Menurut Hisyam bin Muhammad bin As-Saib Al-Kalbi, Nabi Adam dan Siti Hawa pertama kali diturunkan ke bumi di sebuah pegunungan subur bernama Gunung Nuth, yang terletak di India. Sementara menurut Ahmad Zaki, nama asli gunung itu adalah Gunung Rahuun. Di tempat itulah Adam dan Hawa hidup dan memiliki keturunan.
Di antara keturunan mereka, ada yang hidup berpindah-pindah untuk mencari tempat yang lebih baik—baik karena ingin udara yang lebih sejuk maupun penghidupan yang lebih mudah.
Lama-kelamaan, jumlah manusia semakin banyak, dan mereka menyebar ke berbagai arah: timur, barat, utara, dan selatan.
Beberapa abad kemudian, bumi menjadi semakin ramai. Pada abad pertama hingga kelima, menurut Said yang meriwayatkan dari Qatadah (sahabat Rasulullah Saw.), manusia hidup dalam keadaan aman dan tenteram, serta tetap berpegang pada ajaran Nabi Adam dan Hawa. Mereka menjaga agar keturunan mereka tidak tersesat seperti kisah Qabil dan Habil dahulu.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 51.
Namun pada abad-abad berikutnya, kira-kira keturunan kelima atau keenam dari Nabi Adam dan Hawa, manusia mulai menyimpang dari ajaran nenek moyang mereka. Mereka melupakan ajaran kebenaran dan mulai terjadi kekacauan serta perselisihan di antara mereka.
Diriwayatkan oleh Athiyyah dari Ibnu Abbas ra. bahwa ketika Nabi Adam wafat, semua manusia masih baik dan beriman. Tapi setelah itu, kebanyakan dari mereka menjadi seperti hewan—hidup tanpa akal dan petunjuk.
Karena itulah Allah mengutus para nabi dan rasul untuk membimbing manusia dengan membawa kabar gembira dan peringatan. Nabi pertama setelah Adam adalah Nabi Idris as., yang diutus sekitar enam abad kemudian. Namun, kaum Nabi Idris tidak mempercayainya hingga akhirnya beliau diangkat oleh Allah ke tempat yang tinggi.
Setelah Nabi Idris wafat, manusia kembali terbagi dua: ada yang kafir dan berbuat jahat seperti binatang, ada juga beberapa orang saleh yang dicintai masyarakat karena kebaikan mereka. Di antara orang-orang saleh itu ada lima yang terkenal: Wad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.
Menurut Hisyam, kelima orang saleh ini meninggal dunia hampir bersamaan dalam waktu sebulan, dan hal itu membuat banyak orang berduka. Salah seorang kerabat mereka kemudian mengusulkan agar dibuatkan patung-patung yang menyerupai kelima orang baik itu, sebagai kenang-kenangan untuk mengobati kerinduan. Usul ini diterima dengan gembira, lalu dibuatlah patung-patung mereka oleh para pemahat.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 52.
Mereka kemudian membuat lima patung pertama di dunia, masing-masing diberi nama sesuai dengan orang saleh yang sudah meninggal: Wad, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Awalnya, patung-patung itu hanya dibuat untuk dikenang. Orang-orang sering datang melihatnya, bahkan memberi penghormatan dengan kata-kata tertentu. Begitulah keadaan di abad pertama.
Namun, pada abad kedua, penghormatan terhadap patung-patung itu semakin meningkat. Mulai muncul berbagai cerita dan dongeng tentang patung-patung tersebut, yang membuat banyak orang semakin terpengaruh. Di abad ketiga, muncul kepercayaan mistik bahwa patung-patung itu bisa memberi manfaat dan pertolongan (syafaat). Akhirnya, orang-orang mulai menyembah dan memuja patung-patung itu seperti tuhan.
Menurut Ibnu Kalbi dari Ibnu Shalih, berdasarkan riwayat Ibnu Abbas ra., jarak antara masa Nabi Adam dan Nabi Nuh adalah sekitar 12 abad. Pada abad ke-12 itu, hampir seluruh manusia sudah menyembah berhala. Karena itulah Allah mengutus Nabi Nuh as. untuk memperbaiki keimanan manusia yang telah menyimpang.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 53.
Menurut Al-Qur’an, umur Nabi Nuh adalah 950 tahun. Beliau mulai diutus menjadi nabi dan rasul saat berusia 480 tahun, dan berdakwah selama sekitar 500 tahun hingga wafat. Selama itu, Nabi Nuh tak pernah lelah mengajak kaumnya meninggalkan penyembahan berhala dan kembali menyembah Allah. Namun, hasilnya sangat sedikit — hanya sekitar 70 hingga 80 orang yang mau beriman, kebanyakan dari kalangan lemah dan miskin.
Nabi Nuh dikenal sabar, tenang, pandai berbicara, dan cerdas dalam berpikir. Tapi, setiap kali beliau mengingatkan kaumnya tentang azab Allah, mereka justru menolak, menutup telinga, dan mengejeknya. Saat diberi kabar tentang surga, mereka malah menyombongkan diri dan membantah.
Meski begitu, Nabi Nuh tidak pernah menyerah. Selama ratusan tahun, beliau terus berdakwah dengan penuh kesabaran, memberikan penjelasan yang jelas, berbicara dengan bijak, dan menyampaikan berbagai bukti tentang kebesaran dan keesaan Allah — melalui langit dan bumi, siang dan malam, laut dan daratan.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 54.
Hanya sedikit orang yang percaya kepada Nabi Nuh dan mengikuti ajarannya — tidak sebanding dengan banyaknya manusia di masa itu dan usaha besar yang telah beliau lakukan. Jumlah pengikutnya tidak lebih dari 80 orang, sedangkan yang lain tetap ingkar, sombong, dan suka mengejek.
Penentangan mereka malah semakin keras. Mereka berkata kepada Nabi Nuh, “Engkau hanyalah manusia biasa seperti kami. Lagi pula, pengikutmu hanyalah orang-orang miskin dan bodoh. Sedangkan kami ini orang-orang terpandang dan cerdas. Engkau pun tidak lebih hebat dari kami dalam hal harta, akal, atau kedudukan. Bahkan, kami menganggapmu hanya seorang pendusta.”
Nabi Nuh menjawab dengan tegas, “Apakah kalian bisa menghentikan matahari dengan kepandaian kalian? Mencapai bintang dengan tangan kalian? Atau hidup tanpa udara yang diciptakan Allah? Semua itu bukti bahwa hanya Allah yang berkuasa.”
Namun mereka tetap menolak dan berkata, “Kalau kau memang mencintai manusia, cintailah saja para pengikutmu. Biarkan kami, karena kami tidak akan mengikuti mereka. Kami tak bisa menerima ajaran yang menyamakan raja dengan rakyat, orang kaya dengan orang miskin, dan orang mulia dengan orang hina.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 55.
Nabi Nuh menjawab, “Agama ini untuk semua orang — baik yang pintar maupun bodoh, raja maupun budak, orang kaya maupun miskin.”
Perdebatan pun makin panas. Namun, Nabi Nuh tetap sabar dan tenang. Akhirnya, kaumnya berkata dengan kesal, “Hai Nuh, cukup sudah perdebatan ini! Jika kau benar, datangkanlah azab yang kau ancamkan itu!”
Dengan sabar Nabi Nuh berkata, “Sungguh, kalian orang-orang yang bodoh sekali. Kalian malah meminta datangnya azab, padahal itu berarti menolak rahmat Allah. Ketahuilah, Allah berkuasa atas segala sesuatu. Jika Dia menghendaki, azab itu bisa datang kapan saja, dan saat itu kalian pasti menyesal.”
Setelah semua upaya gagal, Nabi Nuh berdoa dengan penuh haru. Ia memohon ampun atas kelemahannya dan meminta petunjuk baru dari Allah.
Lalu Allah menurunkan wahyu kepadanya, “Tidak akan ada lagi yang beriman dari kaummu selain mereka yang sudah beriman. Janganlah engkau bersedih atas perbuatan mereka.”
Akhirnya, Nabi Nuh berdoa, “Ya Allah, jangan biarkan satu pun dari orang-orang ingkar itu tinggal di bumi. Jika Engkau biarkan, mereka hanya akan menyesatkan hamba-hamba-Mu dan melahirkan keturunan yang jahat dan ingkar.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 56.
Doa Nabi Nuh dikabulkan Allah. Allah berfirman, “Buatlah kapal dengan petunjuk dan pertolongan-Ku. Janganlah kau minta aku selamatkan orang-orang zalim — mereka akan tenggelam.”
Nabi Nuh pun mulai membuat kapal dari kayu dan paku di dekat kota. Banyak orang yang lewat menertawakan dan mengejeknya. Mereka berkata, “Kau mengaku nabi, kok sekarang jadi tukang kayu? Untuk apa kapal itu — di sini kan tak ada laut atau sungai! Nanti mau ditarik pakai lembu atau diterbangkan?”
Walau diejek, Nabi Nuh terus bekerja. Ia hanya berkata bahwa kelak orang-orang yang mengejek akan tahu nasib mereka ketika siksaan datang.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 57.
Nabi Nuh dan para pengikutnya terus bekerja sampai kapal itu selesai dibuat. Mereka pun menunggu perintah Allah berikutnya. Lalu Allah memerintahkan Nuh, bahwa saat azab datang nanti, ia harus segera naik ke kapal bersama semua orang beriman dan membawa setiap jenis hewan secara berpasangan.
Kemudian langit terbuka dan hujan turun sangat deras, sementara dari bumi memancar air yang banyak sekali. Dalam waktu singkat, seluruh bumi pun tertutup banjir besar.
Air terus naik hingga menenggelamkan rumah-rumah dan bukit-bukit. Nabi Nuh dan pengikutnya sudah berada di atas kapal mereka.
Orang-orang kafir panik dan berlari ke sana kemari, menjerit ketakutan seperti keledai yang dikejar singa. Ada yang naik ke atap rumah, ada yang memanjat pohon, ada pula yang berenang ke arah bukit tinggi—tapi akhirnya semuanya tenggelam juga.
Dari atas kapalnya, Nabi Nuh melihat anaknya yang bernama Kan’an—anak yang durhaka—sedang berusaha menyelamatkan diri. Karena rasa sayang, Nabi Nuh memanggilnya, “Wahai anakku, naiklah bersama kami! Jangan ikut bersama orang-orang kafir itu!”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 58.
Seruan terakhir Nabi Nuh di saat genting itu tidak digubris oleh anaknya. Anak yang durhaka itu tetap keras kepala dan percaya bisa menyelamatkan diri dengan usahanya sendiri. Dengan sombong ia menjawab, “Aku akan naik ke puncak gunung yang tinggi. Di sana aku akan aman dari banjir ini.”
Nuh berkata lagi dengan sedih, “Hari ini tidak ada yang bisa menyelamatkan siapa pun dari azab Allah, kecuali Dia yang Maha Pengasih.”
Namun, anak itu akhirnya terseret ombak besar dan tenggelam.
Nabi Nuh hanya bisa memandang dengan sedih lalu berkata, “Ya Allah, bukankah dia anakku juga?”
Allah pun memberi wahyu kepada Nuh, menjelaskan bahwa anak itu bukan lagi termasuk keluarganya, karena ia kafir dan durhaka. Allah berfirman, “Kami hanya menolong orang-orang yang beriman.” Lalu Allah mengingatkan Nuh agar tidak lagi memohon sesuatu yang tidak diketahuinya, “Aku ajari engkau, wahai Nuh, tentang apa yang belum engkau ketahui.”
Mendengar itu, Nabi Nuh sadar dan menyesali permintaannya. Ia menengadahkan tangan dan berdoa, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu atas permohonan yang aku ucapkan tanpa pengetahuan. Jika Engkau tidak mengampuniku, aku akan termasuk orang yang rugi.”
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 59.
Banjir besar dengan gelombang yang dahsyat itu menenggelamkan semua orang yang ingkar. Setelah itu, langit berhenti menurunkan hujan dan bumi menyerap air yang menutupi permukaannya. Kapal Nabi Nuh pun akhirnya berhenti di puncak Gunung Judy, tempat yang hingga kini masih dicari jejak peninggalannya oleh para peneliti.
Setelah banjir surut, Nabi Nuh dan para pengikutnya kembali ke kampung halaman mereka, menikmati udara baru yang dipenuhi berkah dan rahmat Allah.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 60.
Kisah Nabi Nuh dalam Al-Qur'an:
- Ali-'Imran ayat 33.
- An-Nisa' ayat 163.
- Al-An'am ayat 84.
- Al-A'raf ayat 59-64.
- Yunus ayat 71-73.
- Hud ayat 25-49.
- Al-Anbiya ayat 76-77.
- Al-Furqan ayat 38.
- Asy-Syu'ara ayat 105-122.
- Al-Ankabut ayat 14-15.
- Ash-Shaffat ayat 71-83.
- Nuh ayat 1-28.
- Al-Qamar ayat 9-16.
- Al-Mukminun ayat 23-31.
- Al-Mukmin ayat 5-6.
Thumbnail postingan ini adalah lukisan Clay Hibbard yang berjudul "Noah's Ark" (Bahtera Nuh).
