Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 2: "Masuk Penjara"

Reza
0

Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf

Dengan senang hati, pembesar Mesir itu membawa Yusuf pulang ke rumahnya. Ia menunjukkan Yusuf kepada istrinya sambil berkata, “Anak ini tampaknya berasal dari keluarga yang mulia. Lihatlah wajah dan sikapnya, sangat terhormat. Perlakukan dia dengan baik. Beri tempat yang layak, jangan dijadikan pembantu atau budak, meski kita membelinya sebagai budak. Aku yakin, jika dia dewasa nanti, dia akan membawa manfaat bagi kita. Bahkan, mungkin kita bisa menjadikannya sebagai anak angkat.”

Kebetulan, istri pembesar itu tidak memiliki anak. Karena itu, ia sangat senang dengan kehadiran Yusuf. Yusuf pun tinggal di rumah itu seperti di rumahnya sendiri. Ia rajin, bisa dipercaya, dan selalu berbuat baik kepada semua orang di rumah maupun para tetangga.

Yusuf dan Istri Pembesar

Kehidupan yang tenang di rumah pembesar itu membuat Yusuf perlahan melupakan kesedihan karena berpisah dengan ayahnya. Ia tumbuh menjadi pemuda yang tampan, berperangai baik, dan berkepribadian teratur. Dengan pakaian rapi dan penampilannya yang menawan, Yusuf tampak semakin menarik hati.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 148.

Wajah tampan Yusuf kini membuatnya menghadapi cobaan yang lebih berat dari sebelumnya. Setelah tumbuh menjadi pemuda, ketampanannya membuat istri pembesar Mesir yang memeliharanya jatuh cinta. Ia selalu memikirkan Yusuf—cara Yusuf berjalan, duduk, berbicara, bahkan cara makannya pun menarik hatinya.

Perasaan kasih yang dulu ia rasakan berubah menjadi cinta asmara. Cinta itu makin kuat, meski ia tahu seharusnya ia tidak mencintai Yusuf—anak angkatnya sendiri—apalagi sebagai istri seorang pembesar tinggi di Mesir. Ia bingung harus bagaimana menyalurkan perasaan itu.

Hari demi hari, cintanya semakin dalam. Kadang ia hampir tak mampu menahan diri dari godaan nafsu. Ia berjuang keras untuk menahannya, berusaha mengendalikan perasaan itu siang dan malam tanpa henti. Karena tekanan batin yang berat, tubuhnya makin kurus dan wajahnya semakin pucat.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 149.

Sayangnya, wanita itu kalah dalam perjuangannya melawan hawa nafsu. Ia tahu perbuatannya salah dan berisiko besar, bisa membuat istana gempar dan mencoreng nama Mesir, tapi ia tetap menyerah pada keinginannya.

Ia mulai berbicara lembut dan merayu Yusuf, tetapi Yusuf yang terhormat menolak menanggapinya. Akhirnya, wanita itu lelah dan memutuskan untuk berterus terang.

Saat rumah sedang sepi, hanya ada dia dan Yusuf. Ia menutup semua pintu dan jendela, lalu berdandan seindah mungkin, memakai pakaian terbaik dan wewangian paling harum. Ia mendekati Yusuf dan berkata, “Mari, Yusuf, datanglah kepadaku.”

Namun Yusuf, meski masih muda, sudah memiliki hati yang dipenuhi hikmah dan iman. Ia menjawab dengan tegas, “Aku berlindung kepada Allah dari perbuatan itu. Aku tidak akan berkhianat kepada Tuanku yang telah berbuat baik padaku.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 150.

Setelah mendengar jawaban Yusuf dan menyadari bahwa semua usahanya gagal, wanita itu menjadi marah besar. Cintanya yang membara berubah menjadi amarah dan dendam terhadap Yusuf.

Yusuf pun berpikir apa yang harus ia lakukan. Tiba-tiba, datang wahyu dari Allah yang memerintahkannya untuk segera lari dari tempat itu.

Yusuf pun langsung berlari menuju pintu. Namun, wanita itu sempat menarik bajunya dari belakang hingga robek.

Tepat saat itu, suaminya datang dan membuka pintu. Ia melihat langsung keadaan yang mencurigakan antara Yusuf dan istrinya.

Suaminya bingung, tidak tahu siapa yang bersalah. Namun, wanita itu dengan licik mencari cara untuk menutupi perbuatannya dan menyalahkan Yusuf. Ia berkata, “Yusuf ingin menodai kehormatanmu dan mempermalukanku. Apa pantas orang seperti itu tidak dihukum? Dia seharusnya dipenjara dan disiksa!”

Yusuf pun membela diri dan berkata dengan jujur, “Bukan aku yang mendatanginya — dialah yang menggodaku!”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 151.

Tak lama kemudian, datanglah sepupu perempuan itu, seorang yang bijak dan adil. Setelah mendengar penjelasan dari keduanya yang saling bertentangan, ia berkata, “Jika baju Yusuf robek di bagian depan, berarti benar kata perempuan itu, dan Yusuf yang berbohong. Tapi jika baju Yusuf robek di bagian belakang, berarti Yusuf yang benar dan perempuan itulah yang berbohong.”

Setelah diperiksa, ternyata baju Yusuf robek di bagian belakang. Maka jelaslah bahwa Yusuf tidak bersalah, dan perempuan itulah yang menggoda Yusuf.

Pembesar itu lalu menoleh kepada istrinya dan berkata, “Ini semua adalah tipu daya dan kelicikanmu. Mintalah ampun atas kesalahanmu, karena sudah jelas engkaulah yang bersalah.”

Kemudian ia berkata kepada Yusuf, “Hai Yusuf, jagalah rahasia ini baik-baik. Jangan sampai orang lain mengetahuinya.”

Namun, meski sudah berusaha ditutup-tutupi, kabar itu akhirnya tersebar juga. Seperti halnya sesuatu yang busuk, seberapa pun ditutup, baunya akan tetap tercium.

Kabar itu pun menyebar ke seluruh kota. Semua orang membicarakannya, terutama para wanita dan kalangan istana. Mereka berkata, “Istri pembesar itu jatuh cinta pada anak angkatnya yang tampan, seorang pemuda Ibrani. Karena cintanya, ia hampir mencemarkan kehormatan suaminya dan istana. Tapi anak itu sungguh luar biasa — ia tetap menjaga diri dan menolak godaan, karena imannya yang kuat dan jiwanya yang suci.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 152.

Lama-kelamaan kabar itu semakin menyebar luas. Banyak orang menambah-nambah ceritanya dengan bumbu yang tidak benar, sampai akhirnya semua gosip itu terdengar juga oleh istri pembesar. Ia pun merasa sedih dan marah mendengarnya.

Namun, apa yang bisa ia lakukan? Tak ada yang bisa melawan suara orang banyak, apalagi omongan para perempuan.

Ia berpikir keras mencari cara untuk membalas atau membuktikan bahwa perkataan mereka salah, tapi belum juga menemukan jalan.

Akhirnya, ia mendapat ide. Ia mengundang semua perempuan kota ke rumahnya untuk menghadiri pesta besar yang diadakan bertepatan dengan hari perayaan penting. Ia menyiapkan tempat yang indah, makanan lezat, minuman enak, dan buah-buahan yang segar.

Undangan itu disambut antusias oleh para perempuan di kota, terutama mereka yang penasaran dengan kabar tersebut. Selain ingin menghadiri pesta mewah dan bertemu istri pembesar, mereka juga ingin melihat sendiri pemuda tampan bernama Yusuf yang jadi bahan pembicaraan itu.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 153.

Pertemuan itu berlangsung sangat meriah, penuh canda dan tawa. Aneka makanan dan minuman disajikan tanpa henti. Di akhir acara, disuguhkan buah-buahan yang manis, dan setiap tamu diberi pisau kecil untuk mengupasnya.

Saat para tamu sedang asyik mengupas buah, istri pembesar—tuan rumah pesta itu—meminta Yusuf keluar dan tampil di hadapan para perempuan. Yusuf pun keluar dan berjalan di antara mereka.

Begitu melihat Yusuf, para perempuan itu tertegun. Wajahnya tampan seperti bulan purnama, rambutnya ikal dan halus, alisnya indah, matanya bercahaya seperti bintang pagi, pipinya merona, bibirnya merah segar, dan setiap gerak-geriknya memancarkan pesona. Mereka terpukau sampai lupa diri. Tanpa sadar, pisau yang di tangan mereka bukan memotong buah, tapi malah melukai tangan dan jari mereka sendiri—tanpa merasa sakit sedikit pun.

“Ini bukan manusia,” kata mereka kagum, “melainkan malaikat yang mulia.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 154.

Melihat kejadian itu, istri pembesar merasa gembira karena rencananya berhasil. Ia bertepuk tangan lalu berkata dengan bangga, “Inilah Yusuf yang sering kalian bicarakan! Kalian dulu mengejekku karena kejadian antara aku dan dia. Sekarang, baru melihatnya sebentar saja, kalian sudah terpesona sampai lupa diri. Aku melihatnya setiap hari—melihat cara dia duduk, berdiri, datang, dan pergi. Baru sesaat kalian melihatnya, kalian sudah melukai jari kalian sendiri tanpa sadar. Tidakkah kalian merasa sakit? Aku mengaku di depan kalian semua, memang aku jatuh cinta padanya dan pernah berusaha mendekatinya. Tapi Yusuf menolak dan berlindung kepada Allah. Dia menjauh dariku. Jujur saja, aku tidak mampu menahan perasaanku terhadapnya.”

Para perempuan yang hadir pun memberi berbagai tanggapan. Ada yang berkata bahwa Yusuf seperti malaikat, jadi wajar jika istri pembesar itu terpesona. Ada pula yang kagum pada keteguhan Yusuf—betapa kuat imannya sehingga tidak tergoda, padahal istri pembesar itu cantik, kaya, dan berkuasa. Mereka heran: kalau Yusuf mau menuruti keinginannya, tentu dia bisa memiliki segala kemewahan istana. Tapi Yusuf tetap menolak, bahkan tahu risikonya bisa dibuang atau dibunuh. Mengapa dia tidak takut?

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 155.

Mendengar semua itu, Yusuf hanya berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah agar dijauhkan dari godaan para perempuan. Ia berdoa, “Ya Tuhanku, penjara yang gelap dan sempit lebih baik bagiku daripada tinggal di istana bersama perempuan-perempuan yang terus menggoda. Dalam penjara, aku bisa belajar bersabar, mengingat nikmat-Mu, dan memahami kebesaran-Mu. Jika aku tetap di sini, aku takut imanku akan goyah dan aku tergoda untuk berbuat dosa. Ya Allah, penjara lebih baik bagiku daripada tergoda seperti ini. Lindungilah aku dari godaan mereka, karena aku hanyalah hamba-Mu yang lemah.”

Akhirnya, karena tidak tahan lagi berhadapan dengan Yusuf, istri pembesar itu memaksa suaminya agar Yusuf dipenjara. Suaminya pun menuruti permintaannya.

Maka Yusuf pun dimasukkan ke penjara, meskipun dia tidak bersalah. Di sana, dia hidup seperti tahanan lainnya dan menjalani semuanya dengan sabar.

Di penjara itulah Yusuf menghabiskan masa mudanya yang tampan. Di tempat itulah juga wahyu Allah pertama turun kepadanya, menandakan dia telah diangkat menjadi nabi dan rasul. Ternyata, penjara dan sumur tempat dia pernah dibuang dahulu adalah ujian dan latihan dari Allah—seperti halnya Gua Hira bagi Nabi Muhammad Saw. dan perjalanan penuh ujian bagi Nabi Ibrahim As.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 156.

Daftar Isi:

  1. Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 1
  2. Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 2
  3. Bey Arifin - Kisah Nabi Yusuf, Part 3

Kisah Nabi Yusuf dalam Al-Qur'an:

  1. Yusuf ayat 3-104
  2. Al-Mukmin ayat 34

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam


*Thumbnail postingan ini bersumber dari: id.wikipedia.org, yang kemudian diedit oleh Reza.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)