Dengan nada mengejek, Ibrahim berkata kepada patung-patung itu, “Hai patung, kenapa kalian tidak makan makanan lezat ini?” Tentu saja tidak ada satu pun yang menjawab, karena patung-patung itu hanyalah batu yang tidak bisa mendengar atau berbuat apa pun.
***
Ibrahim dan Bapaknya
Ayah Nabi Ibrahim bernama Azar. Ia adalah pembuat dan penjual patung batu yang disembah oleh orang-orang, bahkan ia sendiri juga menyembah patung buatannya.
Ibrahim tahu bahwa ayahnya adalah orang yang paling dekat dengannya. Karena itu, ia merasa ayahnyalah yang pertama harus ia nasihati agar tidak tersesat.
Nabi Ibrahim sangat berhati-hati ketika berbicara dengan ayahnya. Sebagai anak, ia tetap bersikap sopan dan penuh hormat. Ia tidak menghina patung-patung yang disembah ayahnya, melainkan memilih kata-kata yang lembut dan menyentuh hati.
Pertama-tama, ia menyebut dirinya sebagai anak ayahnya sendiri. Lalu, dengan lembut ia bertanya mengapa ayahnya menyembah patung-patung itu. Setelah itu, Ibrahim menjelaskan bahwa ia telah diberi ilmu dan wahyu dari Allah—pengetahuan yang belum dimiliki ayahnya.
Dengan tutur kata yang sopan dan teratur, Ibrahim mengajak ayahnya untuk beriman kepada Allah, mengenal-Nya, dan meninggalkan penyembahan terhadap patung yang tidak bisa memberi manfaat apa pun.
Namun, sebaik apa pun usaha Ibrahim menasihati ayahnya, semuanya sia-sia. Bukannya sadar, ayahnya justru semakin jauh dari kebenaran yang disampaikan oleh Ibrahim.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 85.
Ayahnya berkata, “Apakah kau membenci tuhanku, Ibrahim? Jika kau tidak berhenti, aku akan melemparmu dengan batu dan menghancurkanmu. Kau akan tahu akibatnya jika aku marah. Lebih baik kau pergi sekarang, karena tidak ada lagi tempat untukmu di rumah ini maupun di hatiku.”
Semua kata kasar dan ancaman itu diterima Ibrahim dengan sabar dan tenang. Ia tidak membalas, karena Allah memerintahkannya untuk tetap bersikap lembut. Maka Ibrahim menjawab, “Selamat tinggal, Ayah. Aku akan memohonkan ampun kepada Allah untukmu, karena engkau tetap ayahku yang harus kuhormati. Aku juga memohon ampun bagi kaumku yang masih menyembah selain Allah. Semoga doaku tidak menjadi sumber kesedihan bagiku.”
Setelah itu, Ibrahim pergi dengan hati sedih, karena nasihatnya ditolak oleh ayahnya sendiri. Ia memilih menjauh agar tidak ikut melihat penyembahan berhala dan kesesatan yang dilakukan kaumnya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 86.
Ibrahim Meruntuhkan Semua Patung
Kegagalan Ibrahim dalam menasihati ayahnya dan penolakan sang ayah tidak membuatnya putus asa atau berhenti berdakwah.
Dengan hati yang teguh dan jiwa yang tenang, Ibrahim sadar bahwa kata-kata yang indah dan nasihat yang baik saja belum tentu bisa mengubah manusia.
Ia pun bersiap menghadapi kaumnya dengan cara yang lebih mudah dimengerti — berbicara dengan bahasa yang sederhana dan, bila perlu, memberi contoh nyata agar mereka bisa melihat dan merasakan kebenaran itu sendiri.
Seperti seorang dokter yang mencari penyebab penyakit lalu memberi obat yang tepat, Ibrahim mulai bertanya kepada kaumnya, “Siapa yang kalian sembah itu?”
Mereka menjawab, “Patung-patung yang kami buat.”
Ibrahim lalu bertanya lagi, “Apakah patung-patung itu bisa melihat kalian menyembahnya? Apakah mereka bisa mendengar doa kalian? Apa manfaat atau bahaya yang bisa mereka berikan kepada kalian?”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 87.
Mereka pun mulai ragu dan bingung menjawab. Akhirnya mereka hanya berkata, “Kami melakukan ini karena mengikuti kebiasaan nenek moyang kami sejak dulu.”
Ibrahim berkata, “Betapa buruknya hanya meniru tanpa berpikir. Kalian dan nenek moyang kalian telah tersesat dengan jelas.”
Mereka menjawab, “Apakah kamu sedang menghina kami, wahai Ibrahim? Atau kamu hanya bercanda?”
Ibrahim menjawab, “Aku tidak sedang bermain-main. Aku berkata dengan sungguh-sungguh. Aku membawa ajaran yang benar dari Allah. Tuhan yang pantas disembah hanyalah Allah — Tuhan yang menciptakan langit dan bumi. Patung-patung yang kalian sembah itu hanyalah batu yang tidak bisa melakukan apa pun. Kalian menyembahnya karena telah disesatkan setan. Pikirkanlah dengan akal dan lihatlah dengan mata kalian sendiri! Allah-lah yang menciptakan aku dan memberi petunjuk kepadaku. Dialah yang memberi makanan dan minuman, menyembuhkan ketika aku sakit, serta yang mematikan dan menghidupkan kembali. Kepada-Nya aku selalu memohon ampun atas kesalahanku di hari pembalasan nanti.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 88.
Sudah menjadi kebiasaan bagi kaum Nabi Ibrahim untuk merayakan hari raya besar setiap tahun. Pada hari itu, seluruh penduduk keluar dari kota untuk berburu. Sebelumnya, mereka menyiapkan makanan dan masakan lezat, lalu meletakkannya di samping patung-patung yang mereka sembah. Setelah pulang berburu, mereka makan bersama-sama makanan itu dengan gembira sambil memuja patung-patung tersebut.
Ketika hari raya itu tiba, Nabi Ibrahim sengaja tidak ikut pergi. Ia sudah menyiapkan sebuah rencana. Setelah semua orang meninggalkan kota dan tempat itu sepi, ia mengambil kapak besar yang telah disiapkannya, lalu masuk ke rumah tempat patung-patung disembah. Di sana ia melihat banyak patung, besar dan kecil, dengan makanan lezat di sampingnya.
Dengan nada mengejek, Ibrahim berkata kepada patung-patung itu, “Hai patung, kenapa kalian tidak makan makanan lezat ini?” Tentu saja tidak ada satu pun yang menjawab, karena patung-patung itu hanyalah batu yang tidak bisa mendengar atau berbuat apa pun.
Lalu dengan tekad yang kuat, Nabi Ibrahim menghancurkan semua patung itu hingga hancur berkeping-keping. Ia hanya menyisakan satu patung yang paling besar. Di leher patung besar itu, ia menggantungkan kapaknya — agar nanti orang-orang melihatnya dan berpikir siapa sebenarnya yang menghancurkan patung-patung itu.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 89.
Setelah selesai berburu, semua orang kembali ke kota dan masuk ke rumah tempat mereka menyembah patung-patung. Mereka sangat terkejut ketika melihat semua patung sudah hancur berantakan. Hanya patung yang paling besar yang masih utuh, dengan sebuah kapak tergantung di lehernya.
Mereka saling bertanya, “Siapa yang berani berbuat seperti ini pada tuhan-tuhan kita? Orang itu benar-benar jahat!”
Seseorang berkata, “Aku pernah mendengar ada pemuda bernama Ibrahim yang sering menghina patung-patung kita. Pasti dia pelakunya!”
Orang-orang pun berbondong-bondong datang untuk melihat apa yang terjadi. Mereka marah dan ingin menghukum pelaku dengan kejam. Nabi Ibrahim akhirnya ditemukan dan ditangkap.
Di depan banyak orang, ia ditanya, “Apakah benar kamu yang menghancurkan tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”
Pertanyaan itu menjadi kesempatan bagi Nabi Ibrahim untuk berbicara dengan tenang dan jelas. Semua orang diam, menunggu jawabannya.
Ibrahim berkata, “Tanyakan saja kepada patung yang paling besar itu. Mungkin dia marah dan menghancurkan patung-patung yang lain. Lihatlah, kapak itu masih tergantung di lehernya.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 90.
Jawaban Ibrahim mengejutkan mereka. Mereka tersadar akan kebodohan sendiri dan saling menyalahkan, “Kenapa tidak ada yang ditinggal untuk menjaga patung itu?” Mereka seperti orang bingung yang baru dipukul — terhuyung-huyung.
Lalu mereka marah kepada Ibrahim, “Kau tahu sendiri patung itu tak bisa berbuat apa-apa dan tak bisa menjawab. Bodoh sekali kamu menyuruh kami bertanya pada batu!”
Kesempatan kedua ini dipakai Ibrahim untuk membuka mata mereka. Ia berkata, “Kalau kalian tahu patung-patung itu tak bisa berbuat apa-apa dan tak bisa menjawab, mengapa kalian menyembahnya? Mengapa kalian meminta tolong kepada sesuatu yang bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri? Pikirkanlah dengan akal!”
Mereka tak bisa menjawab. Dalam perdebatan itu mereka kalah, tetapi mereka unggul dalam persenjataan. Marah, mereka menangkap Ibrahim, mengikatnya, dan berseru bersama, “Bakar Ibrahim! Bela patung-patung kita!”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 91.
Daftar Isi:
- Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 1: "Awal Perjalanan Iman"
- Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 2: "Tantangan Melawan Tradisi"
- Bey Arifin - Kisah Nabi Ibrahim, Part 3: "Mukjizat Api Dingin"
Kisah Nabi Ibrahim dalam Al-Qur'an:
- Al-Baqarah ayat 258
- Al-Baqarah ayat 260
- Az-Zukhruf ayat 26-28
- Al-An'am ayat 74
- Al-An'am ayat 76-83
- At-Taubah ayat 114
- Maryam ayat 41-48
- Al-Anbiya' ayat 52-76
- Asy-Syu'ara ayat 69-102
- Ash-Shaffat ayat 90-97
Sumber Thumbnail: rahma.id.
