Kisah Lelaki Alim Penebang Kayu dan Bujuk Rayu Iblis

Reza
0

Kisah Lelaki Alim Penebang Kayu dan Bujuk Rayu Iblis

Pada zaman dahulu kala, di sebuah perkampungan—di tengah hutan, terdapat sebuah pohon raksasa. Batangnya menjulang, cabangnya membentang bagaikan tangan raksasa, dan akarnya seolah mencengkeram bumi. Pohon itu bukan pohon biasa—ia dikeramatkan, disembah, dan diagungkan oleh penduduk kampung itu. Ritual dilakukan pada malam hari dengan menyalakan dupa, membakar sesaji, dan berlutut dengan wajah penuh takzim di hadapan batang yang bisu itu.

Ada seorang lelaki yang dadanya bergejolak. Ia muak melihat manusia bersujud pada sebongkah pohon tua, alih-alih kepada Allah. Dengan tekad menyala, ia berkata dalam hati: “Demi Allah, pohon ini harus tumbang!”

Pagi hari setelah melaksanakan ibadah solat Subuh, berbekal kapak, ia melangkah ke hutan dengan wajah tegang. Langkahnya cukup berat, tapi ia harus melakukan ini, demi keesaan Allah. Iblis yang melihat rencana lelaki itu tidak bisa tinggal diam. Dengan penuh tipu daya, iblis menjelma menjadi seorang pria tua berwajah ramah, dan segera menghentikan si lelaki di tengah jalan.

“Uhuk-uhuk,” lelaki itu terperanjat mendengar suara batuk kakek tua di belakangnya. “Apa yang hendak engkau lakukan?” tanya pak tua.

Lelaki itu tak takut. “Aku akan menebang pohon sesat itu!” jawabnya lantang, nadanya gemetar karena amarah dan semangat.

Pak tua tersenyum tipis. “Apa ruginya bagimu jika orang-orang menyembahnya? Engkau tidak ikut sujud, bukan? Biarkan saja mereka dengan keyakinannya.”

Lelaki itu mengepalkan tangan. “Demi Allah, aku tetap akan menebangnya!”

Iblis—yang masih menjelma sebagai pak tua—pun mengubah siasatnya. Dengan suara halus penuh rayuan ia berkata, “Jika begitu, dengarlah. Aku akan memberimu sesuatu yang lebih baik. Setiap pagi, di bawah bantalmu akan ada uang dua ratus ribu. Kumpulkan uang itu, dan belikan alat yang lebih baik daripada kapak itu. Pekerjaanmu akan jadi lebih mudah. Bukankah itu lebih efektif?”

Lelaki itu terdiam. Ia menatap tajam, lalu bertanya, “Siapa yang menjaminnya?”

“Aku,” jawab Iblis mantap.

Godaan uang itu akhirnya meruntuhkan tekadnya. Ia pulang, meninggalkan pohon itu sementara waktu. Benar saja, keesokan paginya ia menemukan uang dua ratus ribu di bawah bantalnya. Hatinya berbunga. Hari berikutnya, uang dua ratus ribu keluar lagi dari bawah bantalnya. Pada hari ketiga uang itu tidak muncul. Amarahnya membara.

Dengan murka, ia bergegas kembali membawa kapak, “Jika uang itu tak ada lagi, maka pohon itu harus tumbang!”

Namun, sekali lagi Iblis menghadangnya, dengan wujud yang sama. “Ke mana engkau hendak pergi?” tanyanya.

“Aku akan menebang pohon laknat itu!” teriak lelaki itu penuh amarah.

“Hahaha!” Kali ini Iblis tertawa kencang. “Tidak! Engkau tidak bisa!”

Lelaki itu mengabaikan si pak tua. Ia terus melangkah maju. Namun seketika tubuhnya dibanting. Iblis mencekik lehernya dengan kekuatan yang mengerikan. Nafas lelaki itu hampir putus, pandangannya berkunang-kunang. Di sela desah nafas terakhir, Iblis mendesis, “Ketahuilah, dulu engkau datang dengan niat karena Allah, maka aku tak berdaya melawanmu. Tapi ketika engkau datang bukan lagi untuk Allah, melainkan untuk uang, aku bisa mengalahkanmu.”

Suara Iblis bagai racun yang menyusup ke telinga. Lelaki itu pun tersadar, namun sudah terjerat oleh tipu daya. Tak ada yang mampu menandingi niat yang murni karena Allah. Maka renungilah lagi hidup ini, dan untuk apa kita menjalaninya.


*Sumber thumbnail postingan ini: www.absolutearts.com—Karya lukisan Don Schaeffer, "Big Tree At Kings Park" (2011).

Tags

Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)