Yaman adalah salah satu negara Arab yang paling subur. Hujannya sering turun dan wilayahnya bergunung-gunung. Di sana tumbuh berbagai tanaman yang jarang ada di negara Arab lainnya. Di daerah Yaman yang subur itu, berdirilah sebuah negeri makmur bernama Saba. Karena tanahnya subur dan penduduknya pandai, negeri kecil ini berkembang pesat. Wilayahnya meluas, penduduknya bertambah banyak, dan kehidupannya semakin maju.
Kota Shinvah, yang awalnya kecil dan sepi, berhasil mereka jadikan ibu kota. Tak lama kemudian, ibu kota dipindahkan ke Ma’rib, kota yang lebih teratur dan modern.
Namun, bangsa Saba punya satu masalah besar — air hujan. Karena letak negeri mereka yang tinggi, air hujan sering menggenangi daerah itu. Setelah hujan deras, air cepat mengalir ke wilayah sekitar yang berupa padang pasir, dan segera meresap ke dalam tanah.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 447.
Karena itu, para ahli pengairan bangsa Saba tidak tinggal diam. Mereka terus berpikir dan berusaha mencari cara agar air hujan bisa ditampung dan tidak cepat mengalir ke padang pasir.
Akhirnya, mereka menemukan solusi. Antara dua gunung, mereka menimbun bagian ujung dan pangkalnya hingga terbentuk bendungan besar. Air hujan pun tertampung di antara dua gunung itu, lalu dialirkan ke daerah-daerah yang kekurangan air di sekitar negeri mereka.
Setelah bendungan pertama berhasil dibangun dan membawa banyak manfaat bagi pertanian dan kemakmuran negeri, mereka membangun bendungan-bendungan lain — yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Dalam beberapa tahun saja, hampir semua lembah dan jurang di Negeri Saba berubah menjadi bendungan raksasa yang berguna bagi rakyatnya.
Kemakmuran Negeri Saba pun semakin maju dan kaya. Dari semua bendungan yang ada, Bendungan Ma’rib adalah yang paling besar dan paling kokoh, bahkan terkenal ke seluruh dunia pada masa itu hingga sekarang.
Ilmu teknik bangsa Saba, terutama dalam bidang pengairan, terus berkembang. Negeri itu semakin makmur, dengan kota-kota indah yang dipenuhi rumah dan gedung bagus, dikelilingi perkebunan luas, taman bunga, dan berbagai tanaman yang subur.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 448.
Hasil bumi Negeri Saba melimpah dan tersebar ke seluruh tanah Arab serta negeri-negeri tetangga. Kota-kota mereka ramai didatangi para pedagang dari luar negeri — bukan hanya dari Hijaz, tapi juga dari Syam dan Persia.
Yaman (Saba) menjadi tujuan para pedagang dan pelancong yang ingin menikmati udaranya yang sejuk, buah-buahannya yang segar, dan keramahan penduduknya yang beriman kepada Allah. Negeri ini disebut dalam Al-Qur’an sebagai “Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” artinya negeri yang aman, makmur, dan diberkahi Allah.
Namun, seiring waktu, bangsa Saba berubah. Mereka mulai lupa pada Allah yang telah memberi mereka semua kenikmatan itu. Dulu, mereka selalu bersyukur dan memuji Allah, tapi kini mereka hanya sibuk dengan harta dan kemewahan hidup.
Kejahatan pun mulai merajalela. Negeri yang dulu damai berubah menjadi kacau dan tidak tenteram.
Allah mengutus beberapa nabi dan rasul untuk mengingatkan mereka, tapi mereka menolak dan tidak mau mendengarkan. Akhirnya, setelah semua peringatan diabaikan, Allah menurunkan hukuman dengan mencabut nikmat dan menggantinya dengan azab.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 449.
Bendungan-bendungan besar dan kuat yang dulu mereka bangun dengan susah payah akhirnya runtuh diterjang banjir besar. Air bah itu mengalir ke segala arah, menghancurkan gedung dan rumah, meratakan kebun-kebun, serta menumbangkan pohon-pohon yang dulu penuh buah.
Air itu terus mengalir ke padang pasir di sekitar Negeri Saba dan meresap ke dalam tanah. Negeri yang dulu subur dan bergunung-gunung berubah menjadi padang tandus tanpa air. Tak ada lagi tanaman yang tumbuh, kecuali beberapa tumbuhan liar yang tidak berbuah.
Penduduknya tercerai-berai terbawa air bah. Ada yang terdampar jauh ke negeri Syam, ada yang ke Tihamah, dan ada yang ke Amman. Mereka benar-benar tercerai tanpa arah — kini hanya tinggal kisah dan sejarahnya saja.
Begitulah balasan bagi orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah. Sesungguhnya, Allah tidak akan menyiksa manusia jika mereka tidak ingkar kepada-Nya.
H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 450.
Kisah Air Bah Di Negeri Saba' dalam Al-Qur'an:
- Saba' ayat 15-20.
Thumbnail postingan ini adalah lukisan karya dari Raden Saleh yang berjudul "Banjir di Jawa" atau dalam bahasa Belanda, Eene overstrooming op Java.
