Bey Arifin - Kisah Ashabul Ukhdud (Pembunuhan Kejam Terhadap Orang-Orang Kristen)

Reza
0

Bey Arifin - Kisah Ashabul Ukhdud (Pembunuhan Kejam Terhadap Orang-Orang Kristen)

Kota Shan’a, ibu kota Yaman kuno, saat itu dikuasai oleh Raja Zu Nuwas—seorang penganut Yahudi yang sangat fanatik. Kota itu tengah diselimuti terik matahari yang menyengat, ditambah panas gurun pasir yang membuat hawa sekelilingnya semakin membara. Tak heran jika jalan-jalan tampak sepi; seluruh desa dan kota terasa diam tanpa gerak karena angin pun tak berembus.

Ke mana pun mata memandang, tak terlihat satu pun orang keluar dari rumahnya. Suasana kota itu seperti mati, meski sebenarnya Shan’a adalah kota terbesar dan teramai di dunia Arab pada masa itu.

Tiba-tiba, dari arah utara terlihat seorang laki-laki berjalan menuju pusat kota, ke arah istana raja. Ia tampak datang dari tempat yang sangat jauh, menempuh padang pasir yang panas menyengat di bawah terik matahari.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an: Kisah Nyata Peneguh Iman", Jakarta Selatan: Zahira, 2015, hlm. 439.

Sesampainya di dalam kota Shan’a, langkahnya terhenti. Jantungnya berdebar, matanya memancarkan kebingungan dan keraguan. Ia berjalan tidak tenang, maju mundur tanpa tujuan jelas — seolah menyimpan rahasia besar atau mengurus sesuatu yang sangat penting.

Saat ia mendekati istana, seorang penjaga di gerbang menegurnya, “Mengapa kau datang ke istana di saat terik seperti ini? Semua orang berlindung — bahkan binatang dan burung tidak tampak karena panas.”

Pria itu menjawab, “Aku membawa kabar besar dan urusan penting yang harus kusampaikan kepada Raja Zu Nuwas.”

Penjaga itu mengatakan, “Raja sedang sangat sibuk. Dia tak mungkin menerima siapapun sekarang. Meski baru saja meraih kemenangan atas Syanatir dan mengokohkan kedudukan bangsa Yahudi di Shan’a, kini raja sedang merencanakan perang besar lagi ke negeri-negeri jauh. Tujuannya agar seluruh timur dan barat beragama Yahudi. Malam ini, setelah matahari terbenam dan udara mulai dingin, raja akan keluar ke taman bunga bersama pengiring, para menteri, pembesar kerajaan, dan pemimpin angkatan perang untuk membahas strategi perang itu.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 440.

Mendengar itu, pria itu menjawab, “Tujuan kedatanganku sejalan dengan niat raja. Aku tak akan datang di tengah terik ini kecuali karena urusan agama yang kita cintai. Kalau Tuan bersedia menyampaikan kedatanganku kepada raja, aku yakin raja akan memanggil dan mendengarkan laporanku.”

Sambil menunggu jawaban dari istana, ia berteduh di bawah atap untuk menghindari panas matahari.

Tak lama kemudian Raja Zu Nuwas keluar, diiringi pengawal, pembesar kerajaan, dan kepala staf perang, menuju taman untuk melanjutkan sidang. Seorang pengawal melapor, “Seorang musafir dari Najran ingin bertemu dan membawa kabar penting.”

Musafir itu dipanggil menghadap, lalu memberi laporan: “Wahai rajaku yang mulia! Semoga Allah menjaga Tuan dan kerajaan, serta memberi kekuatan melawan musuh agama kita. Aku tidak datang untuk meminta hadiah. Aku datang untuk memberi kabar dari Najran: telah muncul agama baru yang pengikutnya semakin banyak dan mungkin akan menyebar ke seluruh Yaman—agama yang disebut Nashara (Kristen).”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 441.

Raja terkejut mendengar kabar itu, lalu berkata, “Berita yang kau bawa sungguh mengejutkan. Jelaskan padaku dari awal sampai akhir tentang agama baru itu!”

Musafir itu melanjutkan, “Agama itu berdasarkan ajaran Nabi Isa Al-Masih. Banyak orang yang dulu menyembah berhala kini telah memeluk agama ini. Bahkan beberapa orang Yahudi pun mulai ikut.”

Raja bertanya lagi, “Bagaimana agama itu bisa masuk ke Najran?”

Musafir pun menjelaskan dengan rinci,

“Awalnya ada dua orang datang ke Najran: seorang Romawi bernama Fimiyun dan seorang Arab bernama Shaleh. Fimiyun adalah budak milik seorang penyembah pohon kurma. Ia dikenal baik hati, sabar, dan tak pernah menyakiti siapa pun. Setiap hari ia bekerja rajin, dan setiap sore beribadah di kamarnya dengan khusyuk menyembah Allah.

Suatu malam, tuannya masuk ke kamar Fimiyun dan terkejut melihat kamar itu terang benderang padahal tak ada lampu. Heran, ia bertanya tentang agama Fimiyun. Fimiyun menjawab bahwa ia memeluk agama Nashara, menyembah Allah Yang Maha Esa, dan mengikuti ajaran Nabi Isa Al-Masih.”

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 442.

Fimiyun berkata kepada tuannya, “Kurma yang Tuan sembah itu tidak bisa berbuat apa-apa, juga tak bisa mengabulkan doa. Tapi Allah Yang Maha Esa, Tuhan yang kusembah, mampu mengabulkan doa dan berkuasa atas segalanya. Jika Tuan mau percaya, aku akan berdoa agar Tuan melihat buktinya sendiri.”

Tuannya menjawab, “Baiklah, berdoalah. Jika doamu benar-benar terkabul, aku akan beriman kepada Tuhanmu.”

Fimiyun pun berdoa kepada Allah. Seketika itu juga, semua pohon kurma yang disembah tuannya menjadi kering dan mati.

Berita keajaiban itu segera menyebar ke seluruh daerah. Banyak orang yang semula menyembah berhala beralih memeluk agama Nashara yang dibawa oleh Fimiyun. Bahkan banyak orang Yahudi pun ikut beriman dan meninggalkan agamanya.

Sementara itu, Shaleh — teman Fimiyun — pada awalnya bertemu dengannya di Tanah Syam, tempat kelahiran Nabi Isa Al-Masih. Suatu hari, Shaleh melihat Fimiyun sedang beribadah di padang pasir. Tiba-tiba seekor ular besar mendekat hendak menyerang. Namun Fimiyun tetap tenang dan terus bersembahyang. Shaleh berteriak memperingatkan, tetapi sebelum sempat bertindak, ular itu mati begitu saja. Sejak peristiwa itu, Shaleh memutuskan untuk mengikuti Fimiyun dan membantu perjuangannya.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 443.

Kedua orang itu lalu berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk menyebarkan ajaran mereka. Namun akhirnya mereka ditangkap oleh sekelompok orang Arab dan dijual kepada penyembah pohon kurma—seperti yang sudah diceritakan tadi. Sekarang, agama mereka telah menyebar luas. Aku datang agar raja segera mengambil tindakan terhadap penyebaran agama baru itu.”

Mendengar laporan itu, Raja Zu Nuwas sangat marah. Dadanya membusung, tangannya terangkat tinggi, dan dengan pedang diacungkan ke udara ia bersumpah akan segera berangkat ke Najran untuk menghukum penduduknya yang dianggap murtad, agar mereka kembali ke agama Yahudi.

Tak lama kemudian, pasukan besar Raja Zu Nuwas mengepung seluruh wilayah Najran yang sebenarnya kecil dan sempit. Semua penduduk yang telah memeluk agama Nashara diancam: kembali ke agama Yahudi, atau dibunuh tanpa pandang bulu—baik anak-anak, orang tua, laki-laki, maupun perempuan.

Namun, penduduk Najran tetap teguh mempertahankan iman mereka kepada Allah Yang Maha Esa, meski harus menghadapi kematian.

Melihat penduduk Najran tidak mau menyerah, Raja Zu Nuwas memerintahkan tentaranya menggali sebuah lubang besar dan dalam. Lubang itu diisi kayu kering, lalu dibakar hingga api menyala besar.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 444.

Seluruh penduduk Najran ditangkap dan dikumpulkan di sebuah kampung dekat lubang besar itu. Mereka — tua muda, laki-laki maupun perempuan — diperintahkan satu per satu melompat ke dalam lubang berapi untuk mengakhiri hidup mereka.

Namun penduduk Najran yang beriman tetap tenang dan sabar. Tak ada rasa takut atau sedih. Karena keyakinan mereka begitu kuat, panasnya api terasa seperti hembusan angin sejuk. Bahkan mereka saling berlomba menjatuhkan diri ke dalam api, yakin bahwa di balik kobaran itu menanti surga yang dijanjikan Allah kepada mereka.

Sementara itu, Raja Zu Nuwas duduk bersama pasukan dan para pembesarnya di kursi-kursi yang disiapkan, menonton peristiwa itu dengan tawa dan kepuasan. Mereka merasa bangga bisa mempertahankan agama mereka dengan cara seperti itu.

Akhirnya, seluruh penduduk Najran yang beragama Nashara habis terbakar api. Yang tersisa hanyalah segelintir orang Yahudi, seagama dengan raja yang kejam itu. Tapi mereka tidak sadar bahwa cara mereka mempertahankan keyakinannya adalah kesalahan besar. Di akhirat nanti, Allah akan memasukkan mereka satu per satu ke dalam api neraka, sementara orang-orang Najran yang beriman akan bersuka cita di surga, menyaksikan mereka dari jendela-jendela kenikmatan.

H. Bey Arifin, "Rangkaian Cerita Al-Qur'an..., hlm. 445.

Kisah Ashabul Ukhdud dalam Al-Qur'an:

  1. Al-Buruj

H. Bey Arifin - Kisah Nabi Adam

Thumbnail postingan ini bersumber di: izdeen.com.

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)