Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 3: "Mukjizat Api Dingin"

Reza
0

Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim

Di Mesir, mereka bertemu dengan seorang raja yang memerintah dengan keras dan sewenang-wenang. Sarah, istri Ibrahim, terkenal sangat cantik, dan kecantikannya membuat raja itu tertarik setelah melihat wajahnya. Akibatnya, raja memanggil Nabi Ibrahim ke istana dan menanyainya tentang hubungannya dengan Sarah.

***

Api yang Tidak Dapat Membakar

Keputusan untuk membakar Nabi Ibrahim sudah bulat. Mereka menyalakan api sebesar-besarnya, sesuai dengan besarnya amarah di hati mereka. Tidak hanya satu atau dua ton kayu, tapi kayu bakar dikumpulkan setinggi bukit. Semua orang — tua, muda, laki-laki, perempuan — berlomba-lomba mengumpulkan kayu selama beberapa hari. Menurut keyakinan sesat mereka, siapa yang membawa kayu paling banyak akan mendapat pahala paling besar dan dicintai oleh berhala-berhala mereka.

Setelah kayu menumpuk tinggi seperti bukit, Nabi Ibrahim dipaksa berdiri di tengah-tengahnya untuk dibakar hidup-hidup. Namun, Ibrahim tidak takut sedikit pun. Ia tetap tenang dan yakin. Baginya, menjalankan perintah Allah jauh lebih penting, dan hanya Allah yang bisa menyelamatkannya. Imannya makin kuat, tidak tergoyahkan.

Api pun dinyalakan. Kobaran merahnya menjilat langit, suaranya berderak-derak, asap tebal membumbung tinggi seolah bumi ikut terbakar. Di tengah kobaran itu, Nabi Ibrahim berdiri, dikelilingi api dan asap.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 92.

Semua kayu akhirnya menjadi bara merah, lalu perlahan berubah menjadi abu dan habis sama sekali. Setelah api padam setelah menyala selama berjam-jam, semua orang terkejut. Nabi Ibrahim keluar dari tumpukan abu dengan selamat. Tidak ada luka sedikit pun di tubuhnya. Api itu patuh pada perintah Allah, menjadi dingin dan memberi kesejukan bagi Nabi Ibrahim.

Melihat keajaiban itu, semua orang menunduk malu. Mereka tidak berani saling memandang, apalagi menatap wajah Nabi Ibrahim.

Peristiwa itu menjadi bukti besar kebesaran Allah dan mukjizat bagi Nabi Ibrahim, disaksikan langsung oleh banyak orang yang sebelumnya ingkar.

Sebenarnya, banyak dari mereka mulai percaya dan ingin mengikuti ajaran Ibrahim. Namun karena takut pada raja dan para pemimpin yang membenci Ibrahim, hanya sedikit yang benar-benar ikut. Sebagian tetap menolak karena ingin mempertahankan kedudukan dan harta, sementara yang lain takut disiksa atau dibunuh jika beriman kepada ajaran Nabi Ibrahim.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 93.

Nabi Ibrahim VS Raja Namrud

Melihat mukjizat itu, Raja Namrud yang merasa berkuasa menjadi takut. Karena itu ia menumpahkan rasa takutnya menjadi marah kepada Nabi Ibrahim.

Namrud memanggil Ibrahim menghadap dan menuduhnya, “Kamu menebar fitnah. Siapa Tuhan yang kamu yakini itu? Bukankah aku yang berkuasa di sini? Akulah yang harus disembah. Aku yang mengatur semuanya. Siapa yang lebih berkuasa dariku? Hukum dan keputusanku harus ditaati. Kenapa kamu berani menentang aku?”

Ibrahim menjawab tenang dan tegas, “Allahlah yang patut disembah — Dia lebih berkuasa dari semua penguasa. Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Pencipta langit dan matahari. Sedangkan kekuasaanmu kau dapatkan bukan dengan jalan yang benar.”

Namrud tetap membangkang dan berkata lantang, “Akulah yang memberi hidup dan mati!” lalu menyuruh penjaganya memanggil dua budaknya. Setelah mereka datang, Namrud berkata kepada Ibrahim, “Sekarang akan kau lihat: satu dari kedua budak ini akan kubunuh, dan satu lagi akan kukembalikan hidupnya.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 94.

Sambil berkata begitu, Namrud mencabut pedangnya. Tanpa rasa kasihan, ia menebas leher salah satu budaknya hingga mati, sementara budak yang satunya dibiarkan hidup. Lalu ia berkata kepada Ibrahim, “Lihat, aku bisa menghidupkan dan mematikan.”

Ibrahim menjawab, “Tuhanku menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkannya di barat. Kalau kau benar-benar berkuasa, cobalah buat matahari terbit dari barat.”

Mendengar tantangan itu, Namrud terdiam dan tidak bisa menjawab.

Sejak saat itu, kebencian Namrud terhadap Nabi Ibrahim semakin besar. Ia menganggap Ibrahim musuh besar yang harus disingkirkan, karena takut Ibrahim akan punya banyak pengikut dan menggoyahkan kekuasaannya.

Ibrahim tahu bahwa Namrud berencana membunuhnya. Maka, ia memutuskan meninggalkan negerinya diam-diam dan pergi mengembara ke tempat yang belum pernah ia kenal. Ia meninggalkan bangsanya yang durhaka, yang terus-menerus mendapat azab dari Allah.

Akhirnya, Nabi Ibrahim sampai di tanah Palestina (Negeri Syam). Sejak saat itulah dimulai sejarah panjang perjuangan manusia di Palestina — antara kebenaran dan kebatilan — yang terus berlanjut hingga kini.

Ibrahim di Palestina

Nabi Ibrahim berjalan melewati gunung dan padang pasir yang tandus. Saat matahari terbenam dan malam tiba, langit menjadi gelap, hanya diterangi ribuan bintang yang berkelap-kelip.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 95.

Dalam perjalanan itu, Nabi Ibrahim melihat orang-orang yang menyembah bintang-bintang. Ia berkata kepada mereka, “Itulah Tuhanku.” Ia berkata begitu bukan karena benar-benar percaya, tapi untuk mengajak mereka berpikir dan perlahan menunjukkan kebenaran dengan cara yang lembut.

Namun, ketika bintang-bintang itu tenggelam dan menghilang, Ibrahim berkata, “Aku tidak suka pada tuhan yang meninggalkanku dalam gelap. Tuhan sejati tidak berubah-ubah seperti itu.”

Tak lama kemudian, muncullah bulan purnama yang terang dan indah. Ibrahim berkata lagi kepada mereka, “Inilah Tuhanku,” sambil terus membimbing mereka berpikir. Tapi ketika bulan itu pun akhirnya tenggelam dan malam kembali gelap, Ibrahim berkata, “Kalau bulan ini tidak bisa menerangiku terus, tentu aku akan tersesat. Tuhan yang sejati seharusnya selalu menerangi dan menunjukkan jalan yang benar.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 96.

Ketika Nabi Ibrahim melihat matahari yang bersinar terang dan panas, ia kagum lalu berkata di depan banyak orang, “Inilah Tuhanku! Lihatlah cahayanya yang menerangi langit dan bumi, membuat semuanya hidup dan bahagia. Matahari ini jauh lebih besar dan bermanfaat daripada bintang dan bulan.”

Namun, ketika matahari tenggelam, Ibrahim berkata lagi dengan tegas, “Matahari bukan Tuhanku. Orang yang menyembahnya benar-benar sesat.”

Kemudian Ibrahim menjelaskan bahwa bintang, bulan, dan matahari semuanya adalah ciptaan Allah Yang Mahakuasa. Hanya Allah-lah yang pantas disembah dan dihormati. Ia berkata, “Aku hanya menyembah Allah yang menciptakan langit dan bumi, dan aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya.”

Ibrahim di Mesir

Beberapa waktu kemudian, negeri Palestina tempat Ibrahim tinggal dilanda penyakit menular dan kehidupan di sana menjadi sulit. Maka Ibrahim bersama istrinya, Sarah, pindah ke Mesir.

Di Mesir, mereka bertemu dengan seorang raja yang memerintah dengan keras dan sewenang-wenang. Sarah, istri Ibrahim, terkenal sangat cantik, dan kecantikannya membuat raja itu tertarik setelah melihat wajahnya. Akibatnya, raja memanggil Nabi Ibrahim ke istana dan menanyainya tentang hubungannya dengan Sarah.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 97.

Nabi Ibrahim tahu maksud jahat raja itu. Ia sadar kalau mengatakan bahwa Sarah adalah istrinya, raja mungkin akan berbuat buruk padanya atau pada Sarah. Karena itu, Nabi Ibrahim menjawab dengan bijak, “Perempuan itu adalah saudaraku.” Maksudnya bukan saudara kandung, tapi saudara dalam arti luas — sesama manusia, seagama, dan sebangsa.

Mendengar jawaban itu, raja memerintahkan agar Ibrahim dan Sarah tinggal di istana.

Ibrahim pun kembali menemui Sarah dan berkata, “Kabar yang kubawa ini tidak main-main.” Ia lalu menjelaskan semuanya — bahwa raja ingin mengambil Sarah dan mereka tidak punya kekuatan untuk melawannya. Satu-satunya yang bisa mereka lakukan hanyalah berserah diri kepada Allah, sebagaimana dulu ketika menghadapi ujian lain.

Akhirnya, dengan berat hati, Nabi Ibrahim menyerahkan istrinya kepada raja yang zalim itu, sambil pasrah sepenuhnya kepada Allah untuk melindungi Sarah dan menolong mereka berdua.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 98.

Setibanya di istana, Sarah diberi pakaian dan perhiasan yang sangat indah dan mahal. Namun, dari wajahnya tampak jelas bahwa ia tidak senang tinggal di sana dan tidak tertarik pada semua hadiah itu. Istana yang mewah dan perhiasan yang berkilau tidak bisa menghapus kesedihannya karena berpisah dari suaminya, Nabi Ibrahim. Ia tidak bersalah, tapi dipisahkan hanya karena keinginan raja yang zalim. Sarah pun berserah diri kepada Allah, tetap berpegang pada imannya, dan duduk dengan hati sedih.

Raja sering datang untuk melihat apakah Sarah sudah senang dan mau menerimanya. Namun setiap kali raja datang, Sarah malah makin takut dan sedih. Raja mencoba berbagai cara agar Sarah gembira, tapi semua usahanya gagal.

Akhirnya, raja yang lelah tertidur. Dalam tidurnya, ia bermimpi bahwa Sarah sebenarnya sudah bersuami — yaitu Ibrahim, orang yang tadi ia panggil “saudaranya.” Setelah bangun, raja sadar dan memutuskan untuk melepaskan Sarah, lalu mengembalikannya kepada Nabi Ibrahim. Dengan begitu, Allah menyelamatkan Sarah dari fitnah besar.

Setelah itu, Nabi Ibrahim dan Sarah tinggal cukup lama di Mesir. Ibrahim bekerja keras mencari rezeki, hingga menjadi orang kaya dengan banyak ternak dan harta, serta memiliki banyak sahabat.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 99.

Karena banyaknya nikmat dan rezeki dari Allah, banyak pribumi Mesir yang iri dan dengki kepada Nabi Ibrahim.

Rasa iri itu tidak hanya disimpan dalam hati, tapi mereka mulai merencanakan sesuatu yang bisa mencelakakan Ibrahim dan istrinya. Akhirnya, Nabi Ibrahim pun memutuskan untuk meninggalkan Mesir — negeri yang memberinya banyak harta, tetapi tidak membawa ketenangan hati.

Ia kembali ke Palestina, tempat yang dulu pernah ia tinggalkan. Sejak saat itu, Palestina menjadi tempat tinggalnya dan dijadikannya tanah suci untuk menyembah Allah. Nabi Ibrahim tinggal di sana dalam waktu lama, dan dari keturunannya kemudian lahir banyak nabi dan rasul.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 100.

Daftar Isi:

  1. Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 1: "Awal Perjalanan Iman"
  2. Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 2: "Tantangan Melawan Tradisi"
  3. Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 3: "Mukjizat Api Dingin"

Kisah Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an:

  1. Al-Baqarah ayat 258
  2. Al-Baqarah ayat 260
  3. Az-Zukhruf ayat 26-28
  4. Al-An'am ayat 74
  5. Al-An'am ayat 76-83
  6. At-Taubah ayat 114
  7. Maryam ayat 41-48
  8. Al-Anbiya' ayat 52-76
  9. Asy-Syu'ara ayat 69-102
  10. Ash-Shaffat ayat 90-97

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Sumber Thumbnail: rahma.id.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)