Bey Arifin - Kisah Nabi Hud: "Seruan Tauhid untuk Kaum 'Ad Sebelum Azab Angin"

Reza
0

Bey Arifin - Kisah Nabi Hud

Nabi Nuh dan para pengikutnya yang beriman diselamatkan Allah dari banjir besar. Semua musuh mereka yang kafir dan jahat telah binasa. Orang-orang yang selamat semakin kuat imannya dan semakin yakin pada ajaran Nabi Nuh. Mereka terus bersyukur dan beribadah kepada Allah yang telah menyelamatkan mereka. Hati mereka penuh dengan rasa takjub akan kebesaran dan kekuasaan Allah.

Berabad-abad lamanya manusia hidup damai, beriman, dan bahagia. Namun, setelah waktu berlalu, keturunan mereka mulai melupakan ajaran Nabi Nuh dan para leluhur yang beriman. Karena kurangnya pengajaran, pengaruh kehidupan yang makin sibuk, dorongan ekonomi dan keinginan duniawi, serta godaan setan, akhirnya manusia kembali lupa kepada Allah, Sang Pencipta.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 61.

Setelah jumlah mereka bertambah banyak, manusia menyebar ke berbagai tempat, membentuk suku dan bangsa yang berbeda-beda. Mereka hidup dengan adat dan kebiasaan masing-masing, hingga tak lagi saling mengenal. Setiap kelompok ingin menjadi yang paling kaya dan paling kuat. Akibatnya, yang kaya menindas yang miskin, dan yang kuat menekan yang lemah.

Ketika keimanan kepada Allah hilang, lenyap pula ketenangan, keamanan, dan kebahagiaan. Muncullah berbagai maksiat, kejahatan, serta kepercayaan yang menyesatkan. Dalam kekacauan itu, manusia berusaha mencari keselamatan dengan caranya sendiri. Karena sudah melupakan Allah, mereka membuat patung dan berhala, lalu menganggapnya bisa memberi perlindungan dan pertolongan.

Lama-kelamaan, patung-patung itu mereka hormati, puji, dan akhirnya disembah sebagai “tuhan”. Sejarah pun berulang seperti setelah wafatnya Nabi Nuh, tanpa ada bedanya.

Kaum yang paling durhaka pada masa itu disebut bangsa ‘Ad. Mereka tinggal di daerah Ahqaf, wilayah antara Yaman dan Oman saat ini.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 62.

Bangsa ‘Ad terkenal sebagai kaum yang bertubuh besar dan sangat kuat. Mereka hidup di tanah yang subur, dengan sungai dan mata air yang mengalir ke kebun-kebun luas, sehingga hasil panen mereka melimpah. Kekayaan itu membuat mereka mampu membangun rumah dan istana megah. Namun, karena terlalu makmur dan bahagia, mereka lupa asal-usulnya dan lupa kepada Allah, sumber segala nikmat.

Mereka justru menyembah batu-batu yang mereka pahat menjadi patung, berterima kasih kepadanya atas rezeki yang didapat, dan memohon pertolongan saat kesulitan.

Selain sesat dalam kepercayaan, mereka juga berbuat jahat di muka bumi. Kaum yang kuat menindas yang lemah, sehingga hanya orang berkuasa yang hidup senang, sedangkan yang lemah menderita.

Karena itu, Allah mengutus seorang nabi dari kalangan mereka sendiri — Nabi Hud, yang dikenal sabar, penyayang, dan berbudi luhur — untuk membimbing mereka kembali ke jalan yang benar.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 63.

Nabi Hud mengajarkan kepada kaum ‘Ad tentang Tuhan yang sebenarnya, yaitu Allah Swt. Ia menjelaskan bahwa batu-batu yang mereka sembah tidak memiliki kekuatan apa pun—tidak bisa memberi manfaat, menolak bahaya, atau berbuat apa-apa. Hanya Allah yang pantas disembah, karena Dialah yang menciptakan mereka, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, serta menumbuhkan tumbuhan di bumi.

Namun, seperti halnya kaum Nabi Nuh, kaum ‘Ad tidak mau mendengarkan ajaran Nabi Hud. Mereka malah membanggakan harta dan kecerdasan mereka.

Nabi Hud memperingatkan bahwa kelak, semua manusia yang sudah mati akan dibangkitkan kembali dan diadili atas perbuatan baik dan jahatnya. Orang jahat akan disiksa, sedangkan orang baik akan masuk surga.

Ajaran itu justru ditertawakan. Mereka berkata, “Mana mungkin orang yang sudah mati dan menjadi tanah bisa hidup lagi? Hidup hanya di dunia ini—senang dan susah hanya di sini.”

Nabi Hud kemudian mengingatkan tentang azab Allah yang pernah menimpa kaum Nabi Nuh, tetapi mereka tidak percaya dan menganggapnya dongeng belaka. Bahkan, mereka menuduh Nabi Hud bodoh.

Mereka berkata, “Apa kelebihanmu dibanding kami? Engkau makan dan minum seperti kami, hidup juga seperti kami. Tak ada bedanya. Mengapa engkau mengaku diutus oleh Allah? Kami pun bisa saja diutus. Perkataanmu hanyalah dusta belaka.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 64.

Meskipun sering ditolak, Nabi Hud tidak pernah putus asa mengajak kaumnya untuk kembali ke jalan Allah. Tahun demi tahun berlalu, bahkan hingga ratusan tahun, namun hanya sedikit yang mau mengikuti ajarannya.

Sebagian besar kaum ‘Ad tetap ingkar dan terus berbuat jahat. Mereka melakukan apa pun sesuka hati, tanpa peduli pada siapa pun. Kesombongan mereka sudah begitu besar hingga tak bisa dikendalikan lagi.

Suatu hari, muncul awan hitam tebal membentang di langit. Semua orang keluar rumah untuk melihatnya. Mereka berkata, “Itu awan hujan! Sebentar lagi tanaman kita akan disiram dan ternak kita mendapat air.”

Namun Nabi Hud berkata, “Itu bukan awan rahmat, tapi awan azab. Ia membawa angin kencang yang akan memusnahkan kalian.”

Tak lama kemudian, angin dahsyat pun berembus dengan kekuatan luar biasa. Hewan-hewan mereka terlempar entah ke mana. Ketakutan melanda, mereka berlari ke rumah dan menutup pintu rapat-rapat. Mereka menggunakan tenaga besar mereka untuk menahan pintu dan menjaga rumah agar tidak diterbangkan angin.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 65.

Selama tujuh malam delapan hari, angin azab itu berhembus sangat kencang. Bukan hanya manusia, hewan, dan tumbuhan yang hancur, bahkan batu besar dan gunung pun lenyap tersapu angin — apalagi patung-patung yang dulu mereka sembah. Begitulah nasib kaum yang sombong dan durhaka. Allah berfirman, “Allah tidak akan membinasakan suatu negeri jika penduduknya berbuat baik.”

Namun ajaibnya, Nabi Hud dan para pengikutnya sama sekali tidak terkena dampak angin itu. Mereka tetap aman di rumah masing-masing selama bencana berlangsung. Setelah negeri itu hancur, Nabi Hud dan pengikutnya pindah ke daerah Hadramaut. Di sanalah beliau hidup hingga wafat.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 66.

Kisah Nabi Hud dalam Al-Qur'an:

  1. Al-A'raf ayat 65-72.
  2. Hud ayat 50-60.
  3. Asy-Syu'ara ayat 123-140.

Bey Arifin - Kisah Nabi Nuh

Thumbnail postingan ini bersumber di www.surau.co.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)