Segala yang kita lihat sekarang ini, dahulu belum ada. Tidak ada manusia, hewan, tumbuhan, bumi, matahari, bulan, maupun bintang. Dengan kehendak dan kuasa-Nya, Allah menciptakan semuanya seperti yang kita saksikan sekarang. Langit dan bumi beserta isinya diciptakan Allah dalam enam “hari” — bukan siang dan malam seperti yang kita kenal, melainkan masa atau proses yang bisa berlangsung ribuan bahkan jutaan tahun.
Ketika Allah berkehendak menciptakan sesuatu, Dia cukup berfirman kun (jadilah), maka terwujudlah apa yang dikehendaki-Nya.
Dengan cara itu, Allah menciptakan bumi dengan daratan, lautan, gunung, lembah, tumbuhan, dan hewan. Allah juga menciptakan matahari dengan sinarnya, bulan dengan cahayanya, dan bintang-bintang yang berkilauan. Semuanya beredar di angkasa secara teratur sesuai dengan ketentuan Ilahi.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 11.
Allah kemudian menciptakan malaikat-malaikat yang selalu taat menjalankan perintah-Nya. Mereka beribadah dan melaksanakan tugas masing-masing, seperti menjaga bumi, menjaga langit, menurunkan hujan, atau menjadi perantara antara Allah dan makhluk-Nya. Saat bertugas, mereka senantiasa bertasbih menyucikan Allah.
Setelah itu, Allah menciptakan Adam sebagai manusia pertama untuk menempati bumi yang luas. Dari keturunannya lahirlah berbagai kelompok dan bangsa yang menyebar ke seluruh penjuru bumi. Manusia diciptakan untuk menyembah Allah, menyucikan-Nya, dan menjadi pengatur bumi: bercocok tanam, memelihara hewan, mendirikan rumah, dan lain sebagainya.
Allah memberitahukan kehendak-Nya ini kepada para malaikat, “Aku akan menciptakan manusia untuk menjadi pengatur di muka bumi.”
Para malaikat bertanya, “Apakah manusia yang Engkau ciptakan itu tidak akan merusak bumi dan saling menumpahkan darah? Sedangkan kami selalu taat dan menyucikan-Mu.”
Allah menjawab, “Aku lebih mengetahui apa yang tidak kalian ketahui.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 12.
Allah lebih mengetahui rahasia di balik penciptaan manusia. Dia tahu mengapa manusia dipilih untuk mengatur bumi, meskipun Allah juga sudah mengetahui bahwa sebagian manusia akan membuat kerusakan, berselisih, bahkan saling menumpahkan darah.
Namun, tidak semua manusia demikian. Ada yang berbuat kebaikan, menolong sesamanya, dan berjuang demi keselamatan serta kebahagiaan hidup manusia.
Mendengar jawaban Allah yang singkat tetapi sangat dalam maknanya, para malaikat terdiam. Mereka berbisik, “Benar, Tuhan kita Maha Mengetahui segala sesuatu, dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Dia mengetahui yang tampak maupun yang tersembunyi. Tidak ada satu pun yang terjadi di langit dan bumi tanpa sepengetahuan-Nya. Segala ciptaan-Nya pasti memiliki tujuan, tidak ada yang sia-sia. Hanya kita saja yang belum mengetahuinya.”
Kemudian Allah berfirman kepada para malaikat, “Manusia, yaitu Adam, akan Aku ciptakan dari tanah. Setelah selesai dibentuk, Aku akan meniupkan roh-Ku ke dalamnya sehingga ia hidup, dapat bergerak, merasa, mengerti, dan memiliki kesadaran. Jika Adam telah hidup dengan pengertian dan kesadaran, maka hendaklah kalian semua bersujud menghormatinya.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 13.
Malaikat adalah makhluk Allah yang memiliki kesadaran sangat tinggi. Karena itu, mereka mulia: selalu bertasbih, beribadah, memuji Allah, dan taat pada setiap perintah-Nya. Mereka melaksanakan tugas yang diberikan Allah tanpa henti, tanpa makan, minum, atau tidur, hingga hari kiamat.
Lalu, jika malaikat begitu mulia, mengapa Allah memerintahkan mereka untuk bersujud kepada Adam? Apakah Adam lebih tinggi derajatnya daripada malaikat?
Perlu diingat, sujud kepada Adam bukan berarti menyembah, tetapi bentuk penghormatan khusus kepada diri Adam, bukan kepada seluruh keturunannya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 14.
Adam layak dihormati karena memiliki keistimewaan luar biasa yang tidak dimiliki makhluk lain. Ia adalah manusia pertama. Semua manusia setelahnya adalah keturunan Adam, termasuk para nabi, rasul, orang-orang saleh, dan orang-orang pandai yang membawa berbagai kemajuan besar bagi umat manusia sepanjang zaman.
Karena itu, wajar bila para malaikat diperintahkan untuk menghormati Adam sebagai manusia pertama dan asal mula keturunan yang membawa banyak kebaikan.
Adam diciptakan Allah dengan “tangan”-Nya sendiri, berbeda dengan makhluk lain yang diciptakan hanya dengan firman-Nya: “Jadilah, maka jadilah.” Menurut Al-Qur’an, demikianlah cara Allah menciptakan makhluk. Dalam hadits dijelaskan bahwa selain Adam, Arasy dan surga ‘Adn juga diciptakan dengan “tangan”-Nya. Karena itu, wajar jika para malaikat diperintahkan untuk menghormati Adam. Ia adalah makhluk yang sangat istimewa, tidak ada bandingannya di alam ini.
Selain itu, Adam juga seorang nabi yang menerima wahyu dari Allah. Sebagian ulama berpendapat bahwa derajat para nabi dan rasul lebih tinggi daripada malaikat. Bahkan Jibril, malaikat yang paling mulia, ditugaskan menjadi perantara Allah dengan para nabi dan rasul.
Seperti malaikat, Adam juga memiliki akal dan kesadaran. Dengan akalnya, Adam dan keturunannya bisa memahami kebesaran Allah, serta mengerti perintah dan larangan-Nya.
Surga ‘Adn adalah salah satu nama surga yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Kata ‘Adn dalam bahasa Arab berarti tempat tinggal yang tetap, penuh kenikmatan, dan tidak berpindah-pindah. Jadi, Surga ‘Adn bisa diartikan sebagai surga tempat tinggal abadi bagi orang-orang beriman.
Dalam beberapa ayat Al-Qur’an, Surga ‘Adn digambarkan sebagai:
- Tempat tinggal yang kekal (QS. At-Taubah: 72).
- Surga yang penuh dengan kebun-kebun, sungai-sungai, dan berbagai kenikmatan (QS. Ar-Ra’d: 23).
- Tempat yang dijanjikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang taat, penuh kesejahteraan, dan ridha Allah (QS. Maryam: 61).
Surga ‘Adn adalah surga keabadian yang dipenuhi segala kenikmatan, khusus bagi orang-orang yang benar-benar beriman dan taat.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 15.
Allah menciptakan Adam (manusia) dalam bentuk yang paling sempurna, karena terdiri dari jasmani dan rohani (roh, akal, hati, dan nafsu). Dengan itu, manusia menjadi makhluk yang berbudaya dan berperadaban, serta mampu terus berkembang.
Adam dan keturunannya ditugaskan Allah sebagai khalifah (pengatur) di bumi, sebagaimana malaikat menjadi pengatur di langit. Seperti pejabat yang saling menghormati meskipun berbeda tugas, begitu pula kedudukan manusia dan malaikat: sama-sama menjalankan amanah Allah, hanya tempatnya berbeda.
Menyadari kemuliaan Adam, para malaikat akhirnya memahami perintah Allah untuk menghormatinya. Mereka berkata, “Baiklah, ya Tuhan kami. Kami dengar dan taati perintah-Mu.”
Allah kemudian membentuk Adam dari tanah dengan wujud seperti manusia: kepala, badan, tangan, dan kaki. Setelah itu Allah meniupkan roh ke dalam dirinya. Adam pun hidup, menggerakkan tangan dan kakinya, bersin, membuka matanya, serta berfungsi jantung dan paru-parunya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 16.
Saat Adam membuka matanya dan melihat alam sekitarnya, timbullah kesadaran dalam dirinya. Dengan penuh pengertian, ia berkata, “Alhamdulillaahi rabbil ‘aalamiin” (Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam).
Para malaikat sangat kagum mendengar ucapan pertama Adam, yang menunjukkan kesadaran bahwa seluruh alam ini diciptakan dan diatur oleh Allah, sehingga Dia layak dipuji selamanya. Mereka pun serentak menjawab, “Yarhamukallaah, yaa Adam” (Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, wahai Adam).
Kemudian para malaikat berdiri mengelilingi Adam, lalu sujud menghormatinya sesuai perintah Allah. Namun, iblis menolak. Ia berdiri sombong, tidak mau sujud.
Allah berfirman, “Bukankah engkau juga ciptaan-Ku yang seharusnya taat pada perintah-Ku? Mengapa engkau tidak mau sujud kepada Adam?”
Iblis menjawab, “Engkau menciptakan aku dari api, sedangkan Adam dari tanah. Api lebih mulia daripada tanah, jadi aku lebih mulia darinya. Karena itu aku tidak pantas sujud kepadanya.”
Mendengar bantahan itu, Allah murka dan berfirman, “Tempat ini (surga) bukan untuk yang membangkang. Pergilah, segera keluar dari sini!”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 17.
Setelah terusir dari surga, iblis berkata kepada Allah, “Ya Allah, Engkau mengusirku karena Adam. Aku bersumpah akan memusuhi Adam dan seluruh keturunannya selamanya. Aku akan menyesatkan mereka, mencelakakan mereka, dan mengajak mereka berbuat kerusakan agar hidup mereka kacau.”
Allah menjawab, “Untuk melawan tipu dayamu, Aku berikan manusia senjata, yaitu akal. Akal itu akan Aku bimbing dengan petunjuk agama. Selama manusia menggunakan akalnya dan mengikuti petunjuk-Ku, engkau tidak akan bisa menyesatkan mereka. Dengan akal, mereka bisa membedakan baik dan buruk, serta berpikir dengan benar. Tapi jika mereka tidak menggunakan akalnya dan menolak petunjuk-Ku, maka engkau bisa menggoda mereka. Semua itu akan dipertanggungjawabkan di akhirat.”
Mendengar firman Allah, iblis terdiam, tetapi hatinya semakin iri dan dengki kepada manusia. Ia lalu memperhatikan Adam, mencari kelemahan jasmani dan rohaninya. Akhirnya ia menyadari bahwa meskipun manusia memiliki akal yang hebat, mereka juga memiliki banyak kelemahan.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 18.
Selain akal, manusia juga punya nafsu. Nafsu itu banyak macamnya: nafsu makan dan minum, nafsu syahwat, keinginan memiliki harta dan kekayaan, rumah dan kendaraan, sampai nafsu mengejar pangkat dan kedudukan.
Setiap nafsu dan sifat manusia memiliki celah kelemahan, dan iblis bisa masuk melalui celah itu untuk menyesatkan dan mengacaukan hidup manusia.
Melihat kelemahan-kelemahan itu, iblis merasa senang karena punya peluang untuk menggoda manusia. Tapi sekaligus ia khawatir, karena manusia memiliki akal yang bisa dibimbing dengan petunjuk Allah. Petunjuk Allah adalah benteng yang tidak bisa ditembus oleh iblis.
Sejak awal, iblis tahu dirinya lemah jika berhadapan dengan manusia yang beriman dan menjadikan petunjuk Allah sebagai pegangan. Karena itu, siapa saja yang sadar akan tipu daya iblis, lalu berpegang teguh pada iman dan petunjuk Allah, akan selamat di dunia dan akhirat, terhindar dari kesesatan.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 19.
Daftar Isi:
- Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 1: "Awal Kejadian"
- Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 2: "Ujian dan Kejatuhan"
- Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 3: "Kehidupan dan Tantangan di Bumi"
- Bey Arifin - Kisah Nabi Adam, Part 4: "Kasus Pembunuhan Pertama Manusia, Terbunuhnya Habil"
Kisah Nabi Adam dalam Al-Qur'an:
- Al-Baqarah ayat 29-30
- Al-A'raf ayat 11-13
- Thaha ayat 116-117
- Al-Isra' ayat 61-65
- Al-Hijr ayat 28-43
- Shad ayat 71-75
- Fushilat ayat 9-12
- Al-Maidah ayat 31-35
Sumber Thumbnail: id.wikipedia.org.
