Saat Nabi Ibrahim meninggalkan Mesir menuju Palestina, keponakannya, Nabi Luth, ikut bersamanya. Namun, karena keadaan hidup yang pelik, mereka akhirnya berpisah. Nabi Luth memilih tinggal di sebuah kota bernama Sodom, yang letaknya masih di sekitar Palestina.
Penduduk kota itu terkenal sangat jahat dan bejat moralnya. Mereka terbiasa berbuat kejahatan seperti merampok, membunuh, dan menyiksa orang lain. Tidak ada orang asing yang berani melewati kota itu karena takut menjadi korban.
Yang paling keji dari kebiasaan mereka adalah perbuatan sesama jenis — laki-laki dengan laki-laki dan perempuan dengan perempuan. Ini jelas melanggar fitrah manusia. Para pria di sana tidak lagi tertarik kepada wanita, meski secantik apa pun. Mereka justru saling berebut laki-laki untuk dijadikan pasangan dan pemuasan nafsu. Setiap ada pemuda lewat, mereka menggoda, bahkan kadang sampai berkelahi dan menumpahkan darah karenanya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 123.
Bisa dibayangkan betapa malangnya nasib para perempuan saat itu. Tidak ada laki-laki yang mau kepada mereka. Karena itu, sebagian perempuan pun melakukan perbuatan tidak pantas dengan sesama perempuan hanya untuk memuaskan nafsu mereka. Masyarakat ketika itu benar-benar rusak, dan kejahatan merajalela di mana-mana.
Mereka hidup seperti itu selama bertahun-tahun. Bukannya sadar atau berhenti, malah makin parah karena tidak ada yang mau mendengarkan nasihat atau teguran. Kejahatan mereka sudah melewati batas kemanusiaan.
Melihat keadaan itu, Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Luth agar membimbing kaumnya. Nabi Luth diperintahkan untuk mengajak mereka menyembah Allah, meninggalkan perbuatan keji, dan berhenti dari segala dosa yang sudah menjadi kebiasaan mereka.
Namun, semua nasihat Nabi Luth tidak dihiraukan. Mereka tetap melakukan perbuatan jahat, bahkan semakin menjadi-jadi. Nabi Luth tetap sabar dan terus menasihati mereka, mengingatkan akan azab Allah. Tapi kaumnya justru menertawakan dan mengejeknya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 124.
Akhirnya, Nabi Luth berdoa kepada Allah. Ia memohon agar kaumnya yang sesat diberi petunjuk. Namun jika mereka sudah tidak bisa disadarkan lagi, Nabi Luth meminta agar Allah menurunkan azab yang besar — supaya mereka sadar atau musnah. Sebab, hidup mereka di dunia hanya membawa kerusakan dan kejahatan.
Doa Nabi Luth pun dikabulkan. Allah mengutus dua malaikat untuk menimpakan azab kepada kaum Nabi Luth yang durhaka itu.
Sebelum ke tempat Nabi Luth, kedua malaikat itu terlebih dulu datang ke rumah Nabi Ibrahim dalam wujud manusia. Nabi Ibrahim mengira mereka tamu biasa, lalu menyambut dan menjamu mereka. Namun, para malaikat itu menjelaskan bahwa mereka diutus Allah untuk menurunkan azab yang sangat dahsyat kepada kaum Nabi Luth yang ingkar.
Mendengar itu, Nabi Ibrahim terkejut dan memohon agar azab itu ditunda, berharap kaumnya Nabi Luth mau bertobat. Tapi para malaikat menjawab dengan tegas bahwa Allah sudah mengutus Nabi Luth untuk mengingatkan mereka, namun mereka tetap menolak kebenaran. Karena itu, keputusan azab sudah pasti. Nabi Luth dan para pengikutnya akan diselamatkan, sementara istrinya akan ikut terkena azab karena termasuk orang yang tidak beriman dan menolak kebenaran.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 125.
Kedua malaikat itu meninggalkan rumah Nabi Ibrahim dan menuju desa Sadum, tempat kaum yang durhaka. Mereka turun dalam wujud dua pemuda tampan dan gagah.
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan seorang gadis yang sedang mengambil air. Kedua malaikat itu meminta izin untuk singgah di rumahnya sebagai tamu. Namun gadis itu menjelaskan bahwa penduduk kampungnya sangat jahat — apalagi jika melihat laki-laki tampan, pasti akan timbul keributan. Ia pun meminta izin kepada mereka untuk memberitahu ayahnya terlebih dahulu sebelum menerima mereka sebagai tamu.
Sesampainya di rumah, gadis itu berkata kepada ayahnya, “Ayah, di gerbang kota ada dua pemuda asing yang sangat tampan. Mereka ingin bermalam di rumah kita. Tapi saya khawatir, kalau penduduk kampung tahu, pasti akan terjadi sesuatu yang buruk.” Ayahnya adalah Nabi Luth.
Nabi Luth terkejut mendengar kabar itu. Setelah menanyakan keadaan kedua pemuda tadi, ia mengajarkan kepada anaknya bagaimana caranya agar tamu-tamu itu tidak diketahui oleh warga.
Awalnya, Nabi Luth ragu untuk menerima mereka, karena takut jika penduduk mengetahui, mereka semua akan celaka. Tapi karena rasa belas kasih dan kewajiban menjamu tamu, akhirnya Nabi Luth menerima kedua pemuda itu untuk bermalam di rumahnya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 126.
Akhirnya, Nabi Luth diam-diam menemui kedua pemuda itu. Ia menasihati mereka agar berhati-hati supaya tidak diketahui penduduk desa, karena jika ketahuan, mereka bisa menjadi korban kejahatan. Nabi Luth pun menawarkan agar mereka bermalam di rumahnya, dengan syarat semuanya harus dilakukan secara hati-hati dan rahasia.
Dengan perasaan cemas, Nabi Luth membawa kedua tamunya pulang secara sembunyi-sembunyi. Namun, tanpa sepengetahuannya, istrinya justru memberitahu para penduduk tentang kedatangan dua tamu tampan itu.
Ketika Nabi Luth dan para tamu sudah berada di rumah, orang-orang kampung berdatangan dan mengepung rumahnya. Mereka ingin melihat, bahkan berniat jahat kepada kedua tamu Nabi Luth itu. Tak ada yang bisa dilakukan Nabi Luth selain menasihati mereka agar berhenti dari perbuatan keji dan kembali ke jalan yang benar, sebelum azab Allah menimpa mereka.
Namun nasihat itu sama sekali tidak mereka dengarkan. Sebagian malah mulai bersiap menyerbu rumah Nabi Luth untuk mengambil kedua pemuda itu. Melihat situasi makin berbahaya, Nabi Luth segera menutup dan mengunci pintu rumahnya rapat-rapat agar mereka tidak bisa masuk.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 127.
Nabi Luth kembali menasihati kaumnya dari jendela rumah. Ia meminta mereka kembali kepada istri masing-masing yang halal bagi mereka, meninggalkan kebiasaan keji itu, dan memperingatkan bahwa jika mereka tetap membangkang, azab Allah yang sangat dahsyat akan datang menimpa.
Namun mereka menjawab dengan sombong, “Hai Luth, kami tidak tertarik pada perempuan! Engkau pun tahu apa yang kami inginkan!”
Nafsu mereka sudah menguasai diri sepenuhnya. Tak ada nasihat yang bisa menyentuh hati mereka lagi. Mereka terus memaksa masuk ke rumah Nabi Luth, hingga akhirnya berhasil menerobos dan menyerbu dua tamu tampan itu, berebutan seperti binatang buas.
Melihat hal itu, kedua tamu berkata kepada Nabi Luth, “Jangan takut, wahai Luth! Kami adalah malaikat utusan Allah. Kami datang untuk menolongmu dan mengabulkan doamu. Mereka tidak akan bisa menyakitimu. Sebaliknya, merekalah yang akan dibinasakan.”
Mendengar itu, ketakutan Nabi Luth pun hilang. Dengan pertolongan Allah, Nabi Luth, anak perempuannya, dan kedua malaikat itu berhasil lolos dari kepungan orang-orang durhaka tersebut. Malaikat memerintahkan Nabi Luth untuk segera meninggalkan desa itu tanpa membawa istrinya, karena istrinya termasuk golongan yang akan mendapat azab.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 128.
Setelah Nabi Luth dan para pengikutnya pergi, turunlah azab Allah atas negeri Saduum. Bumi berguncang sangat hebat hingga semua bangunan runtuh, lalu hujan batu turun deras menghancurkan segalanya. Dalam sekejap, kampung itu rata dengan tanah dan semua penduduk yang durhaka pun binasa.
Allah berfirman, “Peristiwa ini adalah tanda kekuasaan-Ku, tetapi banyak manusia yang tidak mau percaya.”
Azab yang menimpa kaum Nabi Luth sangat mengerikan karena dosa mereka adalah puncak dari segala kejahatan dan kemesuman. Pembunuhan, zina, dan perampokan sudah termasuk perbuatan keji, tetapi hubungan sesama laki-laki atau sesama perempuan jauh lebih hina — bahkan binatang pun tidak melakukannya.
Jika perbuatan itu dibiarkan meluas, keturunan manusia akan terhenti dan manusia bisa punah dari muka bumi, menyisakan hanya binatang-binatang yang melata.
Manusia akan kehilangan rasa malu jika meninggalkan ajaran Allah dan rasul-Nya. Tanpa rasa malu, manusia akan jatuh lebih rendah daripada binatang yang tak berakal.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 129.
Nabi Luth, kedua putrinya, dan para pengikut yang beriman diselamatkan Allah dari azab besar itu karena mereka beriman. Namun, istri Nabi Luth ikut binasa karena termasuk orang kafir.
Sayangnya, dalam Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) pasal 19 ayat 30–38, terdapat cerita yang menodai kesucian Nabi Luth dan kedua putrinya. Dalam kisah itu disebutkan bahwa setelah semua laki-laki musnah, kedua putri Nabi Luth ingin memiliki keturunan. Mereka lalu memberi ayahnya minuman keras agar mabuk, dan ketika kehilangan kesadaran, Nabi Luth dikatakan berhubungan dengan putri-putrinya sendiri. Na‘ūdzubillāh — semoga Allah melindungi kita dari cerita yang keji seperti itu.
Nabi Muhammad diutus membawa Al-Qur’an, salah satunya untuk membersihkan nama para nabi dan rasul dari tuduhan yang tidak benar, termasuk Nabi Luth dan putri-putrinya.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Luth adalah salah satu dari orang-orang yang diutus.” Artinya, Nabi Luth adalah rasul Allah yang suci. Tidak mungkin seorang rasul meminum minuman haram hingga mabuk, apalagi berbuat dosa besar dengan anaknya sendiri. Itu tuduhan palsu yang sangat keji. Umat Islam wajib menjaga dan membela kesucian para nabi dan rasul Allah, termasuk Nabi Luth dan keluarganya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 130.
Kisah Nabi Luth dalam Al-Qur'an:
- Al-A'raf ayat 80-84
- An-Naml ayat 54-58
- Hud ayat 77-83
- Al-Ankabut ayat 26-35
- Asy-Syu'ara ayat 160-175
- Al-Hijr ayat 57-77
- Ash-Shaffat ayat 133-138
- Al-An'am ayat 86
- Al-Anbiya' ayat 74-75
- Al-Hajj ayat 43-44
- Qaf ayat 13-14
- Al-Qamar ayat 33-39
Sumber Thumbnail: www.gramedia.com.

