Pada suatu hari, Ya‘qub datang menemui ayahnya, Nabi Ishaq, yang saat itu sudah sangat tua, kulitnya keriput, dan punggungnya membungkuk. Ya‘qub berkata, “Ayah, aku datang untuk mengadu tentang kedengkian saudaraku. Aku berharap Ayah bisa menasihati dan menegurnya. Sejak Ayah memeliharaku dengan penuh kasih dan selalu mendoakanku agar mendapat berkah serta menjadi keturunan yang baik, saudaraku mulai iri padaku. Ia sering menghina dan mengancamku hingga hubungan kami terputus dan rasa kasih sayang di antara kami hilang.”
Ya‘qub melanjutkan, “Aku juga tidak tahan karena ia selalu menyombongkan diri dengan dua istrinya yang cantik dari Kan‘an dan anak-anaknya yang banyak. Sedangkan aku tidak punya istri, anak, atau harta. Karena itu aku datang memohon agar Ayah menetapkan keputusan yang adil antara aku dan dia, sebab Ayah menerima wahyu dari Allah dan memiliki pandangan yang bijaksana.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 131.
Mendengar keluhan Ya‘qub, Nabi Ishaq berkata, “Anakku, aku sedih mendengar ceritamu. Lihatlah, aku sudah tua—janggutku memutih, kulitku keriput, dan punggungku bungkuk. Aku sudah lemah dan tidak akan lama lagi hidup di dunia ini. Aku tidak ingin meninggal dalam keadaan sedih karena perselisihan kalian berdua. Karena itu, pergilah ke negeri Faddan Aram di Irak. Di sana tinggal pamammu, Laban bin Batwail. Menikahlah dengan salah satu anak perempuannya. Insya Allah engkau akan hidup bahagia. Setelah itu, kembalilah ke negeri ini (Syam). Aku berdoa semoga Allah memberimu keturunan yang baik dan melindungimu dari ejekan saudaramu.”
Nasihat itu menenangkan hati Ya‘qub yang gelisah. Ia pun memutuskan pergi ke Faddan Aram, negeri leluhurnya. Sebelum berangkat, ia berpamitan kepada ayahnya yang sudah sangat tua, sambil berdoa agar Allah memanjangkan umur dan melindungi ayahnya dari segala bahaya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 132.
Ya‘qub berjalan kaki melintasi padang pasir yang luas dan tandus, siang malam tanpa henti menuju tempat yang ditunjukkan ayahnya. Setiap kali rasa lelah, lapar, dan haus menyerangnya, ia teringat nasihat dan harapan sang ayah. Ingatan itu memberinya semangat baru untuk terus melangkah.
Suatu hari, di tengah gurun yang panas membara, matahari menyengat tanpa ampun. Pasir terasa seperti bara, dan angin yang biasanya menyejukkan kini justru membuat tubuhnya makin panas. Ya‘qub hampir tak sanggup melangkah lagi. Di depan terbentang padang pasir tanpa ujung, dan ia mulai ragu apakah harus terus maju atau menyerah dan kembali.
Saat merenung, ia melihat sebuah batu besar di kejauhan. Batu itu bisa menjadi tempat berteduh. Ia mendekatinya, lalu duduk di bawah bayangannya. Di sana, ia beristirahat, mendinginkan kaki yang panas dan tubuh yang letih, hingga akhirnya tertidur dalam kelelahan.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 133.
Dalam tidurnya yang singkat, Ya‘qub bermimpi. Dalam mimpi itu, Allah memberinya wahyu pertama—tanda bahwa ia telah dipilih menjadi nabi. Allah mengilhamkan kepadanya bahwa ia akan hidup bahagia, memiliki kerajaan besar, keturunan yang mulia, dan menerima kitab sebagai nabi serta rasul-Nya.
Saat terbangun, Ya‘qub merasa hatinya lapang dan tubuhnya segar kembali. Semangatnya tumbuh kuat, dan di hadapannya terbentang harapan yang luas. Ia pun melanjutkan perjalanan dengan langkah penuh keyakinan.
Beberapa hari kemudian, ia tiba di sebuah tempat bernama Sawadimah, sebuah dusun pertama di wilayah pamannya, Syekh Laban. Setelah memastikan bahwa itulah tempat yang ia tuju, hatinya diliputi kegembiraan, dan semua rasa lelahnya hilang.
Di sekitarnya terbentang padang rumput hijau, pohon-pohon rindang tempat burung bersarang, dan terdengar suara anak-anak penggembala bernyanyi riang. Ia sadar bahwa kini ia sudah meninggalkan padang tandus, dan telah sampai di daerah yang subur dan hidup—kampung pamannya yang selama ini ia cari.
Di tempat itulah dahulu Nabi Ibrahim, leluhurnya, menerima wahyu pertama dari Allah. Ya‘qub pun bersujud, bersyukur kepada Allah yang telah menuntunnya sampai ke sana dengan selamat dan memberinya petunjuk serta nikmat yang besar.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 134.
Ya‘qub mulai bertanya kepada orang-orang yang ia temui tentang Syekh Laban bin Batwail. Semua orang mengenal nama itu, karena Syekh Laban adalah tokoh yang dihormati di daerah itu. Ia memiliki banyak padang rumput, kambing, dan kebun yang luas.
Ketika Ya‘qub menanyakan siapa yang bisa menuntunnya ke rumah Syekh Laban, mereka menunjuk seorang gadis yang sedang menggembala kambing dan berkata, “Itu Rahil, putri Syekh Laban.”
Begitu melihat Rahil, Ya‘qub terpesona oleh kecantikannya. Hatinya berdebar, dan lidahnya sempat kelu. Namun, ia segera menenangkan diri dan berkata kepada gadis itu, “Wahai Rahil, aku memiliki hubungan keluarga denganmu. Aku Ya‘qub, putra Ishaq, dan ibuku Rifqah adalah anak dari Batwail, kakekmu. Aku datang dari negeri Kanaan, menempuh padang pasir yang luas, dengan tujuan yang baik.”
Rahil menyambutnya dengan ramah, lalu mereka berjalan bersama menuju rumah Syekh Laban. Dalam perjalanan itu, Ya‘qub merasakan kebahagiaan dan mulai menyadari bahwa Rahil mungkin adalah wanita yang dijanjikan Allah dalam mimpinya—pendamping hidup yang juga disarankan oleh ayahnya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 135.
Hati Ya‘qub berdebar karena gembira, tapi ia menahannya dan tetap berjalan dengan tenang. Akhirnya, mereka sampai di rumah Laban, pamannya. Keduanya berpelukan lama karena rindu yang terpendam. Air mata kebahagiaan mengalir di wajah Ya‘qub. Ia disambut dengan hangat, dihormati, dan diberi tempat yang layak.
Setelah beristirahat, Ya‘qub menyampaikan pesan ayahnya kepada Laban—bahwa ia datang untuk melamar salah satu anak pamannya menjadi istrinya. Ia juga mengaku bahwa Rahil telah menarik hatinya, dan ia berharap Laban mengizinkan mereka menikah.
Laban mendengarkan dengan saksama, lalu berkata bahwa ia setuju, tetapi dengan satu syarat: Ya‘qub harus bekerja menggembalakan kambingnya selama tujuh tahun sebagai mahar pernikahan. Ya‘qub menerima syarat itu dengan senang hati. Sejak hari itu, ia hidup tenang, bekerja sambil menanti harapan yang semakin dekat tercapai.
Rahil adalah putri bungsu Laban. Ia memiliki kakak bernama Layya. Meskipun Layya cantik dan berperangai baik, Rahil lebih cantik dan menawan darinya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 136.
Sudah menjadi adat di kampung itu bahwa anak yang lebih muda tidak boleh menikah sebelum kakaknya. Laban tidak ingin melanggar aturan itu, tapi juga tidak ingin menghalangi keinginan Nabi Ya‘qub untuk menikahi Rahil. Setelah berpikir lama, ia memutuskan untuk menikahkan kedua putrinya dengan Ya‘qub, karena hal itu tidak dilarang oleh syariat pada masa itu.
Laban kemudian berkata kepada Ya‘qub, “Anakku, di negeri ini tidak boleh menikahkan anak yang kecil sebelum yang besar. Layya memang tidak secantik Rahil, tapi ia baik dan berakal. Jadi, nikahilah Layya dengan mahar tujuh tahun menggembala kambing. Jika kau juga ingin menikahi Rahil, tambahkan tujuh tahun lagi bekerja di sini.”
Ya‘qub menerima syarat itu. Setelah tujuh tahun bekerja, ia menikah dengan Layya. Lalu, setelah tujuh tahun berikutnya, ia menikah juga dengan Rahil.
Kepada masing-masing putrinya, Laban memberikan seorang pembantu untuk membantu mereka. Namun, kemudian Ya‘qub juga menikahi kedua pembantu itu.
Dari empat istrinya, Nabi Ya‘qub memiliki dua belas anak, yang dikenal sebagai Al-Asbath. Mereka adalah:
- Dari Layya: Rawbin, Syam‘uun, Lawi, Yahuza, Yasakir, dan Zabuwlon.
- Dari Rahil: Yusuf dan Bunyamin.
- Dari pembantu Rahil: Dan dan Naftali.
- Dari pembantu Layya: Jad dan Asyir.
Semua anak itu lahir di kampung Faddan Aram, kecuali Bunyamin yang lahir di Kanaan.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 137.

