Kaum ‘Ad telah musnah karena dosa-dosa mereka, dan negeri mereka menjadi tandus serta kosong. Namun, lama-kelamaan tempat itu dihuni oleh bangsa baru yang disebut kaum Tsamud dalam Al-Qur’an. Mereka menggantikan kaum ‘Ad dan menguasai wilayah itu.
Kaum Tsamud membangun kembali negeri tersebut hingga menjadi lebih makmur dari sebelumnya. Tanahnya dipenuhi kebun dan tanaman yang indah, hasil buminya melimpah ruah. Mereka mendirikan rumah-rumah dan gedung besar yang megah, bahkan membuat tempat tinggal di dalam bukit-bukit batu yang kokoh. Rumah-rumah itu dijadikan benteng untuk melindungi diri dan keluarga mereka dari bahaya manusia maupun alam.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 67.
Bangsa Tsamud hidup makmur dan bahagia, memiliki banyak harta, dan tidak kekurangan apa pun. Namun seperti kaum ‘Ad dulu, mereka lupa kepada Allah. Mereka menjadi jahat dan sombong karena kekayaan yang dimiliki, mengira kebahagiaan dan harta mereka akan kekal selamanya. Mereka hidup sesuka hati dan menyembah patung-patung batu yang mereka buat sendiri, seperti yang terjadi pada kaum ‘Ad.
Lalu Allah mengutus Nabi Shaleh untuk mengingatkan mereka agar mengenal Allah, bersyukur atas nikmat-Nya, dan berhenti menyembah berhala. Namun, mereka menolak ajaran Nabi Shaleh. Mereka menutup telinga dan mata, tidak mau mendengar atau percaya. Mereka menganggap Nabi Shaleh tidak pantas menasihati mereka karena merasa lebih pintar, kaya, dan terhormat darinya.
Hanya sedikit orang miskin yang mau mengikuti ajaran Nabi Shaleh. Sementara yang lainnya malah mengejeknya dan menuduhnya gila, terkena sihir, atau dirasuki setan. Mereka berkata, “Kalau memang harus ada nabi, seharusnya kami yang jadi nabi, karena kami lebih pintar dan terpandang daripada kamu.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 68.
Meskipun terus ditentang, Nabi Shaleh tetap sabar menjalankan perintah Allah untuk menyampaikan ajaran yang benar. Karena banyak orang miskin mengikuti ajarannya, para pemimpin yang menolak mulai merasa khawatir. Mereka berusaha mencari cara untuk menjatuhkan dan merendahkan Nabi Shaleh agar orang-orang tidak lagi mempercayainya.
Suatu hari mereka datang dan berkata, “Kalau benar engkau nabi, tunjukkanlah kepada kami mukjizat sebagai buktinya. Kalau tidak, berarti engkau hanya pembohong.”
Mendengar itu, Nabi Shaleh berdoa kepada Allah, “Ya Allah, kaumku tetap mendustakan aku, hanya sedikit yang beriman. Berilah aku mukjizat agar mereka percaya dan mau beriman.”
Allah mengabulkan doanya dan berfirman, “Datangilah kaummu dan suruh mereka berkumpul di kaki gunung. Dari gunung itu akan keluar seekor unta betina yang sangat besar, gemuk, dan indah — unta yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Unta itu akan selalu penuh dengan susu yang boleh diambil siapa pun, asalkan mereka membiarkannya hidup bebas tanpa diganggu. Unta itu boleh minum dari sumur secara bergantian dengan mereka (penduduk): satu hari untuk unta, dan hari berikutnya untuk manusia. Pada hari giliran unta, manusia tidak boleh mengambil air sedikit pun, begitu pula sebaliknya.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 69.
Setelah Nabi Shaleh menyampaikan wahyu itu, semua orang berkumpul menunggu munculnya unta yang dijanjikan. Tak lama kemudian, benar saja — dari gunung itu keluar seekor unta betina yang sangat besar, gemuk, dan indah, persis seperti yang dikatakan Nabi Shaleh.
Unta itu langsung menuju sumur dan meminum semua air yang ada. Namun, susu unta itu selalu penuh, sehingga penduduk bisa mengambilnya untuk diminum. Pada hari unta meminum air sumur, manusia menggantinya dengan meminum susu unta itu.
Hari demi hari, minggu demi minggu, orang-orang beriman makin teguh imannya. Tapi orang-orang kafir malah makin iri dan benci pada Nabi Shaleh serta para pengikutnya.
Akhirnya muncul niat jahat di hati mereka: mereka ingin membunuh unta itu agar mukjizat Nabi Shaleh tidak makin dipercaya. Awalnya mereka ragu dan takut, karena Nabi Shaleh sudah memperingatkan bahwa jika unta itu diganggu, azab Allah pasti akan turun.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 70.
Mereka bimbang, apakah akan membunuh unta itu atau tidak. Beberapa kali ada yang mencoba mendekatinya, tapi akhirnya mundur karena takut akan azab yang telah diperingatkan Nabi Shaleh. Unta itu hidup bebas cukup lama dan menjadi perhatian banyak orang. Bahkan, semakin banyak orang yang percaya kepada Nabi Shaleh karenanya.
Namun, niat jahat mereka makin besar. Mereka mencari cara keji untuk menyingkirkan unta itu. Akhirnya mereka sepakat menggunakan kecantikan seorang perempuan sebagai alat. Mereka tahu, dengan daya tarik seorang wanita cantik, mereka bisa membuat seorang pemuda berani melakukan apa pun — bahkan membunuh.
Jika hati seorang laki-laki sudah terpikat oleh wanita cantik, maka laki-laki penakut bisa berubah jadi berani, dan laki-laki pandai bisa jadi bodoh karena menurut perintah wanita itu.
Itulah rencana kaum kafir itu. Mereka memilih seorang wanita cantik, kaya, dan durhaka bernama Shaduq binti Mahya untuk melaksanakan rencana itu. Shaduq bersedia menyerahkan dirinya kepada seorang pemuda pemberani bernama Masdak bin Mahraj, dengan satu syarat: pemuda itu harus berani membunuh unta mukjizat Nabi Shaleh.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 71.
Selain Shaduq, ada juga seorang perempuan tua yang licik. Ia rela menyerahkan anak gadisnya kepada seorang pemuda bernama Qudar bin Salif, asalkan pemuda itu berani membunuh unta Nabi Shaleh.
Namun Qudar dan Masdak tidak cukup berani melakukannya sendirian. Mereka mencari teman, dan akhirnya mendapat tujuh orang lain untuk membantu. Secara diam-diam, mereka mendekati unta itu, lalu memanahnya hingga terluka di kakinya. Setelah itu, Qudar menebas perut unta itu dengan pedang tajam sampai ususnya keluar. Unta itu pun jatuh dan mati.
Kedua pemuda itu pulang dengan bangga membawa kabar bahwa unta itu sudah mati. Kaum yang kafir menyambut mereka dengan penuh sukacita, seperti menyambut pahlawan besar. Mereka dipuji dan dielu-elukan karena telah membunuh unta mukjizat itu. Melihat tidak terjadi apa-apa setelah unta itu mati, mereka makin sombong dan mengejek Nabi Shaleh.
Mereka berkata, "Hai Shaleh, mana siksa yang kau janjikan itu? Datangkanlah, kalau memang kau benar-benar utusan Allah!"
Nabi Shaleh menjawab, "Aku sudah memperingatkan kalian, tapi kalian melanggarnya. Sekarang kalian boleh bersenang-senang tiga hari saja atas kematian unta itu. Setelah tiga hari, azab Allah pasti datang, dan janji itu bukan kebohongan."
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 72.
Nabi Shaleh memberi waktu tiga hari kepada kaumnya agar mereka sempat sadar, menyesal, dan memohon ampun kepada Allah. Namun, orang-orang durhaka itu malah menganggapnya lemah. Belum sampai tiga hari, mereka datang dan mengejek Nabi Shaleh, “Cepatkan saja azab yang kamu janjikan itu!”
Nabi Shaleh menjawab, “Wahai kaumku, kenapa kalian meminta azab, bukan kebaikan? Kenapa tidak memohon ampun kepada Allah agar kalian diampuni?”
Sehari sebelum waktu yang dijanjikan habis, mereka masih ragu akan datangnya azab. Lalu mereka mengadakan rapat besar dan sepakat membunuh Nabi Shaleh malam itu juga. Mereka mengira jika Nabi Shaleh mati, maka azab tidak akan turun.
Namun Allah melindungi Nabi Shaleh, sehingga ia selamat dari rencana pembunuhan itu.
Keesokan harinya, seperti yang dijanjikan Nabi Shaleh, azab Allah benar-benar datang. Badai topan yang sangat dahsyat menghancurkan segalanya — harta, ternak, dan rumah-rumah besar mereka semua musnah menjadi abu. Hanya Nabi Shaleh dan para pengikutnya yang selamat.
Melihat semua itu, Nabi Shaleh berkata, “Wahai kaumku, aku telah menyampaikan pesan Allah dan menasihati kalian, tapi kalian tidak mau mendengarkan orang yang memberi nasihat.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 73.
Kaum ‘Ad dan Tsamud sering disebut dalam Al-Qur’an sebagai dua kaum paling durhaka di masa lalu — sesudah kaum Nabi Nuh dan sebelum Nabi Muhammad Saw lahir. Kedua kaum itu dibinasakan Allah secara total. Bukan hanya manusia mereka yang musnah, tapi juga harta, rumah, dan tanah tempat mereka tinggal. Kehancurannya bahkan lebih dahsyat daripada bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.
Kalau ada yang bertanya, “Siapa kaum paling buruk di zaman sekarang?” jawabannya: hanya Allah yang tahu. Sebagian ulama berpendapat bahwa sejak diutusnya Nabi Muhammad Saw., Allah tidak lagi menghancurkan satu kaum secara total, walaupun mereka sangat jahat. Hukuman besar akan ditunda sampai hari kiamat nanti.
Namun, Allah tetap menurunkan azab yang bersifat sementara dan terbatas bagi orang, kelompok, atau bangsa yang kejahatannya sudah melampaui batas. Azab itu bisa berupa perang, kekacauan, atau bencana alam. Dalam pandangan Islam, setiap bencana atau kekacauan adalah peringatan dari Allah agar manusia kembali sadar dan beriman kepada-Nya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 74.
Karena itu, untuk mengatasi berbagai kekacauan dan bencana, kita tidak cukup hanya mengambil langkah politik, ekonomi, atau sosial. Kita juga harus bertaubat, memohon ampun, bersyukur, memuji kebesaran Allah, dan memperbanyak ibadah serta perbuatan baik. Perbanyaklah shalat, puasa, zikir, doa, dan sedekah kepada fakir miskin atau orang yang sedang kesusahan. Dengan cara itulah, Allah akan menghilangkan kekacauan dan bencana dari kehidupan kita.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 75.
Kisah Nabi Shaleh dalam Al-Qur'an:
- Hud ayat 61-68.
- Al-A'raf ayat 73-79 dan 37.
- Asy-Syu'ara ayat 141-159.
- An-Naml ayat 45-53.
- Al-Qamar ayat 23-31.
- Asy-Syam ayat 11-15.
Thumbnail postingan ini bersumber di lifestyle.pinhome.id.
