Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 1: "Awal Kehidupan & Ujian Pertama"

Reza
0

Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 1: "Awal Kehidupan & Ujian Pertama"

Nabi Ibrahim bersama istrinya, Sarah, dan pembantunya, Hajar, telah pindah ke Palestina. Mereka hidup bersama keluarga kecil dan beberapa pengikutnya. Namun, Sarah merasa sedih karena belum juga memiliki anak, padahal usianya sudah tua. Biasanya, pada usia seperti itu, seorang wanita tidak mungkin bisa hamil lagi.

Dengan hati yang ikhlas, Sarah menyarankan kepada suaminya agar menikah dengan pembantunya, Hajar. Hajar adalah perempuan yang baik, jujur, dan berbudi luhur. Sarah berharap, melalui pernikahan itu, Nabi Ibrahim bisa memiliki anak yang akan menjadi penerus hidup dan perjuangannya dalam berdakwah.

Nabi Ibrahim menerima saran istrinya itu, lalu menikahi Hajar. Dari pernikahan itu lahirlah seorang anak laki-laki yang suci dan mulia bernama Ismail (Nabi Ismail). Kelahiran Ismail membuat Nabi Ibrahim sangat bahagia, dan Sarah pun ikut merasakan kegembiraan itu.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 101.

Namun kebahagiaan Sarah tidak berlangsung lama. Tak lama kemudian, hatinya mulai dipenuhi perasaan iri dan gelisah. Ia merasa tidak tenang dan tidak sanggup lagi melihat Hajar dan anaknya.

Sarah pun mengungkapkan perasaannya kepada Nabi Ibrahim. Ia meminta agar Ibrahim membawa Hajar dan anaknya pergi jauh, ke tempat yang tidak terlihat dan tidak terdengar kabarnya lagi. Melalui petunjuk dari Allah, Nabi Ibrahim menerima permintaan itu.

Akhirnya, Nabi Ibrahim berangkat bersama Hajar dan anaknya melakukan perjalanan jauh. Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka tiba di suatu tempat. Di sanalah Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail dengan bekal yang sangat sedikit. Sebelum pergi, ia berdoa agar Allah menjaga istri dan anaknya dari segala bahaya.

Ketika Ibrahim mulai pergi meninggalkan mereka, Hajar berlari mengejarnya dan memegang tali unta yang ditungganginya sambil berkata, “Wahai suamiku, ke mana engkau akan pergi? Mengapa engkau meninggalkan kami di tempat yang sepi dan menakutkan ini?”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 102.

Hajar memohon dengan penuh harap agar Nabi Ibrahim merasa kasihan padanya dan pada anak mereka yang masih kecil. Ia bertanya dengan sedih, siapa yang akan melindungi mereka dari kelaparan, kehausan, binatang buas, panasnya matahari di siang hari, dan dinginnya malam. Semua itu ia katakan dengan lembut sambil meneteskan air mata.

Namun Nabi Ibrahim tetap diam. Ia menjelaskan bahwa semua ini adalah perintah dari Allah dan meminta Hajar untuk bersabar menerima takdir-Nya.

Mendengar itu, Hajar pun berkata dengan pasrah, “Sekarang aku mengerti. Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Kemudian Nabi Ibrahim melanjutkan perjalanannya seorang diri di padang pasir yang luas dan berbahaya. Ia mendaki gunung, menembus jurang, dan menghadapi banyak kesulitan. Ia meninggalkan istri dan anak yang sangat dicintainya semata-mata karena menaati perintah Allah, tanpa bekal apa pun selain iman dan ketaatan.

Sebagai seorang nabi, Ibrahim menahan semua penderitaan lahir dan batin dengan sabar dan tenang, menyerahkan semuanya kepada kehendak Allah.

Sambil berjalan menjauh, Nabi Ibrahim berdoa, “Ya Tuhan kami, aku telah meninggalkan anak dan istriku di lembah yang tandus, tanpa tanaman sedikit pun. Ya Allah, jadikanlah mereka orang-orang yang mendirikan salat. Lembutkanlah hati manusia agar mencintai mereka, dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, agar mereka bersyukur kepada-Mu.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 103.

Telaga Zamzam

Tempat Nabi Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail yang disebut padang pasir tandus itu sebenarnya adalah kota Mekah. Dari peristiwa inilah sejarah Mekah dan munculnya telaga Zamzam dimulai.

Hajar pasrah dan menyerahkan semuanya kepada Allah dengan sabar dan tenang. Ia memakan bekal yang tersisa dan meminum air yang masih ada, hingga semuanya habis. Kini, ia dan anaknya hanya bisa menunggu nasib dengan perut kosong dan haus yang luar biasa — penderitaan yang amat berat. Ismail yang masih bayi sangat membutuhkan susu, tetapi air pun tak ada di sana. Lapar makin terasa, tenggorokan kering, dan panas padang pasir begitu menyengat. Tubuh yang awalnya kuat kini mulai lemah dan kurus. Tak ada lagi yang bisa dilakukan selain menangis dan berdoa kepada Allah.

Karena lapar dan haus yang sangat, Ismail semula menangis keras, tapi lama-lama tubuhnya terlalu lemah untuk menangis. Matanya mulai cekung, badannya kurus, dan napasnya tersengal — seolah hidupnya tinggal menunggu waktu karena kehausan.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 104.

Hajar berusaha sekuat tenaga menyelamatkan nyawa anaknya dan tetap sabar menghadapi keadaan. Namun, apa lagi yang bisa ia lakukan? Akhirnya, ia meletakkan anaknya yang lemas di atas pasir, lalu pergi mencari air. Setelah itu ia kembali melihat anaknya, kemudian pergi lagi mencari air. Begitu seterusnya ia lakukan berulang kali antara dua tempat yang kini disebut Safa dan Marwa.

Setiap kali ia kembali, ia merasa melihat tanda-tanda air di Safa, tapi setelah didatangi, ternyata tidak ada apa-apa. Maka ia kembali lagi ke anaknya di Marwa. Ia terus bolak-balik tujuh kali. Sementara itu, anaknya yang kehausan semakin lemah dan hanya bisa menangis tanpa suara.

Akhirnya, Hajar duduk kelelahan, bingung harus berbuat apa lagi. Ia menatap wajah anaknya yang lemah sambil menangis, keringat bercucuran dari dahinya, dan tetesan keringat itu membasahi bibir anaknya yang kering. Betapa bahagianya Hajar melihat anaknya masih hidup. Ia segera memeluk dan menciumi anak itu dengan penuh kasih, dan tampaklah air mata menetes dari mata sang bayi.

Hanya keyakinan kepada Allah yang membuat Hajar tidak putus asa. Ia percaya bahwa Allah pasti menolongnya dan membebaskannya dari penderitaan ini. Setelah yakin anaknya masih hidup, Hajar pun kembali berjalan ke tengah padang pasir untuk mencari air.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 105.

Ketika Hajar kembali ke tempat anaknya, tak jauh dari sana ia melihat tumpukan pasir yang tampak agak basah. Ia menyentuhnya dengan jarinya dan benar, pasir itu lembap. Lalu ia mulai menggali, dan semakin dalam digali, pasir itu makin basah hingga akhirnya keluarlah air. Dengan kehendak Allah Swt., dari situlah muncul sebuah mata air — yang kini dikenal sebagai Telaga Zamzam.

Hajar dan anaknya, Ismail, segera meminum air itu hingga puas sambil bersyukur kepada Allah yang telah mengabulkan doa mereka dan doa Nabi Ibrahim saat meninggalkan mereka.

Tak lama kemudian, burung-burung padang pasir berdatangan untuk minum di tempat itu. Dari kedatangan burung-burung itulah, orang-orang yang hidup di sekitar padang pasir mengetahui adanya air dan mulai berdatangan pula untuk mengambilnya.

Lama-kelamaan, tempat itu menjadi ramai dan akhirnya dijadikan tempat tinggal oleh banyak orang. Hajar dan Ismail pun hidup bersama mereka di sana. Tempat itu kemudian dikenal sebagai kota Mekah.

Seiring berjalannya waktu, Mekah menjadi pusat berkumpulnya manusia dari berbagai zaman, terutama setelah Islam datang dan memerintahkan umat Muslim untuk berhaji ke sana.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 106.

Dari kisah Hajar dan Ismail inilah sebagian besar tata cara ibadah haji berasal — seperti berlari (sa’i) antara Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali, serta amalan lainnya. Dari keturunan Nabi Ismail pula akhirnya lahir Nabi Muhammad Saw. di kota Mekah.

Tugas "Penyembelihan Agung"

Nabi Ibrahim tidak pernah melupakan istri dan anaknya yang ditinggalkan jauh di padang pasir yang gersang, tanpa manusia maupun tumbuhan. Ia hanya bisa menyerahkan nasib mereka berdua kepada Allah, terutama anaknya, Ismail, yang sudah lama ia dambakan di masa tuanya.

Untuk mengetahui keadaan mereka, Nabi Ibrahim sering mengutus orang ke sana. Betapa bahagianya beliau setiap kali mendengar kabar bahwa Hajar dan Ismail dalam keadaan sehat. Apalagi kini di tempat itu telah muncul sumber air yang membuat banyak musafir datang, sehingga daerah itu mulai ramai.

Nabi Ibrahim pun bersyukur dan berdoa, “Ya Allah, aku telah meninggalkan istri dan anakku di tempat yang sepi dan tandus. Berilah mereka rezeki berupa air dan buah-buahan, dan jadikanlah hati manusia tertarik kepada mereka agar mereka tidak merasa kesepian.”

Doa seorang ayah untuk istri dan anaknya yang jauh selalu mendapat perhatian dari Allah — apalagi doa itu datang dari seorang nabi dan rasul, yang juga merupakan bapak para nabi dan rasul setelahnya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 107.

Beberapa tahun telah berlalu sejak perpisahan itu. Nabi Ibrahim merasa sangat rindu kepada Hajar dan Ismail. Dengan izin istrinya, Sarah, ia pun berangkat ke selatan untuk mencari mereka.

Saat tiba di tempat dulu ia meninggalkan mereka, Nabi Ibrahim terkejut karena daerah itu kini sudah ramai dan menjadi tempat tinggal banyak orang. Tempat itu diberi nama Bakkah atau Mekah. Ia juga baru tahu bahwa Hajar dan Ismail dianggap sebagai penjaga atau pemilik sumber air Zamzam, sehingga mereka sangat dihormati oleh penduduk setempat.

Kini kehidupan Hajar dan Ismail sudah baik. Selain mengurus telaga Zamzam, mereka juga memiliki banyak kambing yang diternakkan. Nabi Ibrahim bertanya kepada orang-orang di sekitar tentang keberadaan mereka. Mereka menjawab bahwa Hajar dan Ismail sedang berada di padang menggembalakan kambing.

Nabi Ibrahim segera menuju ke sana. Di tempat yang kini disebut Padang Arafah, ia akhirnya bertemu kembali dengan istri dan anaknya.

Pertemuan itu penuh haru dan kebahagiaan. Setelah bertahun-tahun berpisah, mereka kini berkumpul lagi dalam keadaan sehat. Dengan rasa syukur yang dalam, mereka bersama-sama mengucapkan, “Allaahu akbar... Allaahu akbar... wa lillaahil hamdu...”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 108.

Daftar Isi:

  1. Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 1
  2. Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 2
  3. Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 3

Kisah Nabi Ismail dalam Al-Qur'an:

  1. Ibrahim ayat 35-37
  2. Ibrahim ayat 37-38
  3. Ash-Shaffat ayat 102-113
  4. Al-Baqarah ayat 125-129
  5. Al-Hajj ayat 26
  6. Ali-'Imran ayat 96

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)