Bey Arifin - Kisah Ashabul Kahfi, Penghuni Gua

Reza
0

Kisah Ashabul Kahfi, Penghuni Gua

Sudah menjadi kebiasaan penduduk Upsus untuk merayakan hari raya dengan menghiasi berhala dan patung-patung. Mereka berkumpul dengan gembira, memuja serta menyembah patung itu, bahkan memberi korban yang berharga. Tidak ada seorang pun yang berani menolak adat ini.

Namun, di antara mereka ada seorang pemuda bangsawan yang justru tampak murung. Ia termenung sendirian, hatinya gelisah.

Saat semua orang bersujud menyembah berhala, pemuda itu terlihat enggan menundukkan kepala. Keraguan dan kebingungan jelas terlihat dalam hatinya untuk ikut menyembah batu-batu berhias itu.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 427.

Keraguan pemuda itu berubah menjadi tekad. Ia tidak setuju dengan apa yang dilihatnya. Pikirannya memberontak, hingga ia pergi diam-diam meninggalkan perayaan besar itu. Ia berhenti di bawah sebuah pohon, duduk dengan wajah memerah menahan gejolak hatinya.

Tak lama, datang seorang pemuda lain dari kalangan bangsawan, yang juga merasa gelisah dan menolak menyembah patung. Lalu menyusul pemuda-pemuda lain, hingga mereka berjumlah tujuh orang.

Mereka pun saling berkenalan dan berbincang. Ternyata semuanya memiliki pandangan sama, meski sebelumnya tidak saling mengenal.

Akhirnya mereka sepakat: tidak lagi menyembah berhala seperti orang-orang di negeri mereka. Mereka menatap langit, matahari, dan alam luas, lalu yakin bahwa semua itu pasti ada Penciptanya, yaitu Allah Swt. “Ya, Dialah yang harus kita sembah,” kata mereka.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 428.

Mereka berjanji hanya akan menyembah Allah dan setia pada iman mereka. Hati mereka mulai tenang, tetapi mereka sepakat untuk menyembunyikan keyakinan itu dari bangsa mereka yang masih sesat dan fanatik. Mereka tahu, jika sampai raja mengetahuinya, pasti mereka akan dipaksa kembali kepada agama lama, dan mereka tidak cukup kuat untuk melawan.

Beberapa waktu mereka tetap hidup di tengah masyarakat, seolah-olah sama dengan yang lain. Namun, saat sendirian, mereka berdoa, salat, dan memohon kepada Allah Swt.

Hingga pada suatu malam, ketujuh pemuda itu berkumpul. Salah satu dari mereka berbisik: “Saudara-saudara, aku mendengar kabar buruk. Katanya, raja sudah tahu tentang keyakinan kita. Ia sangat marah dan berencana menghukum kita dengan hukuman yang berat jika tidak kembali ke agama mereka. Bahkan besok pagi, kita akan dipanggil menghadap raja. Jika itu benar, nasib kita bisa sangat buruk. Mari kita pikirkan bersama, apa yang harus kita lakukan.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 429.

Seorang pemuda lain berkata, “Aku juga sudah lama mendengar kabar itu. Awalnya kukira hanya gosip, tapi sekarang jelas terbukti benar. Apa pun yang terjadi, kita tidak bisa meninggalkan agama kita. Matahari yang terbit tiap pagi dan tenggelam tiap sore adalah bukti adanya Allah. Semua yang ada di alam ini menjadi tanda kebenaran-Nya.”

Belum sempat mereka memutuskan apa yang harus dilakukan, polisi raja datang dan menangkap ketujuh pemuda itu. Mereka digiring menghadap raja dan dipisahkan dari keluarga masing-masing. Raja berkata, “Kalian menyembunyikan isi hati, tapi aku tahu semuanya. Kalian menolak agama negeri dan memeluk agama baru. Aku akan menghukum seberat-beratnya, tapi karena kehormatan keluarga dan bangsawan kalian, aku beri waktu berpikir. Kembalilah ke agama lama, atau besok kalian akan dihukum di depan umum — digantung, dipenggal, dan dibunuh.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 430.

Allah menguatkan hati dan iman ketujuh pemuda itu. Mereka berkata kepada raja, “Wahai Raja, kami menyembah Tuhan bukan karena ikut-ikutan, tetapi hasil dari pemikiran kami yang mendalam. Sedangkan orang-orang yang menyembah patung hanya ikut-ikutan tanpa berpikir. Jika kami kembali pada agama mereka, itu berarti kami menipu diri sendiri dan juga menipu Raja. Karena itu, kami akan tetap berpegang pada agama kami, terserah engkau mau menjatuhkan hukuman apa.”

Raja menjawab, “Jangan putuskan sekarang. Pulanglah dulu, besok pagi kembali ke sini untuk memilih: kembali ke agama lama atau menerima hukuman berat.”

Setelah itu, para pemuda berkumpul dan salah seorang berkata, “Raja sudah mantap dengan keputusannya, dan kita pun sudah teguh dengan keputusan kita. Jika besok kita datang lagi, berarti kita menyerahkan nyawa. Karena itu, lebih baik kita bersembunyi di gua di gunung. Walaupun gua sempit dan gelap, iman akan membuat hati kita lapang. Di luar, meski luas dan terang, kita tidak bebas beribadah. Mari kita hijrah ke sana dengan membawa iman kita. Tidak ada gunanya hidup di sini jika dipaksa mengikuti agama yang tidak kita yakini.”

Mereka pun segera menyiapkan bekal, lalu meninggalkan kampung dan keluarga menuju gua di gunung. Mereka pergi tanpa senjata dan tanpa pengawal. Untungnya, di perjalanan, seekor anjing milik salah seorang dari mereka menyusul dan ikut menemani, menjadi penunjuk jalan menuju gua yang terpencil itu.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 431.

Setelah masuk ke gua, anjing mereka berjaga di pintu gua dengan kedua kakinya terentang. Di dekat gua, mereka menemukan buah-buahan untuk dimakan dan sedikit air untuk diminum. Setelah melepas lelah karena perjalanan panjang, mereka pun berbaring dan tiba-tiba tertidur pulas.

Malam berganti siang, tahun berganti tahun, bahkan abad pun berlalu, namun ketujuh pemuda itu tetap tidur nyenyak. Mereka tidak tahu pergantian waktu, musim, hujan, angin, guntur, ataupun petir.

Dengan kehendak Allah, sinar matahari yang tepat mengarah ke pintu gua akhirnya membangunkan mereka. Ternyata mereka sudah tidur selama 309 tahun. Saat bangun, tubuh mereka terasa sangat lapar, tetapi mereka tidak tahu berapa lama sebenarnya mereka tertidur.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 432.

Salah seorang berkata, “Sepertinya kita tidur sangat lama. Kira-kira berapa lama ya?”

Yang lain menjawab, “Kalau dilihat dari rasa capek dan lapar, mungkin kita tidur sehari semalam.”

Yang ketiga menimpali, “Kita mulai tidur pagi hari saat matahari belum terbenam. Jadi mungkin cuma setengah hari saja.”

Yang keempat berkata, “Tidak perlu diperdebatkan, hanya Allah yang tahu berapa lama kita tidur. Tapi aku sangat lapar. Siapa di antara kita yang mau ke pasar membeli makanan? Ini uangnya, tapi hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu kita masih hidup, apalagi raja, karena pasti mereka sedang mencarimu.”

Akhirnya, salah satu dari mereka pergi ke pasar. Dengan perasaan cemas dan takut, ia tiba di kota Upsus—negerinya sendiri. Namun, betapa terkejutnya dia melihat semuanya telah berubah. Rumah dan gedung tampak berbeda, banyak bangunan lama sudah runtuh. Orang-orang yang lewat juga tak ada yang dikenalnya. Ia berkata dalam hati, “Ini memang negeri kami, tapi penduduknya seperti bukan bangsa kami. Semuanya sudah berbeda.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 433.

Pemuda itu berjalan dengan perasaan heran. Semakin sering ia menoleh ke kiri dan kanan, semakin jelas tampak kebingungan di wajahnya. Orang-orang yang melihatnya pun tahu bahwa ia bukan penduduk setempat, melainkan orang asing yang baru pertama kali datang ke negeri itu.

Salah seorang penduduk mendekatinya dan bertanya, “Apakah kamu orang asing di sini? Dari mana asalmu, dan apa yang sedang kamu cari?”

Pemuda itu menjawab, “Aku bukan orang asing. Aku hanya sedang mencari makanan. Di mana aku bisa membelinya?”

Orang itu pun mengantarnya ke pasar tempat orang menjual makanan. Setelah memilih, pemuda itu mengeluarkan uang dari sakunya untuk membayar. Namun, penjual makanan itu kaget saat melihat uang tersebut adalah uang kuno yang sudah tidak berlaku lagi—uang yang beredar tiga ratus tahun yang lalu.

Penjual itu pun mengira pemuda tersebut menemukan harta karun. Orang-orang di sekitar pasar segera berkumpul mengelilinginya, ingin tahu dari mana ia mendapatkan uang itu.

Dengan bingung, pemuda gua itu berkata, “Aku tidak menemukan harta karun seperti yang kalian pikirkan. Uang ini berasal dari temanku. Aku hanya ingin membeli makanan. Kenapa kalian heran dan berpikir macam-macam tentang aku?”

Karena takut rahasianya terbongkar dan teman-temannya diketahui sedang bersembunyi dari raja, pemuda itu berusaha melarikan diri. Namun, orang banyak menghalanginya. Mereka berbicara dengan sopan, ingin mendengar penjelasan lebih lanjut darinya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 434.

Dari percakapan yang berlangsung, orang-orang akhirnya menyadari bahwa pemuda itu adalah salah satu dari para pemuda yang dulu melarikan diri dari kejaran raja tiga abad yang lalu. Mereka mengenali kisah itu karena sudah lama terkenal di antara masyarakat. Dahulu, para pemuda itu melarikan diri karena menolak perintah raja yang kejam, yang memaksa rakyat untuk menyembah patung batu.

Salah satu warga kemudian berkata, “Jangan takut kepada raja yang kamu sebut itu. Raja itu sudah mati tiga ratus tahun yang lalu. Raja yang memerintah sekarang adalah orang beriman dan berhati baik. Ia seiman denganmu. Di mana teman-temanmu yang lain? Bawalah mereka kemari!”

Mendengar hal itu, barulah pemuda tersebut sadar akan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan bukti dan penjelasan yang ada, terbukti bahwa mereka tidak tertidur semalam atau setengah hari, tetapi selama tiga abad lamanya.

Pemuda itu pun segera meminta izin untuk kembali ke gua, agar bisa memberitahu teman-temannya bahwa keadaan sudah aman dan raja yang dulu menindas mereka telah lama tiada. Selain itu, teman-temannya juga sedang kelaparan di dalam gua dan ingin tahu bagaimana keadaan dunia di luar sana.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 435.

Kabar tentang para pemuda itu segera sampai kepada raja saleh—yang sedang menjabat pada masa itu. Sang raja sendiri datang untuk menyambut mereka yang baru keluar dari gua, karena ia ingin melihat wajah dan mendengar kisah para pemuda yang selama ini hanya dikenal lewat cerita rakyat.

Setelah mereka keluar dari gua, raja dan seluruh rakyat menyambut dengan penuh hormat. Raja membawa mereka ke istana dan memberi tempat yang indah untuk beristirahat. Para pemuda itu pun berkata kepada raja, “Kami tidak mengharapkan hidup lebih lama lagi. Kami sudah melewati banyak generasi, semua keluarga kami telah tiada, bahkan kota dan bangunan lama pun telah runtuh. Semua yang kami lihat sekarang serba baru. Kami sudah bersyukur karena melihat raja dan rakyat di negeri ini telah beriman kepada Allah.”

Setelah itu, mereka bersujud dan berdoa agar Allah menurunkan rahmat serta memanggil mereka dengan tenang. Tak lama kemudian, mereka pun wafat dengan damai.

Peristiwa ini semakin menguatkan keyakinan masyarakat bahwa janji Allah itu benar, dan hari kebangkitan juga pasti nyata. Setelah mereka meninggal, penduduk negeri berbeda pendapat tentang cara menghormati mereka.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 436.

Sebagian ingin membangun tugu besar di atas makam mereka sebagai tanda penghormatan. Namun, sebagian lain yang lebih mencintai mereka mengusulkan agar di atas gua itu dibangun masjid, supaya orang bisa beribadah dan mengingat kebesaran Allah di tempat itu. Karena sesungguhnya, penghormatan yang sejati adalah yang mengarahkan hati kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an...", hlm. 437.

Kisah Ashabul Kahfi dalam Al-Qur'an:

  1. Al-Kahfi ayat 9-26

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Thumbnail postingan ini bersumber di: ramadan.inews.id.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)