Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 1: "Dibuang di Sumur & Awal Perjalanan ke Mesir"

Reza
0

Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf

Pagi pun tiba. Matahari mulai bersinar terang menyelimuti seluruh alam. Yusuf bangun sejak subuh dengan wajah cerah dan gembira. Selain karena udara pagi yang segar dan sinar matahari yang indah, ia juga senang karena semalam bermimpi yang sangat indah.

Dengan senyum di wajahnya, Yusuf pergi menemui ayahnya, Nabi Ya‘qub, dan berkata, “Wahai Ayah, tadi malam aku bermimpi indah sekali. Dalam mimpi itu aku melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, semuanya sujud kepadaku. Tolong jelaskan arti mimpiku itu, Ayah.”

Nabi Ya‘qub tersenyum bahagia mendengarnya dan berkata, “Anakku, mimpimu itu adalah mimpi yang benar. Inilah pertanda bahwa Allah akan memuliakanmu dengan ilmu dan banyak nikmat, seperti yang diberikan-Nya kepada kakekmu Nabi Ibrahim dan ayahku Nabi Ishaq.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 139.

Tapi ingat, jangan ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu. Aku tahu mereka sudah iri padamu dan Bunyamin karena aku lebih menyayangi kalian berdua. Aku bahkan mendengar sendiri mereka membicarakan kalian dengan nada tidak baik. Jika kau ceritakan mimpimu itu, kebencian mereka akan makin besar, dan mereka mungkin akan menipumu dengan berbagai cara. Hati-hatilah, karena setan selalu berusaha menyesatkan manusia.”

Yusuf adalah anak yang istimewa di antara banyak anak Nabi Ya‘qub. Ia tampan, berakhlak baik, cerdas, dan berpengetahuan luas. Ibunya, Rahil, meninggal saat Yusuf dan adiknya, Bunyamin, masih kecil—sekitar umur dua belas tahun. Karena itulah, Nabi Ya‘qub sangat menyayangi kedua anaknya ini.

Namun, kasih sayang yang besar dari ayah mereka membuat saudara-saudara Yusuf iri dan dengki. Setelah Nabi Ya‘qub mendengar mimpi Yusuf dan semakin mencintainya, rasa iri saudara-saudaranya pun makin bertambah, begitu juga kebencian mereka terhadap Yusuf dan Bunyamin.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 140.

Namun, kebencian dan rasa iri itu tidak bisa disembunyikan. Begitu juga dengan rasa cinta, seperti kasih sayang Nabi Ya‘qub kepada Yusuf dan adiknya yang terlihat jelas.

Saudara-saudara Yusuf tahu betul bahwa ayah mereka lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin. Begitu pula Yusuf dan Nabi Ya‘qub sadar bahwa saudara-saudara Yusuf menyimpan rasa iri dan benci terhadapnya.

Suatu hari, saudara-saudara Yusuf yang iri itu berkumpul untuk membicarakan perlakuan ayah mereka yang dianggap tidak adil. Salah satu dari mereka berkata, “Kita semua tahu bahwa ayah lebih menyayangi Yusuf dan adiknya daripada kita. Aku tidak mengerti kenapa bisa begitu. Bukankah kita ini lebih tua, lebih kuat, dan sudah banyak berjasa menjaga Yusuf? Tapi kenapa justru dia yang lebih disayang? Apakah karena dia lebih mulia dari kita? Tidak ada bukti soal itu. Atau karena ibunya, Rahil, lebih dicintai ayah daripada ibu kita? Kalau begitu, kesalahan Yusuf apa? Kalau hanya karena itu, ayah benar-benar telah berlaku tidak adil.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 141.

Seorang lain berkata, “Kasih sayang ayah kepada Yusuf sangatlah jelas, seperti matahari di siang hari. Cinta itu sangat kuat dan tak bisa diubah hanya dengan kata-kata dan rayuan. Selama Yusuf masih ada di antara kita, ayah akan terus menyayanginya dan kita akan tersisih. Satu-satunya jalan adalah menyingkirkan Yusuf: bunuh dia dan hilangkan semua bukti, atau bawa jauh-jauh lalu serahkan kepada binatang buas, atau kuburkan hidup-hidup di gurun yang panas. Setelah Yusuf hilang, perhatian ayah akan kembali ke kita. Lalu kita minta ampun kepada Allah dan tidak berbuat jahat lagi.”

Lalu Yahuza — yang paling baik hati, paling matang pikirannya, dan paling cerdas di antara mereka — menolak ide membunuh. “Kita ini anak Nabi Ya‘qub, keturunan Ibrahim. Kita punya akal dan agama; membunuh tidak boleh. Yusuf tidak bersalah dan tidak pernah menyakiti kita. Kalau mau menjauhkan Yusuf, taruh saja dia di Sumur Jub yang jauh dari sini, tempat orang sering singgah mengambil air. Letakkan Yusuf di dalam sumur itu, lalu tinggalkan. Nanti orang-orang yang lewat akan menemukannya dan membawanya pergi. Dengan begitu kita tidak berdosa membunuh, dan masalah kita terselesaikan.”

Usul Yahuza terdengar masuk akal bagi mereka, lalu mereka sepakat untuk melakukannya segera.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 142.

Keesokan paginya, mereka datang menemui ayah mereka dan berkata, “Wahai Ayah, percayalah pada kami tentang Yusuf. Dia saudara kami, dan kami juga menyayanginya seperti Ayah menyayanginya. Izinkan dia ikut bersama kami besok ke bukit untuk menikmati udara segar dan pemandangan indah. Kami ingin bermain dengannya, memetik buah, menggembala kambing, dan bersenang-senang. Jangan khawatir, kami akan menjaganya dengan baik. Kami rela mempertaruhkan nyawa demi keselamatannya.”

Nabi Ya‘qub menjawab, “Aku khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Aku tidak keberatan Yusuf pergi, tapi aku takut kalian lengah, lalu dia diserang serigala dan dimakan. Aku pasti sangat sedih jika kalian pulang tanpa Yusuf.”

Mereka berkata, “Bagaimana mungkin serigala bisa menyerangnya sementara kami semua bersamanya? Kami kuat dan tidak akan membiarkannya sendirian. Kalau itu sampai terjadi, kami juga akan kehilangan saudara kami sendiri.”

Meski masih khawatir, Nabi Ya‘qub akhirnya berkata, “Baiklah, jagalah saudaramu Yusuf baik-baik. Jangan sampai kalian lalai sedikit pun. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian lakukan.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 143.

Keesokan harinya, mereka berangkat bersama Yusuf ke tempat yang jauh, menuju sumur yang sudah mereka rencanakan. Dalam perjalanan, niat jahat mereka tidak bisa lagi disembunyikan karena rasa iri dan dengki yang sudah memuncak. Saat tiba di sumur, mereka menanggalkan baju Yusuf lalu melemparkannya ke dalam sumur. Setelah itu, mereka pulang sambil membawa bajunya.

Yusuf pun ditinggalkan sendirian di dasar sumur yang dalam, menunggu takdir Allah yang akan menolongnya.

Mereka mengira dengan cara itu hati mereka akan tenang, dan ayah mereka akan melupakan Yusuf. Tapi mereka lupa, Allah Maha Kuasa dan selalu melindungi hamba-Nya yang tak bersalah.

Menjelang senja, mereka pulang menemui ayah mereka. Dengan pura-pura menangis dan membawa baju Yusuf yang telah mereka lumuri darah palsu, mereka berkata, “Wahai Ayah! Ternyata benar kekhawatiran Ayah. Yusuf sempat lepas dari pengawasan kami saat kami berjalan di depan, lalu seekor serigala menerkamnya. Kami hanya menemukan bajunya yang berlumuran darah ini. Inilah buktinya. Kami sangat sedih, meski mungkin Ayah tidak percaya kepada kami, walau kami berkata jujur.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 144.

Nabi Yaqub menjawab dengan sedih, “Nafsu iri kalianlah yang menyebabkan semua ini terjadi. Sekarang kejadian itu sudah terjadi, dan aku hanya bisa bersabar hingga tiba waktunya kebenaran terungkap. Hanya kepada Allah aku memohon pertolongan atas semua yang terjadi.”

Sementara itu, di dalam sumur yang dalam, gelap, dan sunyi di tengah padang pasir, Yusuf menghadapi ujian yang sangat berat. Allah memang sering menguji hamba-Nya yang taat dengan cobaan besar — bukan untuk menyiksa, tapi untuk menguatkan dan meninggikan derajat mereka.

Dengan pemahaman itu, kita bisa mengerti bahwa ujian yang dialami para nabi dan orang saleh bukanlah hukuman, melainkan bentuk kasih sayang Allah. Jika dibandingkan dengan cobaan nabi-nabi lain, mungkin ujian Yusuf ini tidak seberat mereka. Namun yang paling menyakitkan bagi Yusuf adalah kenyataan bahwa yang berbuat jahat kepadanya bukan orang asing, melainkan saudara-saudaranya sendiri.

Meski begitu, Yusuf tetap tenang dan sabar di dalam sumur yang gelap itu. Ia mencoba melihat sekeliling, tapi yang tampak hanya dinding curam dan air jernih di dasar sumur. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu dan berharap. Ia pasti sangat merindukan ayahnya yang begitu menyayanginya, dan membayangkan betapa sedih hati ayahnya saat mengetahui dirinya hilang — kesedihan yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 145.

Perut Yusuf mulai terasa lapar. Tapi di mana ia bisa mendapatkan makanan? Dan sampai kapan ia bisa menahannya? Semua itu ia pasrahkan sepenuhnya kepada Allah Yang Mahakuasa.

Di tengah rasa sedih dan lapar yang memuncak, tiba-tiba Yusuf mendengar wahyu Ilahi menembus hatinya: “Bersabarlah, wahai Yusuf. Aku, Tuhanmu, akan membukakan jalan untukmu. Aku akan mempertemukanmu kembali dengan saudara-saudaramu, tetapi itu akan terjadi setelah bertahun-tahun.”

Mendengar wahyu itu, hati Yusuf menjadi tenang. Kesedihan dan penderitaannya mulai sirna. Ia menunggu dengan sabar bagaimana pertolongan Allah akan datang.

Tak lama kemudian, telinganya menangkap suara-suara di sekitar sumur. Ia mendengarkan baik-baik. Suara itu makin lama makin dekat — langkah kaki manusia, derap sandal dan sepatu, bahkan suara anjing yang menggonggong. Ternyata, itu adalah rombongan musafir yang sedang melintasi padang pasir.

Yusuf tersenyum. Hatinya kembali penuh harapan. Ia mendengar para musafir itu berhenti di dekat sumur dan meletakkan tongkat-tongkat mereka untuk beristirahat. Lalu terdengar suara pemimpin kafilah memerintahkan seseorang menimba air dari sumur untuk mereka dan unta-unta mereka yang kehausan.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 146.

Sebuah timba besar diturunkan ke dalam sumur. Timba itu jatuh tepat di depan Yusuf. Dengan cepat Yusuf memegang timba itu dan berpegangan kuat pada talinya.

Orang di atas menarik timba itu ke atas. Saat timba sampai di permukaan, orang itu terkejut melihat Yusuf sedang berpegang pada tali. Ia pun berteriak gembira, “Lihat! Kita beruntung sekali! Ada anak laki-laki yang sangat tampan!”

Semua anggota kafilah segera berkumpul mengelilingi Yusuf. Mereka heran dan kagum dari mana anak ini bisa muncul. Setelah berbincang-bincang, mereka sepakat untuk menjual Yusuf saat sampai di kota tujuan. Sebagian ingin menjualnya untuk keuntungan, tapi ada juga yang merasa iba dan berniat mengembalikannya kepada orang tuanya atau menjadikannya anak angkat.

Kafilah itu lalu melanjutkan perjalanan menuju Mesir. Di sana, Yusuf dibawa ke pasar budak untuk dijual. Ia dijual dengan harga murah, hanya beberapa dirham saja. Ada yang menjual karena kasihan, ada pula karena takut urusan ini bisa menimbulkan masalah.

Padahal, seluruh harta di dunia pun tak akan cukup menebus harga seorang Yusuf yang begitu mulia dan suci. Akhirnya, Yusuf dibeli oleh seorang pejabat tinggi Mesir bernama Futifar, salah satu menteri penting di negeri itu.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 147.

Daftar Isi:

  1. Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 1
  2. Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 2
  3. Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 3

Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur'an:

  1. Yusuf ayat 3-104
  2. Al-Mukmin ayat 34

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam


*Thumbnail postingan ini bersumber dari: id.wikipedia.org, yang kemudian diedit oleh Reza.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)