Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 3: "Dari Pendirian Ka'bah hingga Kemusyrikan Arab"

Reza
0

Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail

Dalam suasana penuh haru dan bahagia setelah lama berpisah, Nabi Ibrahim membisikkan kepada Ismail wahyu yang baru diterimanya, “Wahai Anakku, Allah memerintahkanku untuk membangun sebuah rumah di tempat yang agak tinggi itu.”

Mendengar itu, Ismail langsung menunduk tanda taat, baik kepada Allah maupun kepada ayahnya.

Keduanya pun segera menuju tempat yang ditunjuk Allah, lalu mulai bekerja bersama. Dengan tangan dan tenaga mereka sendiri, mereka meratakan tanah, mengangkut pasir, dan menyusunnya menjadi bangunan suci yang diperintahkan Allah — yang kemudian disebut Baitullah atau Ka'bah.

Sambil bekerja keras di bawah panas matahari, kedua nabi itu berdoa, “Ya Allah, terimalah amal kami. Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Jadikanlah kami orang-orang yang tunduk kepada-Mu, dan juga anak keturunan kami menjadi umat Islam. Tunjukkanlah kepada kami cara beribadah yang benar, dan ampunilah dosa kami. Sungguh, Engkau Maha Pengampun dan Maha Penyayang.”

Doa itu dibaca di tempat Nabi Ibrahim berdiri dekat Ka'bah, yang kemudian dikenal sebagai Maqam Ibrahim. Kini, setiap orang yang tawaf mengelilingi Ka'bah dianjurkan shalat dua rakaat dan berdoa di tempat itu. Tempat itu tidak pernah sepi dari jamaah, dari zaman dahulu hingga kini — dan insya Allah akan terus ramai sampai hari kiamat.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 116.

Ucapan Nabi Ibrahim dan Ismail itu mengandung dua hal penting: Pertama, ungkapan persembahan kepada Allah. Kedua, doa atau permohonan agar Allah menjadikan mereka berdua beserta keturunan mereka sebagai umat muslim, yaitu orang-orang yang beriman dan berserah diri kepada Allah, serta agar agama dan tata caranya ditetapkan dengan sempurna.

Setelah berdoa, Nabi Ibrahim dan Ismail melanjutkan pekerjaan mereka hingga bangunan rumah Allah hampir selesai. Namun, masih dibutuhkan satu batu lagi untuk menyempurnakannya.

Ismail pun menemukan sebuah batu berwarna hitam yang mengkilap dan sangat indah. Karena begitu gembira, keduanya mencium batu itu sambil berjalan mengelilingi Ka'bah, lalu meletakkannya di sudut bangunan, tempat yang kini dikenal sebagai Hajar Aswad (Batu Hitam).

Sejak saat itu, setiap orang yang tawaf mengelilingi Ka'bah disunahkan mencium Hajar Aswad. Hingga kini, jutaan umat Islam berebut untuk menciumnya, siang dan malam tanpa henti.

Bagi yang tidak sempat mencium karena keramaian, cukup mengacungkan tangan ke arah batu itu lalu mencium tangannya sebagai tanda penghormatan. Meskipun tidak wajib, setiap jemaah haji berusaha keras untuk menciumnya, karena hal itu merupakan sunah yang mulia.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 117.

Mencium Hajar Aswad membuat kita merasa seolah-olah mencium Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, yang pertama kali mencium batu itu. Kita juga seakan-akan mencium Nabi Muhammad, para sahabat, dan semua umat Islam yang pernah menciumnya dari dulu sampai sekarang.

Ciuman itu melambangkan rasa cinta dan penghormatan, dan rasa cinta inilah yang membuat umat Islam dari seluruh dunia datang berhaji dan bertawaf mengelilingi Ka'bah — rumah Allah yang suci.

Ka'bah disebut juga Baitullahil Haram (rumah Allah), Baitul ‘Atiq (rumah tua), dan Baitul Ma’mur (rumah yang selalu ramai), karena dari masa ke masa tempat ini tidak pernah sepi dari pengunjung, sebagaimana Baitul Ma’mur di langit yang selalu dipenuhi malaikat.

Setelah Ka'bah selesai dibangun, Allah mengajarkan kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tata cara beribadah kepada-Nya, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Ajaran inilah yang kemudian diteruskan oleh para nabi dan rasul berikutnya hingga Nabi Muhammad Saw.

Akhirnya, Nabi Ibrahim berdoa: “Ya Tuhan kami, aku menempatkan keturunanku di lembah yang tandus di dekat rumah-Mu yang suci (Ka'bah), agar mereka mendirikan shalat. Jadikanlah tempat ini tempat untuk tawaf, iktikaf, rukuk, dan sujud. Tariklah hati manusia agar mencintai mereka. Berilah mereka rezeki berupa buah-buahan dan makanan, agar mereka menjadi orang yang bersyukur. Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab dan hikmah, serta membersihkan jiwa mereka. Sungguh, Engkau Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 118.

Berabad-abad lamanya, tempat itu terus didatangi manusia dari berbagai penjuru Arab untuk beribadah kepada Allah dengan tawaf, iktikaf, dan shalat. Mereka juga berkumpul pada waktu tertentu untuk melaksanakan umrah dan haji.

Namun, seiring berlalunya waktu, manusia mulai melupakan ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pengaruh perkembangan zaman membuat mereka menyimpang dari syariat yang diajarkan. Satu per satu ajaran itu ditinggalkan. Mereka menciptakan cara ibadah sendiri dan akhirnya menyembah rumah Allah (Ka'bah), bukan Allah yang memerintahkan mendirikannya.

Kemudian, kekuasaan atas rumah Allah dipegang oleh seorang bernama ‘Amar bin Lahyin, yang sangat dihormati karena kedermawanannya. Ia sering membagikan pakaian, makanan, dan minuman kepada para jamaah haji.

Pada suatu musim haji di masa jahiliah, ‘Amar bin Lahyin bahkan menyembelih 10.000 unta dan membagikan pakaian kepada puluhan ribu orang yang berhaji. Karena kebaikan itu, masyarakat sangat memujanya hingga menganggapnya seperti Tuhan. Segala ucapannya diikuti dan dijadikan aturan agama. Sejak itulah ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berubah.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 119.

Mereka lalu membuat aturan aneh tentang penyucian hewan yang disebut Bahirah, Saibah, Washilah, dan Ham.

Bahirah adalah unta betina yang sudah melahirkan lima kali. Kupingnya dibelah sebagai tanda, lalu unta itu dianggap suci—tidak boleh disembelih, dimakan, atau digunakan untuk bekerja.

Saibah adalah unta betina yang dinazarkan untuk berhala. Unta ini dilepaskan bebas, tidak boleh dikendarai, tidak boleh diambil bulu atau kukunya, dan susunya hanya boleh diminum oleh tamu.

Washilah adalah kambing yang sudah beranak tujuh kali. Hewan ini tidak boleh disembelih, apalagi jika ada kambing jantan yang serupa dengannya.

Ham adalah unta jantan yang sudah berhasil membuntingkan sepuluh betina. Unta ini dianggap milik berhala dan tidak boleh digunakan untuk bekerja.

Begitulah ajaran yang dibuat oleh ‘Amar bin Lahyin, dan masyarakat saat itu menaatinya sepenuhnya.

Kemudian, ketika ‘Amar bin Lahyin jatuh sakit, seseorang memberitahunya bahwa di daerah Balqa (Palestina) ada sumber air panas yang bisa menyembuhkan penyakit. Ia pun pergi ke sana dan mandi di sumber air itu — kebetulan penyakitnya sembuh.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 120.

Di negeri itu, ‘Amar bin Lahyin melihat banyak orang menyembah berhala. Ia pun bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab, “Ini berhala. Dengan berhala ini kami meminta hujan, dan hujan pun turun. Dengan berhala ini kami berdoa agar menang perang, dan kami menang.”

Mendengar itu, hati ‘Amar bin Lahyin tertarik. Ia lalu meminta satu berhala untuk dibawa ke Arab agar disembah di sana juga. Mereka memberinya sebuah berhala bernama Hubal. ‘Amar pun membawa Hubal ke Mekah dan menempatkannya di Ka'bah, lalu memerintahkan orang-orang Arab untuk menyembahnya. Sejak saat itu, orang-orang Arab menjadi musyrik.

Setelah itu, datang pula berhala-berhala lain dari berbagai negeri. Ka'bah pun dipenuhi ratusan berhala, seperti Lata, Manat, Yaghuts, dan Nasar.

Untuk menyadarkan bangsa Arab dari kesesatan dan penyembahan berhala, Allah mengutus Nabi Muhammad Saw., keturunan Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim. Beliau diutus bukan hanya untuk bangsa Arab, tetapi untuk seluruh umat manusia sebagai nabi terakhir (khatamun nabiyyin). Dengan diutusnya beliau, doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pun terkabul.

Ka'bah kembali dibersihkan dari berhala, dan manusia kembali menyembah Allah. Tempat itu kembali ramai dikunjungi umat dari seluruh dunia. Ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ditegakkan lagi setelah berabad-abad lamanya diselewengkan oleh kaum musyrik. Nabi Muhammad Saw. dan seluruh pengikutnya adalah penerus ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, sebagaimana juga semua nabi dan rasul yang datang sesudah keduanya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 121.

Allah berfirman dalam Surah Al-Hajj [22]: 78, "Dan berjuanglah kamu di jalan Allah dengan sebenar-benarnya kesungguhan (jiwa, raga dan harta). Dia (Allah) telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan suatu kesempitan bagimu dalam agama ini, yaitu agama yang diajarkan oleh bapakmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan juga di dalam (Al-Qur'an) ini supaya rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali (agama) Allah. Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong."

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 122.

Daftar Isi:

  1. Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 1
  2. Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 2
  3. Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 3

Kisah Nabi Ismail dalam Al-Qur'an:

  1. Ibrahim ayat 35-37
  2. Ibrahim ayat 37-38
  3. Ash-Shaffat ayat 102-113
  4. Al-Baqarah ayat 125-129
  5. Al-Hajj ayat 26
  6. Ali-'Imran ayat 96

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)