dan pepohonan. Siang hari disinari matahari yang terang, sedangkan malam hari gelap dan diterangi bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 79.

Ibrahim tumbuh menjadi besar dan makin cerdas. Ia tidak hanya kagum melihat keindahan dan kehebatan alam, tetapi juga mulai berpikir: siapa yang menciptakan semua ini? Siapa yang membuat siang dan malam berganti? Siapa yang menggerakkan matahari, bulan, dan bintang-bintang? Siapa yang menumbuhkan tanaman, menghidupkan makhluk hidup, dan mematikan yang mati?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di pikirannya. Namun, ia tidak punya siapa pun untuk diajak bicara selain ibunya, yang hanya datang sebentar untuk mengantarkan makanan dan minuman. Ibunya pun sibuk menyembunyikannya agar tidak ditemukan orang suruhan Raja Namrud, jadi tidak memedulikan pertanyaan-pertanyaan itu.

Karena itu, Ibrahim mencari jawabannya sendiri. Ia berpikir dengan jernih dan hati yang suci, tanpa pengaruh dari siapa pun. Dengan akalnya yang tajam dan fitrah yang bersih, Ibrahim yakin bahwa pasti ada Tuhan yang menciptakan seluruh alam ini. Tuhan itu Mahabesar, Maha Mengetahui, dan Maha Esa.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 80.

Inilah kehebatan Nabi Ibrahim. Sejak remaja, tanpa guru atau pembimbing, ia sudah bisa menggunakan akalnya yang diberi Allah untuk menemukan kebenaran. Dengan pikirannya sendiri, ia sampai pada keyakinan bahwa Allah itu ada dan Maha Esa—sesuatu yang tidak bisa dicapai banyak orang, bahkan oleh raja seperti Namrud yang kaya dan berkuasa.

Benarlah pendapat yang mengatakan bahwa manusia sebenarnya bisa mengenal Allah hanya dengan akal sehat. Namun, banyak orang yang ilmunya tinggi, hartanya banyak, dan jabatannya besar justru menjadi sombong dan bodoh. Mereka malah tidak percaya kepada Allah, menyembah berhala, dan mempercayai para dukun atau peramal.

Begitulah hebatnya Nabi Ibrahim. Karena itu, Allah memuliakannya dalam Al-Qur’an dengan ucapan, “Salaamun ‘alaa Ibraahiim” (Salam bagi Ibrahim). Dan kita, umat Islam, setiap kali salat lima waktu, selalu mengucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Ibrahim serta keluarganya, setelah mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 81.

Ketika Ibrahim sudah remaja, bahaya pembunuhan bayi sudah dilupakan orang. Ia pun mulai hidup di tengah masyarakat yang penuh kebodohan dan kepercayaan sesat. Banyak orang berbuat jahat dan menyembah berhala, patung, bintang, bulan, serta matahari.

Ayahnya sendiri bekerja membuat patung dari batu, lalu menjualnya kepada orang-orang untuk disembah. Bahkan ayahnya pun ikut menyembah patung-patung itu.

Melihat semua itu, hati Ibrahim sangat sedih. Ia berdoa, “Ya Allah, aku menderita melihat orang-orang tersesat seperti ini. Untuk apa akal yang Kau berikan jika hanya digunakan untuk berbuat salah dan mencari harta? Ya Allah, tunjukilah aku jalan yang benar, karena tanpa petunjuk-Mu aku akan tersesat seperti mereka.”

Doa Ibrahim dikabulkan. Allah memberinya petunjuk dan mengangkatnya menjadi nabi dan rasul. Allah menurunkan wahyu kepadanya, membuat keyakinannya semakin kuat. Ibrahim pun mengetahui rahasia di balik alam yang tampak, bahwa selain dunia ini ada alam gaib yang lebih luas, dan setiap manusia yang mati akan dibangkitkan kembali di akhirat.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 82.

Setelah lama memikirkan tentang alam dan kehidupan di dunia, pikiran Ibrahim kini tertuju pada alam akhirat.

Ia mulai bertanya-tanya dalam hati, “Bagaimana caranya Allah menghidupkan kembali manusia yang sudah mati nanti di akhirat?” Meskipun ia sudah yakin bahwa kehidupan akhirat itu nyata, Ibrahim tetap ingin tahu bagaimana cara Allah melakukannya.

Ia terus berpikir dan merenung, tapi tidak menemukan jawabannya. Pertanyaan itu terlalu besar untuk dijangkau akal manusia, termasuk pikirannya sendiri. Hal itu membuatnya gelisah.

Akhirnya, Ibrahim berdoa kepada Allah agar diperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan kembali sesuatu yang sudah mati.

Karena doa yang luar biasa itu, Allah bertanya kepadanya, “Wahai Ibrahim, apakah engkau belum beriman?”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 83.

Ibrahim menjawab, “Tidak, ya Allah. Aku sudah beriman dan percaya kepada wahyu-Mu. Aku hanya ingin agar hatiku semakin yakin dan tenang.”

Allah mengabulkan permintaan Ibrahim. Ia memerintahkan Ibrahim untuk menangkap empat ekor burung. Burung-burung itu dipotong-potong, lalu bagian-bagiannya dipisahkan agar Ibrahim bisa melihat bagaimana Allah menghidupkannya kembali.

Potongan burung itu dihancurkan hingga menjadi serbuk halus, kemudian dicampur menjadi satu. Setelah itu, campuran tersebut dibagi menjadi empat bagian dan diletakkan di puncak empat bukit yang berjauhan.

Allah lalu memerintahkan Ibrahim memanggil burung-burung itu. Begitu Ibrahim memanggil, potongan-potongan yang sudah hancur itu menyatu kembali dan hidup menjadi burung seperti semula—utuh, berbulu, dan terbang menuju Ibrahim.

Dengan kejadian itu, Ibrahim menyaksikan sendiri bahwa Allah mampu menghidupkan kembali apa yang sudah mati. Begitu pula nanti di akhirat, Allah akan membangkitkan semua manusia yang telah meninggal untuk dihisab, agar setiap amal baik dan jahat dibalas dengan adil.

Jika Allah sudah berkehendak atas sesuatu, tidak ada yang bisa menghalanginya. Sungguh, Allah Maha Kuasa dan Maha Bijaksana.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 84.

Daftar Isi:

  1. Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 1: "Awal Perjalanan Iman"
  2. Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 2: "Tantangan Melawan Tradisi"
  3. Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 3: "Mukjizat Api Dingin"

Kisah Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an:

  1. Al-Baqarah ayat 258
  2. Al-Baqarah ayat 260
  3. Az-Zukhruf ayat 26-28
  4. Al-An'am ayat 74
  5. Al-An'am ayat 76-83
  6. At-Taubah ayat 114
  7. Maryam ayat 41-48
  8. Al-Anbiya' ayat 52-76
  9. Asy-Syu'ara ayat 69-102
  10. Ash-Shaffat ayat 90-97

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Sumber Thumbnail: rahma.id.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)