Setelah matahari terbenam dan udara mulai sejuk, Nabi Ibrahim bersama Hajar dan Ismail pulang menuju Mekah. Mereka berhenti di suatu tempat yang sekarang disebut Muzdalifah (dalam Al-Qur’an disebut Masy’aril Haram). Karena kelelahan, mereka pun tertidur.
Dalam tidurnya, Nabi Ibrahim bermimpi bahwa Allah memerintahkannya untuk menyembelih anaknya, Ismail, sebagai kurban. Setelah bangun, ia berkata lembut kepada putranya, “Wahai anakku, aku bermimpi bahwa Allah memerintahkanku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu?”
Ismail menjawab dengan penuh keyakinan, “Wahai Ayahku, laksanakanlah perintah Allah itu. Aku akan berusaha sabar, insyaa Allah.”
Itulah percakapan luar biasa antara seorang ayah dan anak di dunia ini. Keduanya sama-sama menunjukkan keteguhan iman dan kepasrahan yang sempurna kepada Allah.
Sebelumnya, Nabi Ibrahim telah diuji dengan api yang menyala-nyala, tetapi ia tetap tabah dan selamat. Ismail dan ibunya juga pernah diuji ditinggalkan di padang pasir tanpa bekal, namun mereka tetap sabar dan akhirnya Allah menolong mereka.
Kini keduanya menghadapi ujian yang jauh lebih berat — Nabi Ibrahim diminta menyembelih anaknya sendiri, yang sangat ia cintai dan baru saja ditemuinya kembali setelah sekian lama berpisah. Namun keduanya tetap tabah dan taat. Sungguh, tidak ada yang lebih besar dari keimanan dan kepasrahan mereka kepada Allah.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 109.
Cobaan kali ini sangat berat bagi Nabi Ibrahim. Sejak muda, ia selalu berharap memiliki anak. Setelah lama menunggu, akhirnya Allah memberinya seorang anak. Bersama anak itu, ia menempuh banyak perjuangan untuk menaati perintah Allah. Kini, di usia tuanya, saat ia sangat menyayangi anak itu dan berharap menjadi penerusnya, Allah justru memerintahkannya menyembelih anaknya dengan tangannya sendiri.
Namun, karena iman dan ketaatan mereka yang kuat, Nabi Ibrahim dan Ismail rela melaksanakan perintah itu tanpa ragu. Mereka segera berangkat menuju sebuah tempat berbukit di kaki gunung, yang sekarang dikenal sebagai Mina.
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan seorang lelaki yang menanyakan tujuan mereka. Setelah Nabi Ibrahim menjelaskan bahwa ia akan menyembelih anaknya sebagai kurban untuk Allah, lelaki itu mencoba melarang dengan berbagai alasan.
Nabi Ibrahim dan Ismail menyadari bahwa orang itu sebenarnya iblis yang menyamar sebagai manusia untuk menggoda mereka. Lalu Nabi Ibrahim melemparinya dengan batu berkali-kali hingga iblis itu pergi. Tempat itu sekarang dikenal sebagai Jumrah Ula.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 110.
Mereka melanjutkan perjalanan sekitar 400 meter dari tempat sebelumnya. Di sana muncul lagi seorang lelaki yang mencoba melarang Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah dengan berbagai alasan. Nabi Ibrahim dan Ismail tahu bahwa itu iblis yang menyamar, lalu mereka melemparinya dengan batu hingga pergi. Tempat itu kini dikenal sebagai Jumrah Wustha.
Tak lama kemudian, setelah berjalan sekitar 400 meter lagi, muncul iblis yang ketiga kalinya. Mereka kembali melemparinya dengan batu, dan tempat itu sekarang disebut Jumrah Aqabah.
Akhirnya, Nabi Ibrahim dan Ismail tiba di kaki bukit tinggi di Mina, yang kini disebut Bukit Malaikat. Di sanalah Nabi Ibrahim akan melaksanakan perintah Allah — menyembelih Ismail.
Keduanya sudah siap. Nabi Ibrahim menggenggam pedang tajam, sementara Ismail berbaring di atas batu besar, menyiapkan lehernya untuk disembelih.
Untuk meringankan perasaan ayahnya, Ismail meminta agar tangan dan kakinya diikat, dan bajunya dilepas untuk menutupi wajahnya sendiri. Ia juga meminta agar pedang diasah lebih tajam, supaya penyembelihan tidak terlalu lama dan menyakitkan.
Sebelum pelaksanaan itu, Ismail berpamitan kepada ayah dan ibunya. Ia juga meminta agar bajunya diberikan kepada ibunya, agar bisa dikenang dan dicium ketika ibunya merasa rindu padanya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 111.
Tibalah saatnya Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih Ismail. Ketika Ismail membaringkan lehernya di atas batu dan Nabi Ibrahim mengangkat pedangnya, tiba-tiba terdengar suara dari puncak bukit memanggil, “Wahai Ibrahim, engkau telah melaksanakan perintah Allah seperti yang ada dalam mimpimu. Allah akan membalas ketaatanmu.”
Nabi Ibrahim segera menoleh ke arah suara itu dan melihat malaikat turun membawa seekor domba (kibasy) yang gemuk dan sehat. Malaikat itu berkata, “Wahai Ibrahim, sembelihlah domba ini sebagai pengganti anakmu Ismail. Makanlah sebagian dagingnya, jadikan hari ini hari raya, dan bagikan sebagian untuk orang miskin sebagai kurban.”
Lalu darah pun mengalir di atas batu, bukan darah Ismail, tetapi darah domba yang diberikan Allah sebagai pengganti. Begitulah cara Allah menyelamatkan Ismail dan menerima pengorbanan Nabi Ibrahim.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an: “Wa fadaināhu bi dzibhin ‘azhīm” — “Kami tebus dia dengan satu penyembelihan yang agung.”
Artinya, pengorbanan Ismail begitu besar nilainya, sehingga tidak bisa dibandingkan, bahkan dengan semua domba di dunia ini.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 112.
Karena seekor domba saja tidak sebanding dengan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail, maka Allah melalui Nabi Muhammad memerintahkan umat Islam sejak dahulu hingga akhir zaman untuk menyembelih hewan kurban dan akikah.
Kurban hukumnya wajib bagi yang menunaikan haji, dan sunnah muakkad bagi setiap muslim yang tidak berhaji. Waktunya adalah tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah setiap tahun. Sedangkan akikah disunnahkan bagi setiap muslim yang dikaruniai anak, sebagai bentuk rasa syukur dan penebusan bagi sang anak.
Setiap tahun, pada hari raya Idul Adha, jutaan domba, sapi, dan unta disembelih oleh umat Islam di seluruh dunia sebagai kurban atau akikah. Dagingnya dibagikan kepada fakir miskin. Dengan berkurban dan berakikah, umat Islam ikut meneladani dan mengenang pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail. Inilah makna dari “Dzibhin ‘Adhiim,” yaitu penyembelihan yang sangat agung karena tujuan dan maknanya yang dalam.
Islam juga mengajak umat beriman dari seluruh dunia untuk berkumpul di Mekah sekali seumur hidup dalam ibadah haji. Tujuannya bukan hanya beribadah, tetapi juga memperkuat persaudaraan dan persatuan umat Islam, serta menghidupkan kembali jejak Nabi Ibrahim, Ismail, dan Hajar.
Tempat-tempat penting yang dikunjungi dalam ibadah haji antara lain: Ka'bah (Baitullahil Haram), Telaga Zamzam, Safa dan Marwa, Arafah, Muzdalifah (Masy’aril Haram), dan tiga Jumrah — Ula, Wustha, dan Aqabah — yang dilakukan antara tanggal 8 sampai 13 Dzulhijjah.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 113.
Para jamaah haji memakai pakaian ihram, yaitu pakaian sederhana seperti yang dikenakan Nabi Ibrahim dan Ismail. Mereka wukuf di Arafah, bermalam di Muzdalifah, melempar tiga jumrah, berdiam di Mina beberapa hari, dan berkurban dengan menyembelih kambing, sapi, atau unta. Setelah itu, mereka bertawaf mengelilingi Ka'bah, shalat di dekat makam Nabi Ibrahim, minum air zamzam, berlari kecil (sa’i) antara Safa dan Marwa, lalu memotong rambut (tahallul) sebagai tanda selesai beribadah haji.
Selama melaksanakan haji, jamaah tidak boleh bertengkar, berkata kotor, membunuh makhluk hidup, atau mencabut tumbuhan.
Itulah cara Islam menegakkan syiar Allah dan melestarikan ajaran Nabi Ibrahim, sebagai agama yang terus berkembang dan diikuti oleh banyak bangsa hingga akhir zaman.
Nabi Ismail dan Bangsa Jurhum
Daerah sekitar Telaga Zamzam semakin ramai dan mulai dihuni banyak orang. Akhirnya terbentuklah masyarakat baru di sekitar tempat itu. Kabar tersebut sampai kepada suku Jurhum, yang tinggal di bagian bawah Kota Mekah. Mereka datang ingin menikmati air Zamzam yang terus mengalir.
Hajar, ibu Ismail, menerima mereka dengan baik dan memperbolehkan mereka tinggal sebagai tamu terhormat, selama mereka menaati aturan yang telah ia tetapkan.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 114.
Kini Ismail sudah dewasa dan hidup di tengah banyak orang. Ia membimbing mereka ke jalan yang benar dan mengajarkan kata-kata yang baik, sehingga bahasa Arab mulai terbentuk dengan teratur. Akhirnya, Ismail menikah dengan seorang perempuan dari kaum itu.
Namun, pernikahan pertamanya tidak bertahan lama, karena istrinya tidak berperilaku baik dan orang tua istrinya ingin mereka berpisah. Maka, Ismail dan istrinya pun berpisah.
Kemudian, Ismail menikah lagi dengan perempuan lain yang lebih baik. Dari istri keduanya ini, lahirlah beberapa anak, dan dari keturunannya kelak lahir Nabi Muhammad Saw.
Mendirikan Ka'bah
Nabi Ibrahim berpisah lama dengan Ismail. Selama itu, ia berkeliling padang pasir yang luas untuk mengajak manusia menyembah Allah. Sementara itu, Ismail tetap tinggal di sekitar Telaga Zamzam, tempat yang makin ramai karena airnya tidak pernah berhenti mengalir.
Suatu hari, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menemui Ismail dan mendirikan rumah Allah (Ka'bah) di dekat Telaga Zamzam.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya Ibrahim bertemu kembali dengan Ismail di tepi Telaga Zamzam. Mereka berbincang penuh kasih, melepas rindu setelah lama berpisah.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 115.
Daftar Isi:
- Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 1
- Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 2
- Bey Arifin - Kisah Nabi Ismail, Part 3
Kisah Nabi Ismail dalam Al-Qur'an:
- Ibrahim ayat 35-37
- Ibrahim ayat 37-38
- Ash-Shaffat ayat 102-113
- Al-Baqarah ayat 125-129
- Al-Hajj ayat 26
- Ali-'Imran ayat 96

