Zulkarnain lahir di Makedonia. Sejak muda, ia dikenal cerdas, berpikiran luas, dan menguasai banyak ilmu — mulai dari ilmu perang, pemerintahan, teknik, hingga kimia. Sejak kecil, ia tidak suka melihat peperangan yang terus terjadi antara Timur (Kerajaan Persia) dan Barat (Kerajaan Romawi). Perang yang berlangsung tanpa henti selama bertahun-tahun itu telah menewaskan ribuan orang, menghancurkan harta benda, dan merusak bumi.
Karena itu, Zulkarnain bertekad mendirikan sebuah kerajaan besar yang menyatukan Timur dan Barat agar tidak ada lagi peperangan. Untuk mencapai cita-cita besarnya itu, ia memang memiliki semua syarat yang dibutuhkan: berakhlak baik, berilmu luas, dan ahli dalam bidang militer, pemerintahan, serta teknik.
Ia memulai perjalanannya dengan pasukan yang kuat menuju arah barat, yaitu ke daerah Maghrib (sekarang Maroko), tempat matahari terbenam. Di sana, ia melihat matahari seolah-olah terbenam di mata air yang gelap — yang kini dikenal sebagai Samudra Atlantik.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 421.
Di tempat itu, hidup sebuah bangsa yang sangat jahat dan kafir. Mereka menimbulkan kerusakan besar di bumi — tidak hanya menghancurkan alam, tetapi juga terbiasa membunuh orang-orang tak bersalah.
Sebelum bertindak, Zulkarnain menengadahkan tangan ke langit dan berdoa, memohon petunjuk Allah: apakah bangsa sekejam itu harus diperangi habis-habisan, atau cukup diberi nasihat dan diajarkan kebenaran?
Allah memberi kebebasan kepada Zulkarnain untuk memilih: memerangi mereka sebagai balasan atas kejahatan mereka, atau mencoba memperbaiki mereka dengan dakwah dan pendidikan.
Akhirnya, Zulkarnain memutuskan untuk memerangi orang-orang yang jahat dan melindungi mereka yang baik. Ia berkata kepada rakyat negeri itu, “Siapa yang berbuat zalim akan kami hukum dan kelak akan menerima azab Allah yang lebih berat. Tapi orang-orang yang baik dan saleh akan kami lindungi dan beri balasan yang layak, serta hanya diberi tugas-tugas ringan.”
Pasukan Zulkarnain pun bergerak, menumpas orang-orang jahat dan melindungi yang baik. Akhirnya, negeri itu kembali aman, tertib, dan hidup dalam kedamaian serta kemakmuran.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 422.
Setelah menyelesaikan tugasnya di negeri itu, Zulkarnain dan pasukannya melanjutkan perjalanan ke arah timur, menuju India. Di sana, ia melihat matahari terbit di atas bangsa yang masih hidup sederhana dan belum berpakaian lengkap (bangsa Hindustan).
Bangsa itu berhasil ia taklukkan dan atur dengan baik. Negeri mereka menjadi aman, tenteram, dan makmur. Rakyatnya pun terbebas dari kebodohan dan kesesatan.
Setelah tugasnya di sana selesai, Zulkarnain bergerak ke utara, melewati Persia dan Azerbaijan hingga sampai di wilayah Armenia. Dalam perjalanan itu, ia terus meraih kemenangan demi kemenangan. Di sana, ia menemukan sebuah bangsa yang tinggal di antara dua gunung besar — Gunung Armenia dan Gunung Azerbaijan.
Zulkarnain tidak memahami bahasa mereka, tetapi ia tahu bangsa itu hidup dalam ketakutan. Mereka terus-menerus diserang oleh bangsa Ya’juj dan Ma’juj yang terkenal sangat kuat dan kejam. Bangsa itu sering datang menyerang, menghancurkan apa saja, dan membunuh siapa pun yang mereka temui.
Kedatangan Zulkarnain disambut dengan penuh hormat dan sukacita, karena mereka tahu bahwa ia adalah raja yang kuat dan sangat adil. Mereka memohon pertolongannya agar dilindungi dari serangan Ya’juj dan Ma’juj, dan meminta agar Zulkarnain membangun dinding besar yang tak bisa ditembus antara negeri mereka dengan negeri musuh. Sebagai tanda terima kasih, mereka pun bersedia membayar upah kepada Zulkarnain.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 423.
Mendengar permintaan mereka, Zulkarnain menjawab, “Aku tidak menginginkan upah dari kalian. Pemberian dan nikmat dari Tuhanku jauh lebih berharga. Aku hanya butuh tenaga pekerja dan bahan-bahan seperti besi, tembaga, batu arang, dan kayu.”
Setelah semuanya terkumpul, Zulkarnain bersama para pekerja mulai membangun. Mereka menyalakan api dengan kayu dan arang, lalu melelehkan besi hingga mencair. Setelah itu, mereka mencampurnya dengan tembaga.
Dari campuran itu, Zulkarnain membangun dinding besar antara negeri mereka dan negeri Ya’juj serta Ma’juj — sebuah dinding besi raksasa yang sangat kuat, tak bisa ditembus atau dirusak siapa pun.
Setelah selesai, Zulkarnain berkata kepada mereka, “Dinding ini adalah rahmat dari Allah untuk kalian. Hanya Allah yang bisa menghancurkannya jika Dia menghendaki.”
Dengan begitu, negeri itu pun hidup dalam kedamaian dan keamanan. Zulkarnain terus menaklukkan banyak wilayah — ke timur, barat, utara, dan selatan — hingga kekuasaannya meliputi Maroko, Romawi, Yunani, Mesir, Persia, dan India. Kerajaannya menjadi sangat luas dan makmur, belum pernah ada yang menandinginya.
Berkat pertolongan Allah, cita-cita Zulkarnain pun tercapai karena ia selalu bergantung kepada-Nya. Namun sayangnya, setelah ia wafat, kerajaan besar yang ia bangun menjadi terpecah karena perebutan kekuasaan di antara para pengikutnya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 424.
Zulkarnain, yang berarti raja dari Timur dan Barat, berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan di barat menjadi satu kerajaan yang adil dan makmur. Semua itu tercapai berkat ilmu, pengetahuan, dan keimanannya kepada Tuhan yang menjadi dasar dalam memimpin.
Namun, setelah Zulkarnain wafat, cita-citanya yang suci itu sempat dilanggar oleh penguasa-penguasa berikutnya. Meski begitu, suatu saat nanti cita-cita itu akan terwujud kembali — akan lahir sebuah negeri yang menyatukan timur dan barat, penuh keadilan dan kemakmuran.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 425.
Kisah Zulqarnain (Iskandar Maqduni) dalam Al-Qur'an:
- Al-Kahfi ayat 83-98.
Thumbnail postingan ini adalah Mosaik Aleksander. Mosaik ini diyakini merupakan salinan dari lukisan Yunani kuno yang dibuat oleh Philoxenus dari Eretria atau Apelles.
